Forum National Geographic Indonesia » Sosial-Budaya » Holocaust: Politik Identitas Yahudi?

Holocaust: Politik Identitas Yahudi?

Moderators: kuma, siary, widhibek.

Post Reply

Page: 1

Author Post
Member
Registered: Jan 2011
Posts: 12

Sebagai orang yang belajar antropologi, saya tertarik dengan politik identitas dan isu-isu besar dunia yang terkait. Praktik rekayasa identitas ini banyak terjadi di seluruh dunia, tapi tidak ada yang lebih gigantis dibandingkan dengan tarik menarik mengenai Holocaust. Stakeholder dalam Holocaust ini melibatkan orang-orang Yahudi, beberapa negara Eropa dan Amerika, dan terakhir juga melibatkan kaum Muslim. Isu ini menjadi perdebatan sengit dan tendensius selama bertahun-tahun hingga sekarang. Perbedaan isu Holocaust ini dengan isu-isu besar umat manusia lainnya mungkin adalah motif ekonomi yang tampak terlalu terang-terangan. Dan saya sangat tertarik karenanya.

Holocaust: Gambaran Awam
Holocaust. Ini bisa jadi salah satu love at first sigh secara akademik. Sejak tahu dan paham apa itu Holocaust, senang sekali untuk bisa utak utik sejarah dan cari-cari berbagai skenario sehubungan dengan isu ini. Untuk kaum akademik, apalagi yang belajar ilmu sosial, mungkin agak sulit dipercaya kalau tidak pernah dengar istilah ini. Sejak jauh-jauh hari, perhatian terhadap isu pembantaian etnis ini sudah besar dan beberapa karya juga lahir dari para ilmuwan. Untuk pecinta film, di setiap karya yang menampilkan NAZI, peristiwa ini jarang luput dan jadi bagian inheren. Misalnya dalam film The Pianist (2002), The Defiance (2008 ), atau The Boy in The Striped Pyjamas (2008 ) dan ratusan lainnya yang diproduksi sejak kemunculan The Stranger (1946).

Kisah mengenai Holocauts ini berawal ketika pada tahun-tahun kekuasaan Nazi, terutama 1933-1945, terjadi pembantaian besar-besaran terhadap manusia-manusia yang tidak pantas hidup menurut pikiran Hitler. Ethnic Cleansing dilakukan terutama pada kaum Yahudi yang ada di Jerman, Polandia, Austria, Prancis, Belanda, Belgia, Romania dan sekitarnya. Pembantaian ini dinamakan Holocaust karena seperti yang tertuang dalam alkitab “holokauston” yang berarti “persembahan bakaran yang utuh” (Ibrani 10:6), para korban dibakar hidup-hidup dalam kamp konsentrasi, atau yg akrab disebut ghetto. Jumlah korban genosida termahsyur ini mencapai lebih dari 6 juta, yang kebanyakan dari kaum Yahudi.

Korban Jumlah
Yahudi 5,9 juta jiwa
POW (Tahanan Perang) Uni Soviet 2-3 juta jiwa
Etnis Polandia 1.8-2 juta jiwa
Katolik Roma 220,000–500,000 jiwa
Orang Cacat 200,000–250,000 jiwa
Orang Gipsi 80.000-200.000 juta jiwa
Homo Seksual 5.000-15.000 jiwa
Saksi Yehuwa 2.500-5.000 jiwa
Sumber: id.wikipedia.org

Beberapa dekade setelahnya, Holocaust menjadi isu besar dalam isu Hak Asasi Manusia dan termasuk kejahatan perang nomer 1. Demikian mengerikannya tragedi ini sehingga dianggap sebagai bencana kemanusiaan terbesar. Para pelaku kejahatan ini dihukum berat (kebanyakan dihukum mati) atas nama norma dunia. Tapi dihukumnya para pelaku Holocaust tidak serta merta meredam emosi keturunan dan pewaris korban genosida tersebut. Apa pun bentuknya, balasan terhadap perbuatan rezim Nazi seolah tidak pernah cukup.

