Polusi Udara di Afrika Lebih Mematikan Ketimbang Malnutrisi
2016 / Oktober / 24   16:30

Polusi Udara di Afrika Lebih Mematikan Ketimbang Malnutrisi

Di benua hitam, polusi udara lebih mematikan daripada kekurangan gizi, air bersih, atau sanitasi yang tak memadai.

Polusi Udara di Afrika Lebih Mematikan Ketimbang MalnutrisiOrganisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2014 yang menyatakan bahwa 7 juta kematian terjadi setiap tahun karena kedua polusi udara dalam ruangan dan luar ruangan. (Thinkstock)

Studi terbaru dari forum kebijakan global menemukan, setiap tahun, sekitar 712.000 jiwa melayang di Afrika akibat penyakit yang terkait dengan polusi udara. Di benua ini, polusi udara lebih mematikan daripada kekurangan gizi, air bersih, atau sanitasi yang tak memadai.

Studi ini menghubungkan pertumbuhan pesat penduduk perkotaan Afrika dengan meningkatnya jumlah kematian prematur akibat polusi udara. Penulis studi, Rana Roy, mencatat bahwa saat ini polusi udara paling parah terjadi di Asia, terutama di negara berpenduduk padat seperti Tiongkok dan India, dengan urbanisasi pesat sebagai faktor kuncinya. Afrika, menurut Roy, berpotensi mengikuti jejak kedua negara tersebut.

Sejak 1990 hingga 2013, polusi udara luar ruang di seluruh Afrika meningkat sebesar 36 persen. Negara-negara seperti Etiopia, Afrika Selatan dan Nigeria telah mengalami industrialisasi yang pesat dan diiringi dengan peningkatan polusi udara luar ruang dari aktivitas lalu lintas dan pembangkit listrik. Selain itu, banyak penduduk Afrika yang memasak makanan dengan menggunakan kompor dan bahan bakar yang tidak efektif.

“Di beberapa kota seperti London, polusi udara berasal dari pembakaran hidrokarbon untuk transportasi,” kata Mathew Evans, profesor kimia atmosfer di York University dalam studi tersebut.

Polusi udara di Afrika, kata Evans, tak seperti itu. da banyak pembakaran sampah, memasak dalam ruangan dengan kompor dan bahan bakar yang tak efisien, jutaan generator listrik, mobil tanpa konverter katalis dan pabrik petrokimia.

“Senyawa seperti sulfur dioksida, benzena dan karbon monoksida, mungkin menjadi problem signifikan di kota-kota Afrika,” tambahnya.

Berbagai polutan ini berkontribusi terhadap beberapa penyakit paru dan pernafasan, seperti stroke, penyakit jantung, kanker paru-paru dan asma akut.

Roy berpendapat bahwa model transportasi dan sumber energi yang ada saat ini di Afrika tidak berkelanjutan dan merupakan panggilan untuk menghentikan subsidi pemerintah terhadap produksi dan penggunaan batu bara, minyak bumi dan gas alam.

"Apa yang tampak di Afrika saat ini adalah sinkronisasi beberapa tantangan lingkungan dan pembangunan. Sebagian masyarakat di belahan dunia lain telah mampu mengatasinya. Tidak sekaligus, tetapi fokus pada satu masalah pada satu waktu," pungkas Roy.

(Lutfi Fauziah. Sumber: Molly Fosco/Seeker.com)

KOMENTAR