Menelisik Kehidupan Para Gadis Afghanistan Bergender Laki-Laki
2018 / Maret / 12   19:49

Menelisik Kehidupan Para Gadis Afghanistan Bergender Laki-Laki

Praktik budaya "bacha posh" mendorong para orang tua untuk mendandani anak perempuan mereka sebagai anak laki-laki untuk masa depan yang lebih baik.

Menelisik Kehidupan Para Gadis Afghanistan Bergender Laki-LakiAli yang berusia empat belas tahun dibesarkan sebagai anak laki-laki dalam sebuah praktik yang dikenal di Afghanistan sebagai bacha posh. Saudari Ali berdiri di belakangnya, di dalam kamar mereka. (Loulou D'aki, National Geographic)

Di beberapa sudut negara Afghanistan, ada beberapa anak perempuan yang menikmati kebebasan yang sama seperti anak laki-laki. Sepanjang sejarah, mereka menyamar sebagai laki-laki untuk menavigasi peran sosial yang mengakar.

Mereka berpakaian seperti laki-laki untuk berperang, bergabung dengan ordo religius, atau menjadi makmur secara profesional. Di Afghanistan, beberapa keluarga membesarkan anak perempuan mereka sebagai anak laki-laki untuk memberi mereka kehidupan yang lebih baik.

"Bila suatu gender sangat penting dan yang lainnya tidak diinginkan, selalu ada orang yang mencoba melintas ke sisi lain," kata Najia Nasim, direktur negara Afghanistan untuk Women for Afghan Women yang berbasis di AS.

Artikel terkait: Mengartikan Kembali Gender

Setar dan Ali berbicara kepada ...Setar dan Ali berbicara kepada anak-anak yang mengomentari penampilan mereka di luar sekolah. "Orang-orang mendatangi saya dan bertanya mengapa saya berpakaian seperti anak laki-laki," kata Setar. (Loulou D'aki, National Geographic)

Di masyarakat patriarkal Afghanistan, ketergantungan ekonomi pada laki-laki dan stigma sosial membuat orang tua berada dalam posisi yang sulit. Anak perempuan sering dianggap sebagai beban, sementara anak laki-laki akan menghasilkan uang, meneruskan warisan keluarga dan tinggal di rumah untuk merawat orang tua mereka yang sudah lanjut usia.

Untuk mengatasi hal ini, beberapa orang mengubah “konsep anak perempuan” mereka saat lahir dalam sebuah praktik yang dikenal sebagai "bacha posh." Bahkan, ada rumor bahwa seorang anak perempuan bacha akan melahirkan seorang anak laki-laki pada kehamilan berikutnya.

"Tradisi ini memungkinkan keluarga untuk menghindari stigma sosial yang terkait dengan tidak memiliki anak laki-laki. Anak perempuan Bacha memungkinkan untuk pergi berbelanja sendiri, membawa saudara perempuan mereka dari sekolah, mendapatkan pekerjaan, bermain olahraga dan memainkan peran lain pada anak laki-laki di masyarakat," kata Nasim. Asal-usul praktik masih belum diketahui, tetapi budaya ini menjadi semakin terkenal.

Setar dan Ali pergi berbelanja ...Setar dan Ali pergi berbelanja pakaian. (Loulou D'aki, National Geographic)

Pada musim panas 2017, fotografer Swedia Loulou d'Aki pergi ke Afghanistan untuk mendokumentasikan bacha posh. Dia telah membaca The Underground Girls of Kabul, sebuah buku dari jurnalis Jenny Nordberg tentang praktik rahasia berpakaian gadis-gadis itu sebagai anak laki-laki. Nordberg adalah orang pertama yang mendokumentasikannya, dan d'Aki terpesona oleh identitas ganda gadis-gadis ini.

Melalui penerjemah lokal, dia bertemu dengan sebuah keluarga di mana dua dari enam anak perempuan dibesarkan sebagai anak laki-laki. Suatu hari, setelah Setareh lahir—anak perempuan ketiga—orang tuanya memutuskan untuk membesarkannya sebagai Setar, anak laki-laki. Dua tahun kemudian, Ali lahir dan dia juga dibesarkan sebagai anak laki-laki. Saat saudara laki-laki mereka yang pertama dan satu-satunya lahir berikutnya, keduanya melanjutkan hidup sebagai anak laki-laki.

Artikel terkait: Kode Warna dalam Gender

Kini Setar berusia 16 tahun yang bermain sepakbola dan memiliki pacar yang tidak peduli dengan gender Setar. Saudaranya Ali, 14, memiliki sekotak surat cinta yang ditulis oleh para pengagum wanitanya. Di rumah, tidak ada yang bangun untuk membantu saat saudara perempuan dan ibu mereka membuat makanan dan teh.