Segera setelah mereka mengetahui bahwa di lubuk hati para pemimpin negara yang terlibat Holocaust di masa lalu tersimpan rasa malu atas kejahatan leluhurnya, kaum Yahudi mulai bergerak. Holocaust menjadi senjata pengeruk tumpukan emas untuk membayar rasa malu dan bersalah. Para akademisi dan media menaruh banyak sekali perhatian kepada isu ini sehingga setiap tahunnya rasa bersalah atas dosa pendahulu mereka terus terakumulasi. Nyawa generasi Yahudi sebelumnya ternyata tidak melayang hanya untuk mewarisi paranoia dan kisah kelam, tapi di saat bersamaan juga memberikan mereka ladang emas. Ladang emas yang tidak perlu digali akan datang sendiri hanya dengan menyebut kata Holocaust.

Bertahun-tahun kaum Yahudi berhasil mengelola rasa bersalah dan malu yang dalam dari mereka yang terlibat dalam Holocaust. Manfaat yang didapatkan segera terasa karena di Eropa, kaum Yahudi berhasil mengeruk tidak hanya keuntungan finansial, tetapi juga simpati rasial. Holocaust menjadi candu bagi Yahudi. Candu yang mereka bagi sama rata tapi tak sama efeknya. Sementara Yahudi mendapatkan hal-hal konkret, para penderita hanya menerima perasaan lega yang sangat-sangat sementara. Seorang penulis Amerika yang memperhatikan isu genosida ini bernama Norman G. Finkelstein bahkan menyebutkan tahapan tersebut sebagai “Holocaust Industry” (ia menulis buku dengan judul The Holocaust Industry, diterbitkan pada tahun 2000). Rekayasa sosial yang nyata-nyata lebih menguntungkan ketimbang bisnis mana pun. Mereka tidak menanam saham, tidak sepeser pun dan Investasi mereka abadi. Investasi tersebut berupa kenangan kolektif yang dipercaya benar-benar terjadi di masa lampau dan menjadi ingatan yang sangat mahal harganya. Industri Holocaust, jika bisa disebut demikian, benar-benar dapat dipandang sebagai permohonan maaf paling mahal sepanjang sejarah. Dan tebak sampai kapan ini berakhir? Di mana akhir dendam kesumat ini dilampiaskan? Rasa-rasanya tidak ada manusia yang mau berhenti jika diberi kenikmatan kekal.


Anti-tesis Holocaust: Tragedi Terbesar atau Kebohongan Terbesar??
Entah karena muak “diperas” atau memang murni gerakan mencari kebenaran lain, muncul gagasan berbeda. Kehadiran ide bahwa Holocaust itu tidak pernah (atau setidaknya pernah tapi tidak sebesar itu) terjadi dan merupakan rekayasa Yahudi untuk balas dendam muncul hampir bersamaan dengan gagasan sebaliknya. Hanya kekuatan gagasan ini baru mencuat beberapa tahun setelah hampir dari populasi dunia menyakini bahwa Holocaust benar-benar terjadi dan benar-benar kejam. Jadi, ketika penerobos ini hadir dengan kecaman-kecaman terhadap legenda pemusnahan massal, mereka sebenarnya sudah terlambat.

Akan tetapi, kehadiran mereka yang terlihat terlanjur ini memang tidak juga menunjukkan upaya setengah-setengah. Kalau anda mengambil buku mengenai Holocaust secara acak, anda bisa saja mendapatkan pemahaman komprehensif mengenai data mau pun fakta yang menyatakan dan berkesimpulan bahwa Holocaust hanyalah fantasi. Mereka juga serius terhadap gagasan anti-tesis tersebut. Mereka jelas keberatan dengan “lemah”nya pemerintahan Jerman terhadap lobi Yahudi. Dan mereka lebih keberatan dengan peristiwa yang terlalu dibesar-besarkan itu. Mereka ini yang disebut sebagai Holocaust Deniers (mereka lebih senang disebut Holocaust Revisionist). Tentu saja gerakan ini segara mendapatkan hadangan dari pendukung teori Holocaust yang sudah mapan. Menurut kabar yang beredar, beberapa ilmuwan harus menghadapi ajal karena secara tegas mempertanyakan kebenaran hikayat pembantaian massal ini. Di Amerika, penerbit akan lebih senang mendukung penulis yang anti-Jerman dan pro Yahudi ketimbang sebaliknya. Hasil penelitian yang mendukung Holocaust Deniers dipertanyakan dengan sengit dan cenderung dikucilkan.

