Terbenam Murka Sang Ancala

2015 / April / 8   14:39

Terbenam Murka Sang Ancala

Hujan deras mendera sebuah permukiman di pinggang Tambora, sesaat sebelum gunung itu bererupsi hebat. Kemudian, gemuruh dahsyat dan hujan abu pun mulai meneror warga untuk segera mengungsi. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Luncuran awan panas telah menerjang permukiman, sebelum semua warga meninggalkan desa.

Erupsi megakolosal Gunung Tambora pada 10 April 1815 telah membenamkan dua perdaban Kerajaan Tambora dan Kerajaan Pekat. Kendatipun jumlah korbannya yang fantastis, tidak ada jumlah pasti berapa total korban yang dimangsanya. Namun, perkiraan mutakhir lebih dari 71.000 orang tewas. Para tumbal angkara Tambora itu tersebar dari Sumbawa, Lombok, hingga Bali. Kedahsyatannya telah mengubah sejarah ekologi di kawasan itu.

Setahun selepas murka sang ancala, keceriaan musim panas di Bumi belahan utara telah sirna berganti musim dingin yang mencekam. Kawasan itu didera petaka kegagalan panen, berjangkitnya penyakit, dan berujung pada binasanya kehidupan.

Fenomena hilangnya musim panas—atau The Year Without A Summer—karena erupsi megakolosal Tambora telah menjadi perbincangan seantero dunia. Namun, bagaimanakah sosok dua kerajaan yang terbenam murka sang ancala, hingga kini masih berselimut kelambu teka-teki. Apakaha dua kerajaan itu telah mendiami Semenanjung Sanggar sebelum masuknya Islam? Mengapa keduanya tidak biasa disebut dengan kesultanan, seperti beberapa kerajaan lainnya di Sumbawa? Seperti apakah rupa rumah-rumah di pinggang Tambora kala itu? (Mahandis Yoanata Thamrin)

(National Geographic Indonesia)

KOMENTAR