Setar dan pacarnya Arezou ...Setar dan pacarnya Arezou sedang berbincang di ruang tamu. Orangtua mereka telah melarang mereka untuk saling bertemu, tetapi Arezou mengatakan bahwa dia tidak peduli jika Setar adalah anak perempuan atau laki-laki. (Loulou D'aki, National Geographic)

"Anak laki-laki memiliki status lebih tinggi. Semua orang menginginkan anak laki-laki," ujar d'Aki. Terutama di keluarga berpenghasilan rendah, dia menambahkan, "Jika Anda memiliki banyak anak perempuan dan tidak ada anak laki-laki, itu hal yang biasa dilakukan."

Namun, seiring bertambahnya usia dan pubertas mengungkap jenis kelamin mereka, hidup justru menjadi lebih sulit dan berbahaya. Keluarga tersebut telah berkali-kali pindah untuk menghindari gangguan dan intimidasi.

Di jalanan, orang-orang berteriak bahwa mereka anti-Islam dan menyebut mereka transeksual. Ayah mereka mengantar Ali ke sekolah sehingga dia sampai di sana dengan selamat, dan sosok Setar pun telah “tiada”. “Karena dia sudah muak dengan namanya," ucap d'Aki.

Potret-potret Setar muda. Beberapa potret Setar muda. "Kami tidak memiliki anak laki-laki, jadi kami memutuskan untuk membuatnya seperti anak laki-laki tepat setelah ia lahir," kata ibu Setar. "Sekarang saya merasa sedih dengan bagaimana orang memperlakukannya, mengganggunya karena cara berpakaiannya." (Loulou D'aki, National Geographic)

Kedua orang tua mereka sekarang ingin mereka mulai berpakaian dan berperilaku seperti anak perempuan, tetapi Ali maupun Setar tidak menginginkannya. "Sangat sulit menjadi perempuan di Afghanistan, dan Anda tidak memiliki banyak pilihan. Bahkan dalam kasus ini, ketika Anda belum memutuskan sesuatu untuk diri sendiri, orang lain telah memutuskannya untuk Anda, "ungkap d'Aki.

"Gadis-gadis ini memiliki sedikit kebebasan dan kemudian tiba-tiba mereka harus kembali menjadi perempuan di negara yang mana perempuan tidak memiliki kemungkinan dalam hal apapun,” jelasnya.

Ali menyimpan banyak surat ...Ali menyimpan banyak surat cintanya di dalam sebuah kotak. Dulu, dia mempunyai pacar perempuan. Namun, ketika orang tuanya memberi tahu orang tua gadis itu bahwa Ali adalah bacha posh, gadis itu pergi belajar di Amerika Serikat tanpa mengucapkan selamat tinggal. (Loulou D'aki, National Geographic)

D'Aki bertemu orang lain yang menghabiskan hidupnya sebagai anak laki-laki: Zara, seorang yatim piatu yang pamannya mengangkatnya sebagai bacha posh." Dia melakukannya dengan baik. Delapan pria telah melamarnya. "Mereka melihatnya sebagai wanita yang sangat kuat," kata d'Aki. Seorang ibu tunggal yang dia temui mengangkat kedua putrinya sebagai anak laki-laki untuk melindungi keluarga mereka.

Women for Afghan Women melihat setidaknya dua kasus bacha posh dalam setahun di tempat penampungan perempuan yang mereka jalankan di Kabul. Para pekerja kasus merasa sangat tertantang oleh mereka, kata Nasim. Gadis-gadis itu menderita pelecehan, penghinaan, dan pengasingan dari masyarakat.

Baca juga: Video Orang Utan Merokok di Kebun Binatang Bandung Picu Kemarahan Dunia 

Namun, seringkali mereka tidak ingin mulai hidup sebagai perempuan. Pembatasan budaya gender sulit untuk diadopsi di kemudian hari: mereka harus belajar bagaimana hidup di bawah burqa, memasak untuk keluarga mereka, dan menurunkan pandangan mereka di antara orang asing.

"Ketika dia menjadi dewasa dan lebih tua, dia belajar bahwa tidak mungkin dia menjadi anak laki-laki dan tidak ada yang menerima dia sebagai perempuan," kata Nasim. "Ini adalah represi: mengabaikan kemampuan, bakat, dan hak perempuan. Menyangkal hak-hak agama dan hak asasi perempuan ternyata merupakan penghinaan terhadap jenis kelamin perempuan," sambungnya.

Setar mengeringkan dan menata ...Setar mengeringkan dan menata rambutnya setelah mandi. (Loulou D'aki, National Geographic)

Setar dan pacarnya, Arezou, ...Setar dan pacarnya, Arezou, berpegangan tangan sementara Ali melihat jalan. (Loulou D'aki, National Geographic)

Ali dan Setar bersiap-siap ...Ali dan Setar bersiap-siap untuk pergi bertemu teman mereka di Kabul. (Loulou D'aki, National Geographic)

(Citra Anastasia. Sumber: Nina Strochlic/National Geographic)

KOMENTAR