Walau pun pendukung utama gagasan Holocaust adalah Yahudi Amerika, namun komuniti yang terwakili di belakangnya cukup banyak. Dengan itu mereka membangun jaringan Yahudi-yang-amat-menderita dan mulai menggalang jutaan dollar dari kantong-kanton mereka yang dituduh bersalah. Sementara itu, kaum penentang konspirasi licik ini, walau pun pendukungnya tidak kalah banyaknya, tertekan dengan kekuatan media dan birokrasi yang dikuasai oleh Yahudi. Namun seperti teori evolusi yang ditentang oleh Harun Yahya, kebangkitan Yahudi ini juga mendapatkan respon negatif dari musuh bebuyutannya, Muslim.

Kaum cendikia muslim akhirnya juga larut dalam perdebatan dan secara tegas mendukung pendapat Holocaust Deniers. Keberpihakan ini jelas sehubungan dengan persaingan pra logis yang diturunkan pada zaman ketika manusia belum membayangkan teknologi perang seperti sekarang. Kaum muslim berkepentingan untuk menolak Holocaust karena dengan itu kaum Yahudi dapat dengan leluasa melaksanakan berbagai lobi yang menguntungkan –sekaligus melemahkan muslim (setidaknya demikian pendapat mereka). Keberpihakan yang tendensius ini berlatarkan doktrin agama, yang sakral, namun demi tujuan yang sebenarnya sangat duniawi. Kebohongan Yahudi dan kemampuan diplomasi mereka jelas tantangan baru bagi kekuatan muslim di Amerika dan Eropa. Tanpa Holocaust pun kaum muslim di benua biru dan amerika, dua dataran pusat peradaban dunia saat ini, tidak mendapatkan posisi yang menguntungkan. Alih-alih mendapatkan dukungan dana, islam justru diperhatikan sebagai minoritas yang perlu “dikendalikan”. Perkembangan lanjutan dari catur politik dunia memojokkan kaum muslim ke tembok terluar akibat sentimen negatif yang berhasil dibangun oleh Al-Qaeda dan beberapa gerakan muslim garis keras. Jelas, supremasi Yahudi dengan memanfaatkan kisah suram masa lalu adalah tekanan batin hebat untuk muslim. Pada akhirnya teriakan ilmuwan-ilmuwan beratribut agama juga hanya menjadi penghias papan catur.

Holocaust: Pendekatan Politik Identitas
Kemunculan, dan semakin kuatnya, golongan penentang Holocaust membuat isu ini tetap “seksi” dari masa ke masa. Harus diakui, agak sulit untuk tidak masuk dalam perdebatan ini. Tetapi makin jauh anda masuk makin sulit anda memutuskan untuk meletakkan pijakan. Ketika kita sangat yakin bahwa kejadian di masa itu benar adanya, muncul fakta-fakta penentang teori tersebut. Saya sendiri enggan masuk terlalu jauh. Awalnya, selayaknya mahasiswa baru, saya tertarik mengikuti ini bahkan melibatkan sentimen rasisme. Saat ini, tindakan seperti itu masuk hitungan konyol. Alih-alih terlibat di dalamnya, saya lebih suka memperlakukan kisah, dongeng, legenda ini untuk menunjukkan kepada khalayak betapa jauh efek identitas bisa merasuk.

Beberapa ilmuwan mencantumkan identitas untuk membedakan satu individu dengan individu lain, atau dengan kelompok lain. Beberapa lainnya melihat bagaimana pengaktifan identitas berimplikasi pada hal-hal yang lebih spesifik, yaitu melihat tujuan-tujuan dari penggunaan identitas oleh individu dalam berinteraksi. Nah, kira-kira saya masuk dalam golongan yang kedua. Di sini saya ingin bahas bagaimana pengaktifan identitas itu dapat membawa pelaku kepada keuntungan-keuntungan tertentu yang signifikan, baik dimaksudkan pada awalnya atau pun tidak. Ya, saya menawarkan cara pandang politik identitas dari pada sibuk mencari kebenaran tunggalnya.

