Beberapa Serangga Memiliki Tradisi Pemakaman Layaknya Manusia
2017 / Oktober / 15   09:16

Beberapa Serangga Memiliki Tradisi Pemakaman Layaknya Manusia

Beberapa serangga memiliki tradisi penguburan ketika ada kerabat atau sesama mereka yang meninggal. Beberapa di antaranya tercatat oleh peneliti.

Beberapa Serangga Memiliki Tradisi Pemakaman Layaknya ManusiaIlustrasi lebah (Thinkstock)

Manusia punya budaya tersendiri dalam memperlakukan kerabatnya yang meninggal dunia, dikubur di dalam tanah, dibakar, atau dikubur di dalam pohon.

Tradisi penguburan ternyata juga dilakukan di dunia hewan. Meski tak semuanya, beberapa yang telah terdokumentasikan oleh para peneliti adalah semut, lebah, dan rayap.

Ketiga serangga itu termasuk serangga sosial yang hidup dengan koloni yang padat. Dengan menguburkan rekannya yang mati, mereka menurunkan risiko ancaman patogen yang bisa menginfeksi.

Untuk semut, prosesi penguburan akan diurus oleh semut pekerja. Caranya dengan menyingkirkan semut mati ke tumpukan sampah di lokasi yang jauh atau di ruangan khusus. Namun, pada spesies tertentu, bangkai semut akan dikuburkan layaknya manusia.

(Baca juga: Semut Andalkan Memori Visual dan Posisi Matahari untuk Menavigasi)

Christoper D Pull dan Sylvia Cremer menyajikan penelitian menarik tentang pemakaman pada koloni semut yang baru terbentuk.

Dipublikasikan di BMC Evolutionary Biology pada 13 Oktober 2017, Pull menyebutkan bahwa ratu semut akan mengambil alih tugas mengubur. Hal ini karena tidak adanya semut pekerja dalam koloni.

Oleh karena itu, ratu semut kebun hitam akan mengubur pendahulunya jika meninggal. Sang ratu akan menggigit bangkai semut menjadi beberapa potong dan menguburkannya.

"Biasanya, ketika kita memikirkan ratu semut, kita memikirkan monarki yang tinggal jauh di dalam koloni dan dilindungi oleh pekerja mereka. Mereka tidak memiliki keterlibatan dalam melakukan tugas berisiko dan berbahaya di dalam koloni tersebut," kata Pull seperti dikutip dari National Geographic Kamus (12/10/2017).

"Akan tetapi, studi kami menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk melakukan perilaku tersebut," ujarnya lagi.

Pull dan Cremer menilai, tindakan sang ratu akan melindungi koloninya tujuh kali lipat dari kematian sehingga koloni baru dapat tumbuh dan berkembang.

Kemudian, untuk lebah, tak hanya bangkai yang disingkirkan, tetapi juga lebah yang terkena penyakit. Setelah menyentuhkan antenanya dengan mayat, lebah pengurus akan meraih bangkai dengan rahangnya dan membuangnya keluar dari sarang.

Dalam risetnya yang dipublikasikan di jurnal Animal Behavior volume 31 tahun 1983, P Kirk Visscher mendapati bahwa lebah yang telah mati selama satu jam disingkirkan lebih dulu daripada yang baru kehilangan nyawanya. Untuk urusan ini, lebah pekerja paruh bayalah yang bertanggung jawab.

(Baca juga: Antara Lebah, Virus dan Tomat)

Cerita berbeda ditunjukkan oleh rayap. Qian Sun, Kenneth F. Haynes, dan Xoguo Zhou melaporkan adanya perbedaan sikap yang ditunjukkan rayap bawah tanah timur (Reticulitermes flavipes).

Dalam penelitian yang dipublikasikan di Scientific Report 18 April 2013 silam, Sun dan koleganya menyebutkan, untuk spesies yang sama atau yang terkait, baik di dalam koloni atau di koloni lain, bangkai rayap dibawa ke ruang penyimpanan untuk didaur ulang secara nutrisi.

Namun, perlakuan berbeda ditemukan pada rayap hitam bawah tanah tenggara (Reticulitermes virginicus). Bangkai akan dikubur oleh para rayap pekerja dan dijaga oleh sekelopok besar prajurit yang berjaga.

Perubahan warna pada tubuh rayap memungkinkan untuk indentifikasi kematian. Dengan begitu, anggota koloni lainnya dapat dengan cepat mengetahui.

Seperti lebah, pengurus pemakaman akan menyentuh bangkai dengan antena sebelum membuangnya dengan rahang.

(Baca juga: 5 Hewan Berbisa yang Dapat Menyelamatkan Hidup Anda)

Artikel ini sudah pernah tayang di Kompas.com dengan judul Tidak Kalah dari Manusia, Inilah Tradisi Pemakaman di Dunia Serangga

(Lutfy Mairizal Putra/Kompas.com)

KOMENTAR