2014 / Desember / 25   08:12

Natal dan Revolusi Mental

Apa hubungan Natal dengan revolusi mental?

Natal dan Revolusi MentalAnak-anak memegang lilin saat merayakan natal bersama Bupati Malinau di gereja Desa Sungai Barang, Kayan Selatan, 3 Desember 2014. Sungai Barang merupakan salah satu desa yang terletak di perbatasan Indonesia-Malaysia. (Fikria Hidayat/Kompas.com)

Ada yang istimewa dalam perayaan Natal tahun ini, karena dirayakan di tengah ajakan pemerintah kepada seluruh rakyat Indonesia untuk melakukan revolusi mental. Apa hubungan Natal dengan revolusi mental?

Bagi umat Kristiani, Natal adalah peristiwa ketika Tuhan, yang mengenal manusia yang tak berdaya karena dosa, berbela rasa dan bertindak langsung menyelamatkan umat-Nya. Pengenalan keadaan itu bukan hanya menanti pihak manusia berseru minta tolong, melainkan dan terlebih dari pihak Allah yang Maha Mengenal.

Bela rasa inilah, ketika tiba waktunya, membuat Ia bertindak dengan cara apa pun agar manusia diselamatkan. Sikap dan tindakan-Nya itu nyata dengan wujud tidak mempertahankan keadaan mulia, tetapi mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi manusia.

Pilihan tempat lahir bukan Jerusalem, kota terbesar pada zaman itu, melainkan Betlehem, kota kecil. Istana raja yang megah dan gemerlap tidak menjadi pilihan-Nya, tetapi kandang hewan yang sangat sederhana. Dengan penjelmaan-Nya itu, relasi manusia dengan Allah dipulihkan, dasar mendalam relasi antarmanusia diletakkan, yaitu kasih-Nya.

Merasakan masih jauhnya wujud cita-cita bangsa Indonesia, sementara kerinduan untuk itu semakin kuat, diperlukan perubahan mentalitas, yaitu cara berpikir, sikap dasar, dan perwujudannya. Sebagian kecil warga terbuai menikmati kenyamanan dan kemapanan, sementara sebagian besar masyarakat hidup sangat miskin dan tak berdaya, tergoda untuk memenuhi kebutuhan sendiri tanpa peduli akan sesama.

KOMENTAR