Pada poin khusus, mengharapakan tujuan tertentu dalam perkara identitas dapat diartikan sebagai politik identitas, tentu dalam pengertian yang terbatas. Identitas yang dirasa berguna diaktifkan untuk mendapatkan manfaat secara ekonomi, politik atau reward dalam hubungan dengan pihak lain. Hal ini yang sebenarnya terjadi. Ketika Nazi memberikan ganti rugi terhadap korban mereka yang selamat di ghetto-ghetto pasca perang, banyak dari orang Yahudi yang kemudian merekayasa masa lalu mereka agar mendapatkan kompensasi tersebut. Sebuah praktik memanfaatkan identitas Yahudi-tertindas terhadap lawan politik mereka untuk sebuah balasan yang setimpal.

Pada tahun 1950, Jerman yang kalah dan didakwa bersalah, setuju untuk menandatangi persetujuan pembayaran ganti rugi bagi korban Nazi hingga 60 miliar dolar. Pertanyaannya: apakah juga ada ganti rugi semacam itu bagi korban perang Vietnam oleh AS, Bosnia oleh Serbia, Afganistan oleh Rusia, termasuk di Indonesia oleh Belanda&Jepang?? Tentu saja nihil. Apa pasalnya hingga hanya orang-orang Yahudi yang berhasil menguangkan penderitaan mereka?

Perbedaaan nasib kaum tertindas selama perang ada pada kemampuan lobi mereka. Kaum Yahudi dengan cerdas memainkan identitas mereka untuk mendapatkan insentif atas kejahatan perang yang dituduhkan, terlepas dari kebenarannya. Perbedaannya hanya karena tidak ada manusia dari kaum korban perang lain seperti Edgar Bronfman (presiden kongres Yahudi sedunia) dan Rabbi Israel Singer (pengurus Claim Conference Yahudi) yang mau repot-repot bertemu dengan para bankir Swiss untuk bicara “Atas nama orang – orang Yahudi” dan juga “enam juta lainnya yang tidak bida berbicara untuk dirinya sendiri”. Keberadaan individu yang sadar akan keuntungan politik ini yang membuat perbedaan begitu kontras di antara sesama makhluk menderita karena kejamnya perang.

Sudut pandang ini jelas lebih aman dari pada memihak salah satu dari pelaku perdebatan. Anda dapat melihat jauh lebih jernih bahwa terlepas dari apa pun klaim yang dimunculkan, praktik ini tetap menghasilkan jutaan dollar. Di sini dapat disaksikan bahwa identitas memiliki power yang demikian hebat, dengan catatan bergantung pada kemampuan masing-masing aktor memainkannya. Identitas bisa menjadi senjata ampuh ketika dihubungkan dengan isu-isu tertentu yang memang rentan. Holocaust menjadi pembuktian sahih atas kemampuan individu mau pun kelompok dapat mengambil berbagai manfaat atas identitas yang dimiliki.

Ruang Refleksi
Pengaktifan identitas untuk tujuan-tujuan politis tersebar dalam keseharian kita. Holocaust saya hadirkan sebagai contoh awal agar dapat menggugah rasa penasaran atas kekuatan politik identitas. Kenyataannya indonesia adalah ladang subur bagi para peselancar identitas. Keragaman dan lemahnya negara merupakan pupuk yang menyegarkan siapa pun yang bermanuver dengan identitas dirinya. Isu mengenai putra daerah, separatisme, kepemilikan hak ulayat, hingga warisan terhadap negara adalah praktik-praktik terang-terangan politik identitas.

Sebagai penutup, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengupas Holocaust dengan rinci. Sama sekali tidak. Saya hanya penikmat dan mengolahnya sedemikian rupa untuk menunjukkan beberapa konsep penting dalam dunia yang saya geluti. Politik identitas sendiri banyak digunakan oleh penulis lain. sebagian memaknainya sebagai jatidiri kolektif mau pun individu yang memiliki muatan politis. Sebagian lainnya mengartikan politik identitas sebagai penyatuan atribut kaum minoritas terhadap kelompok penguasa. Saya sendiri cenderung tidak menganggap itu politik identitas jika pengaktifan aktribut-atribut kelompok mau pun individual tidak memiliki motif terhadap reward yang dapat berbentuk apa pun. Penjelasan ini penting karena hakikat ilmu sosial yang terletak pada apresiasi terhadap pemikiran-pemikiran lain. Dan saya sepenuhnya tunduk pada norma tersebut.
Moderator
Registered: Aug 2010
Posts: 334
Location: Ciputat, Tanerang Selatan - Jakarta PP

kalo 'java massacre' 1965-1965 seperti apa, pak?

