Terobsesi Lakukan Selfie Merupakan Salah Satu Gangguan Mental
2018 / Januari / 2   16:00

Terobsesi Lakukan Selfie Merupakan Salah Satu Gangguan Mental

Menurut psikolog, terobsesi pada selfie atau yang disebut dengan ‘selfitis’, termasuk gangguan mental.

Terobsesi Lakukan Selfie Merupakan Salah Satu Gangguan MentalSelfie (Ilustrasi, Thinkstock)

Apakah Anda terobsesi melakukan selfie?

Jika iya, ada kemungkinan Anda mengidap ‘selfitis’ – kondisi mental yang membuat seseorang merasa terdorong untuk mengambil swafoto terus-menerus dan mengeksposnya di media sosial.

Istilah ini mulai dikenal sejak 2014 untuk menggambarkan perilaku obsesif seseorang pada selfie.

Para peneliti dari Nottingham Trent University dan Thiagarajar School of Management menginvestigasi istilah ‘selfitis’ dan menemukan enam faktor penyebabnya.

(Baca juga: Tips Aman Berfoto Selfie)

Mereka yang mengidap ‘selfitis’ umumnya berusaha untuk meningkatkan kepercayaan diri, mencari perhatian, memperbaiki mood, membuat kenangan, menyatu dengan kelompok sosialnya dan bersikap kompetitif.

Para peneliti bahkan mengembangkan ‘skala perilaku selfitis’ untuk mengukur seberapa buruk seseorang mengidap gangguan mental tersebut. Skala yang memiliki nilai satu hingga 100 tersebut, dibuat berdasarkan focus grup dari 200 orang di India.

Para partisipan juga diminta untuk mengisi dan memberikan nilai pada kuesioner. Beberapa pernyataan tersebut adalah apakah mereka merasa lebih baik, percaya diri, mendapat perhatian dari orang banyak, dan merasa diterima oleh kelompoknya saat melakukan swafoto.

Penelitian ini dikembangkan di India karena negara tersebut memiliki pengguna Facebook dan jumlah kematian akibat selfie yang tinggi.

(Baca juga: Efek dari Seringnya Selfie yang Menyebabkan Kematian)

“Kami mengonfirmasi bahwa ‘selfitis’ termasuk gangguan mental. Dan ‘skala perilaku selfitis’ dibuat agar kita bisa menyadari ciri-cirinya,” kata Profesor Mark Griffiths, ahli perilaku kecanduan dari Nottingham Trent University.

Rekan Profesor Mark yang juga peneliti, dr. Janarthanan Balakrishnan, menambahkan: “Mereka yang memiliki kondisi kurang percaya diri dan berusaha menyesuaikan diri dengan orang-orang di sekitar mereka, mungkin menampilkan gejala serupa,” katanya.

Ke depannya, para peneliti berharap akan ada studi lanjutan untuk lebih memahami bagaimana seseorang bisa mengalami ‘selfitis’. Juga apa yang bisa dilakukan untuk mencegahnya. 

(Gita Laras Widyaningrum/Sumber: news.com.au)

KOMENTAR