Ilmuwan Kembangkan Nyamuk Mutan untuk Perangi Malaria

Ilmuwan Kembangkan Nyamuk Mutan untuk Perangi Malaria

Ilmuwan Amerika Serikat mengatakan mereka telah berhasil mengembangbiakkan nyamuk dengan rekayasa genetika yang dapat melawan infeksi malaria.

Ilmuwan Kembangkan Nyamuk Mutan untuk Perangi MalariaJames Gathany/CDC

Ilmuwan Amerika Serikat mengatakan mereka telah berhasil mengembangbiakkan nyamuk dengan rekayasa genetika yang dapat melawan infeksi malaria. Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal PNAS.

Jika teknik laboratorium bekerja di lapangan, itu bisa menawarkan cara baru untuk menghentikan gigitan serangga tersebut menyebarkan malaria ke manusia, kata para ilmuwan.

Para ilmuwan menempatkan gen resisten ke dalam DNA nyamuk menggunakan metode editing gen yang disebut Crispr. Ketika nyamuk hasil rekayasa genetika dikawinkan,  anak mereka akan mewarisi gen resisten yang sama. Secara teori, jika nyamuk ini menggigit orang, mereka tidak dapat menularkan parasit yang menyebabkan malaria.

Sekitar 4,2 miliar orang di dunia beresiko malaria. Kelambu, insektisida dan penolak nyamuk  dapat membantu menghentikan serangga tersebut menggigit, obat-obatan juga dapat diberikan kepada siapa saja yang terserang virus malaria, tetapi penyakit ini masih membunuh sekitar 580.000 orang per tahun.         

Peran Penting

Para ilmuwan telah mencari cara-cara baru untuk memerangi malaria. University of California percaya tim nyamuk rekayasa genetika mereka bisa memainkan peran penting dalam menekan kasus malaria.

Jenis nyamuk yang digunakan dalam eksperimen tersebut adalah nyamuk Anopheles stephensi, yang biasa ditemukan di India. Dr Anthony James dan timnya menunjukkan bahwa mereka dapat memberikan serangga tersebut kode DNA baru untuk membuatnya menjadi inang yang buruk bagi parasit malaria.

DNA, yang mengandung kode antibodi untuk memerangi parasit, diwariskan oleh hampir 100% dari keturunan nyamuk dalam tiga generasi. Para peneliti mengatakan temuan ini memberikan harapan bahwa metode yang sama juga bisa bekerja pada spesies nyamuk lainnya. Meskipun tidak akan menjadi solusi tunggal untuk masalah malaria, itu akan menjadi senjata tambahan yang berguna.

"Produk ini memang belum jadi dan sempurna, tapi terlihat menjanjikan. Tampaknya, rekayasa genetika ini berhasil," ujar Prof David Conway, seorang ahli dari London School of Hygiene & Tropical Medicine.

Ilmuwan lain telah meninjau untuk memodifikasi genetika nyamuk untuk membuat mereka mandul, sehingga mereka lama habis. Tetapi beberapa ahli khawatir jika nyamuk dihilangkan sepenuhnya mungkin akan menimbulkan konsekuensi yang tak terduga dan tidak diinginkan. Menggantikan nyamuk pembawa penyakit dengan keturunan yang tak berbahaya menjadi alternatif yang potensial.

(Lutfi Fauziah/Sumber: BBC.com)

KOMENTAR