kenapa nasib korban justru berkebalikan dengan korban holocaust....

di sini ekploitasi justru datang dari sang "pemenang"... dan korban beserta keturunannya malah harus menanggung "kutukan" sebagai identitasnya..
Moderator
Registered: Apr 2011
Posts: 818
Location: Ambon

membaca ini saya pun jadi teringat "Laha Massacre" pada saat pendudukan Jepang di Ambon, catatan sejarahnya sungguh hilang sama sekali.. sampe sekarang saya masih penasaran dengan kejadian Laha Massacre ini
Member
Registered: Mar 2011
Posts: 535
Location: Bandung

Nice sharing. Saya tunggu progress-nya aja, takut jadi korban propaganda.
Member
Registered: Jul 2010
Posts: 70

terima kasih atas sharingnya om. saya sempat mengamati masalah ini & malah pusing sendiri. :D
Member
Registered: Jan 2011
Posts: 1244
Location: Jakarta

jenggot wrote
terima kasih atas sharingnya om. saya sempat mengamati masalah ini & malah pusing sendiri. :D


xixixixi
Member
Registered: Jan 2011
Posts: 12

lalu kenapa keturunan korban java massacre tahun 1965-1966 - yang tidak mendapatkan ganti rugi apa pun- justru menderita sepanjang zaman dan mewarisi kebencian komunal orang indonesia?

pertama, aliran komunis dipandang sebagai defiance tidak hanya di indonesia tapi juga di dunia. nilai-nilai dalam komunis dianggap sebagai ancaman bagi peradaban manusia yang telah mapan. hambatan terbesar komunis adalah dari 2 paham besar dunia. pertama paham demokrasi liberal. kedua paham agama, apa pun kepercayaannya. komunis adalah gerakan "kiri" yang dianggap menyimpang dari gagasan kebebasan berpendapat, berusaha dan prinsip2 demokrasi yang (sampai skrg) dianggap terbaik. karenanya manusia-manusia komunis dianggap tidak memiliki jiwa kemanusiaan. hal ini ditambah sentimen buruk dari kalangan agama. komunis diidentikkan dengan ajaran-ajaran sekuler (bahkan ateis) yg menyangkal kepercayaan agama-agama di dunia (baik itu kristen islam yahudi atau lainnya). karena itu, kebencian terhadap orang-orang komunis jg berlatarbelakang isu agama. perbedaan telak komunis dengan dua kepercayaan besar dunia (demokrasi-liberalisme dan ketuhanan) menjadikan posisi mereka tidak terlalu menguntungkan. lebih dikenal sebagai ancaman drpd gagasan ideologis alternatif.

di indonesia tidak berbeda sama sekali. karena itu, ketika terjadi pembantaian, bukan hanya militer yang turun tangan, tetapi juga ormas-ormas islam dan warga yang merasa terancam dengan gagasan-gagasan komunis. di kalangan muslim, orang-orang komunis dicap sebagai manusia yang "darahnya halal" dan dimasukkan dalam bentuk jihad. karena itu, kehilangan ribuan manusia beraliran komunis bukanlah peristiwa yang memalukan dan menimbulkan kesedihan bagi indonesia. justru kebalikannya, musnahnya komunis dianggap sebagai langkah penyelamatan. dalam kasus ini, nilai-nilai hak asasi manusia diredam oleh dua paham yang lebih gigantis.

keturunan komunis selanjutnya jangan kan mendapatkan simpati, justru hidup selamanya dalam teror. di sini letak kebodohan manusia indonesia. pikiran awam memberikan penilaian bahwa komunisme juga bersifat warisan, sehingga otomatis keturunannya dicap memiliki nilai-nilai komunis. padahal ideologi tidak mengalir lewat darah. kekeliruan dan sesat berpikir ini tidak memberikan ruang bagi keturuan komunis untuk menuntut atas kejadian yang menimpa orang tua mereka dan atas apa yang ditimpakan pemerintah beserta rakyat indonesia kepada mereka.

