Masyarakat Pemburu-Pengumpul di Malaysia Memiliki Indra Penciuman yang Spesial
2018 / Januari / 20   10:00

Masyarakat Pemburu-Pengumpul di Malaysia Memiliki Indra Penciuman yang Spesial

Masyarakat pemburu-pengumpul memiliki indra penciuman yang lebih baik dibanding masyarakat yang hidup menetap. Mereka mampu mendeskripsikan bau dengan mudah.

Masyarakat Pemburu-Pengumpul di Malaysia Memiliki Indra Penciuman yang SpesialMasyarakat pemburu-pengumpul di Malaysia. (Rex Features)

Manakah yang lebih mudah bagi Anda: mengidentifikasi warna atau bau yang tidak bisa dilihat sumbernya? Kebanyakan manusia lebih mudah menjelaskan warna dibanding bau.

Namun, hal itu tidak terjadi pada semua orang. Berdasarkan studi yang dipublikasikan pada jurnal Current Biology, masyarakat pemburu-pengumpul lebih sulit menjelaskan warna. Namun, mereka justru memiliki indra penciuman yang luar biasa.

Mampu mendeskripsikan bau

Mengapa orang-orang lebih mudah mendeskripsikan apa yang mereka lihat dibanding cium?

Beberapa studi sebelumnya menjelaskan itu sebagai pertukaran evolusi: saat manusia memilih hidup menetap, indra penglihatan mereka semakin tajam – mengalahkan penciuman. Ketidakseimbangan antara dua indra ini ditunjukkan dengan cara komunikasi manusia. Terkadang, deskripsi bau hanya bergantung pada bau lainnya. Sebagai contoh: ‘Sepatu ini baunya seperti pisang!’. Tanpa ada penjelasan lebih lanjut yang spesifik.

(Baca juga: Kisah Pria Australia yang Tinggal Bersama Suku Mentawai Selama 8 Tahun)

Meskipun begitu, tidak semua manusia di dunia ini kesulitan mendeskripsikan bau. Asifa Majid, pemimpin penelitian yang menguji kemampuan penciuman masyarakat pemburu-pengumpul Juhai yang tinggal di semenanjung Malaya, perbatasan antara Malaysia dan Thailand, menemukan fakta bahwa mereka mampu mendeskripsikan bau sebaik warna. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan sekelompok masyarakat moderen.

Dipengaruhi gaya hidup

Melihat hal itu, Majid dan rekannya mencoba mempersempit faktor dengan melakukan penelitian pada orang-orang Semaq Beri dan Semelai. Masyarakat Semelai merupakan petani holtikultura dan petani padi. Sementara Semaq Beri adalah kelompok pengumpul-pemburu seperti Jahai.

Kedua kelompok ini sama-sama tinggal di hutan hujan tropis di semenanjung Malaya dan berbicara bahasa yang sama dengan Jahai. Awalnya, Majid berhipotesis, jika bahasa menjadi faktor utama, maka kedua kelompok ini seharusnya sama-sama baik dalam mendeskripsikan bau.

Namun, ternyata bukan bahasa yang menjadi faktor utama, melainkan cara hidup. Masyarakat pemburu-pengumpul Semaq Beri menunjukkan hasil yang lebih baik pada uji penciuman dibanding orang Semelai yang hidup menetap.

(Baca juga: Suku di Afrika Timur Ini Dikenal Sebagai Suku Peminum Darah)

"Bagi masyarakat pemburu-pengumpul Semaq Beri, memberi nama pada bau sama mudahnya dengan warna. Ini menunjukkan bahwa kognisi pencium pemburu-pengumpul sangat spesial," katanya. 

Menurut Majid, indra penciuman mereka yang spesial ini berkaitan dengan upaya bertahan hidup. Saat mencari makanan di hutan hujan yang lebat, kemampuan mencium aroma sangat penting. “Bau urine harimau harus mereka perhatikan sebagai tanda bahaya,” ujar Majid. 

Ia menambahkan: “Para ahli saraf yakin bahwa keterbatasan manusia dalam mendeskripsikan bau, disebabkan oleh cara kerja otak. Namun, penelitian ini membuktikan bahwa budaya juga menjadi penentu kemampuan penciuman seseorang,” pungkasnya. 

(Gita Laras Widyaningrum/Sumber: The Independent, Discover Magazine)

KOMENTAR