Polusi Udara Parah, Pemerintah India Umumkan Status ''Darurat Nasional''
2016 / November / 7   19:09

Polusi Udara Parah, Pemerintah India Umumkan Status "Darurat Nasional"

New Delhi telah menduduki zona merah pada Indeks Kualitas Udara selama lebih dari seminggu.

Polusi Udara Parah, Pemerintah India Umumkan Status ''Darurat Nasional''Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2014 yang menyatakan bahwa 7 juta kematian terjadi setiap tahun karena kedua polusi udara dalam ruangan dan luar ruangan. (Thinkstock)

Pemerintah India mengumumkan status “Darurat Nasional” karena polusi udara di New Delhi, 16 kali lipat melampaui batas aman. Kota tersebut telah menduduki zona merah pada Indeks Kualitas Udara selama lebih dari seminggu.

Kondisi ini menyebabkan sekitar 1.800 sekolah berhenti beroperasi agar murid-murid tetap berada di dalam rumah dan terhindar dari polusi di luar ruang. Sebagian besar profesional kelas menengah dan ekspatriat sudah mulai bermigrasi keluar dari kota.

 “Peningkatan polusi udara ini membuat Kota Delhi menyerupai kamar gas,” kata Ketua Menteri Delhi, Arvind Kejriwal, dalam konferensi pers.

Data dari System of Air Quality and Weather Forecasting and Research (SAFAR) menunjukkan bahwa di New Delhi saat ini partikel polutan PM10 mencapai 808 mikrogram (μg) per meter kubik, dan partikel PM 2,5 mencapai 622  μg per meter kubik. Sebagai perbandingan, batas aman untuk partikel PM10 dan PM2,5 adalah sekitar 100 μg per meter kubik dan 60 μg per meter kubik.

Kedua partikel polutan tersebut sangat berbahaya karena dapat terperangkap dalam paru-paru dan menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang, seperti asma dan penyakit pernapasan kronis lainnya.

Kejriwal menduga, penyebab kabut asap tebal di Delhi ialah asap berskala besar yang datang dari daerah tetangga, seperti Punjab dan Haryana. “Alasan terbesar tampaknya berasal dari pembakaran jerami dalam jumlah besar di bidang pertanian yang ada di Haryana dan Punjab,” katanya.

Selain itu, beberapa pejabat setempat juga menyalahkan ratusan atau ribuan kembang api yang diluncurkan ke langit Delhi sebagai penanda dimulainya Festival Diwali, yang digelar pada akhir Oktober tiap tahunnya.

Menurut laporan The Guardian, kembang api ini biasanya meninggalkan kabut asap setidaknya selama dua atau tiga hari, namun tahun ini, asap tersebut bertahan hingga hampir seminggu.

“Kembang api selama Diwali memang menambah sedikit polusi, namun tak mengubah kota dengan begitu drastis. Jadi, asap terutama berasal dari pembakaran di lahan pertanian,” kata Kejriwal.

Saat ini, untuk mengatasi permasalahan tersebut, pemerintah New Delhi mengambil tindakan dengan membatasi kendaraan bermotor di jalan-jalan kota dan menentukan proses pengelolaan lahan pertanian yang lebih ramah lingkungan kepada para petani.

Selain itu, pada 6 November lalu, pemerintah kota juga memberlakukan larangan sementara terhadap kegiatan konstruksi dan pembongkaran bangunan serta penggunaan generator listrik bertenaga bertenaga diesel. 

(Lutfi Fauziah. Sumber: Science Alert, The Guardian, safar.tropmet.res.in)

KOMENTAR