2014 / September / 25   11:00

National Geographic Society Bantu Pelestarian Wilayah Laut

Jika rencana perlindungan berhasil, maka 10 persen biota laut akan selamat dari bahaya kepunahan.

National Geographic Society Bantu Pelestarian Wilayah LautPenyu sisik (Eretmochelys imbricata) berenang di Mikes Point Dive Site dekat Pulau Mansuar, Raja Ampat. Seekor penyu baru bisa bertelur setelah umur 30 tahun. Diantara semua jenis penyu, spesies ini paling rajin bertelur, meskipun demikian penyu sisik menjadi hewan dengan tingkat kepunahan paling terancam. (Yunaidi/National Geographic Indonesia)

National Geographic Society mengumumkan akan membantu perlindungan daerah di bumi yang paling kaya, yakni lautan. Tujuannya, memberikan keyakinan kepada Pemerintah untuk selalu menjaga kelestarian biota di lautan. Ada lebih dari 770.000 mil persegi atau dua juta kilometer persegi lautan yang siap dilindungi atau dilestarikan.

“Melestarikan lautan begitu penting untuk melindungi keanekaragaman hayati,” ujar Bill Clinton di New York, Senin (22/9).

Ia juga menambahkan bahwa lautan adalah sumber daya alam yang sungguh kaya. Bahkan berkontribusi dalam ekonomi global mencapai 20 miliar dolar AS. Walaupun pengelolaan lautan oleh manusia tentu memberi dampak kurang baik.

Sebagai bentuk dukungan proyek National Geographic Pristine Sea, maka perlindungan lautan ini dilakukan. Pristine Seas melibatkan 10 ilmuwan untuk melakukan ekspedisi di seluruh samudera dunia—wilayah Pasifik Selatan, Afrika, Rusia dan Amerika Selatan.

Clinton memberikan informasi bahwa target selanjutnya ialah Seychelles—kepulauan di Samudra Hindia— di sebelah utara Greenland, dan daerah Patagonia di Amerika Selatan.

Sebagai hasil dari upaya yang telah dilakukan, diharapkan  perlindungan di sekitar Amerika Serikat, Cili, Kiribati—negara kepulauan di Samudra Pasifik—dan Kosta Rika akan dilakukan segera. Cakupan perlindungan mencapai lebih dari 150.000 mil persegi (400.000 kilometer persegi).

Menurut Enric Sala, salah satu penjelajah National Geographic yang juga meluncurkan proyek Pristine Seas tahun 2009 lalu, beberapa pemimpin negara melakukan konservasi laut dengan menciptakan aturan pelarangan pengambilan biota laut.

Sementara itu, Terry Garcia, Chief Exploration and Science National Geographic Soceity berpendapat bahwa overfishing, polusi, dan perubahan iklim menjadi ancaman utama laut.

Jika kampanye ini berhasil, maka akan membantu pemenuhan target dari United Nation Convention on Biological Diversity. Targetnya, memproteksi sepuluh persen dari seluruh biota lautan di tahun 2020.

(Brian Clark Howard)

KOMENTAR