tapi catatan yang penting adalah:
1. kondisi labeling dan stereotyping terhadap komunis dan keturunannya juga dipengaruhi oleh wacana yang dibangun pemerintah saat itu. tentunya semua ingat bagaimana pemerintah menghujani komunis dengan discourse2 mengenai kekejaman PKI lewat film, buku dan pelajatan di sekolah2 dasar. (sampai sekarang ketika membuat SKCK masih ada pertanyaan: di mana kah (apa yang) anda (lakukan) ketika peristiwa madiun?)
2. tidak ada yang bisa dituntut karena mereka dicap "bersalah" sejak awal..
3. identitas ada 2 macam: ascribe dan achieved. ascribe adalah identitas yang diwariskan sejak lahir, memiliki hubungan darah, sementara achieved adalah identitas yang didapatkan dalam proses hidup individu. komunis ada di golongan yang kedua.

kira-kira begitu deh, mudah2an lebih clear ttg perbedaan dgn Holocaust.. sementara untuk Laha Massacre nanti dulu ya.. hehe..

terima kasih sudah mau baca, hehe
Member
Registered: Oct 2010
Posts: 59
Location: Balikpapan - Malang

seperti kata nya Pramodya Ananta Toer yang mengatakan bahwa holocoust adalah pembantaian terbesar dari sejarah umat manusia dan yang kedua adalah pembantaian yang di lakukan Soeharto pada PKI
Moderator
Registered: Aug 2010
Posts: 334
Location: Ciputat, Tanerang Selatan - Jakarta PP

memang aneh juga di negeri kita ini, sampai sekarang pun kebencian pada komunis dan pengikutnya serta keturunannya pun masih mendarah daging tanpa perlu alasan, tanpa perlu pemahaman. kebencian pada komunis seperti ketakutan pada hantu, tak perlu alasan tak perlu pengalaman.

orde baru sangat berhasil membuat memory dan kebencian komunal ya....
bahkan di tahun 2000an pun seorang Taufik ismail masih dengan gagahnya mengatakan Komunis
Telah Membantai 120 Juta Orang di 70 Negara, 165: BISAKAH PKI MEMBANTAI 20 JUTA?

dan di tahun 2009, seorang Guru Besar Ilmu Sejarah pun membakar buku "revolusi agustus", sebuah narasi baru dari sudut pandang pelaku sejarah peristiwa madiun...

sepertinya kebodohan di negeri kita ini bukan hanya pada pikiran orang awam.... :-P



btw, mungkin keluar dari topiknya,
kalau boleh saya bertanya, kenapa di indonesia komunis (PKI) bisa tumbuh dengan berasimilasi dalam syarekat Islam?
Member
Registered: Jan 2011
Posts: 12

respons utk out of topicnya mas cupicuk nih:
syarekat islam adalah organisasi politik pertama di indonesia, dan karena pengaruhnya cukup kuat pada jaman it, muncul ketertarikan dari pihak luar. jaman itu SI punya kebijakan bahwa kadernya boleh jg menjadi atau mengembangkan organisasi lain. tahun 1914 ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging) lahir lalu coba masuk ke syarekat islam utk kasih pengaruh. percobaan pertama gagal krn selain gagasan mereka khas impor, jg kurang sejalan dgn SI. lalu pendekatan berikutnya dgn cara infiltrasi, penyusupan. mereka ga terang-terangan lagi soal ideologi dan bisa klop sama SI lewat ide "memperjuangkan rakyat kecil". ISDV ini adalah cikal bakal PKI.

SI lalu melakukan reformasi kebijakan. kader2 tidak boleh lagi berdiri multi-organisasi. mereka menuntut kadernya utk memilih SI atau organisasi di luar. di saat ini lah SI terpecah dua, menjadi SI putih dan SI merah. SI merah ini berisikan Semaoen, Tan Malaka dan kader2 berideologi komunis. sejak itu SI putih berdiri sendiri dan kelak menjadi PSI. sementara kader2 SI merah membangun PKI.

sekian mas, mudah2an membantu. hehe
Member
Registered: Jan 2012
Posts: 549
Location: Perumnas Antang, Makassar

Yahudi, Holocaust, apa ada hbungan dengan 'konspirasi tatanan dunia baru'..??
maap klo prtanyaan ku sdikit ngawur..

Post Reply

Page: 1