Edisi: Mei 2009Bayi Es

Namun, kepunahan itu juga bersamaan waktunya dengan datangnya kekuatan pengubah ekologi yang lain. Manusia modern muncul di Afrika sekitar 195.000 tahun lalu dan menyebar ke Eurasia utara sekitar 40.000 tahun lalu. Seiring berjalannya waktu, populasi manusia yang bertambah besar semakin menekan spesies mangsa. Di samping memanfaatkan mamut sebagai makanan—jantan besar yang dibunuh pada musim gugur dapat menunjang kehidupan kawanan pemburu lapar melewati hari-hari paceklik di musim dingin—mereka menggunakan tulang dan gadingnya untuk membuat senjata, perkakas, patung, dan bahkan tempat tinggal. Beberapa ilmuwan percaya bahwa di samping perubahan iklim, para manusia pemburu yang menggunakan lembing lempar bermata batu runcing ini sama bertanggung jawabnya atas kematian massal tersebut. Beberapa beranggapan, manusialah penyebabnya. Perdebatan mengenai kepunahan megafauna adalah salah satu debat tersengit dalam paleontologi masa kini dan kemungkinan perdebatan itu tidak akan dituntaskan oleh satu spesimen, selengkap apa pun jasadnya. Akan tetapi, Khudi benar bahwa bayi yang sekarang hilang itu—daging, organ dalam, isi perut, tulang, gigi susu, dan gadingnya, semuanya utuh—pasti sangat menarik bagi dunia luar.

Khudi juga curiga bahwa orang yang mau menangani benda semacam itu mungkin akan mendapat untung besar—pedagang gading secara berkala mengunjungi wilayah itu untuk membeli gading mamut dan entah berapa yang akan mereka bayar untuk mamut utuh? Kecurigaan Khudi segera jatuh kepada salah seorang sepupunya yang oleh beberapa orang Nenets dilihat ada di beting itu dan kemudian terlihat pergi naik kereta rusa-kutubnya ke arah kota Novyy Port.

Khudi dan Serotetto bergegas mengejar dengan mobil salju. Setibanya, mereka melihat mamut kecil itu disandarkan di tembok sebuah toko. Orang-orang memotretnya dengan kamera ponsel. Si pemilik toko telah membeli jasad itu dari sepupu Khudi seharga dua mobil salju dan makanan untuk setahun. Walau tidak lagi sempurna—anjing geladak telah menggerogoti sebagian ekor dan telinga kanannya—berkat bantuan beberapa polisi lokal, Khudi dan Serotetto berhasil memperoleh kembali bayi itu. Jasad itu lalu dibungkus dan dikirim dengan helikopter untuk disimpan dengan aman di Museum Shemanovsky di Salekhard, ibu kota wilayah itu.

“Untungnya berakhir bahagia,” ujar Alexei Tikhonov, direktur Museum Zoologi St. Petersburg dan salah seorang ilmuwan pertama yang melihat bayi yang ternyata betina itu. “Yuri Khudi menyelamatkan mamut paling awet yang kita peroleh dari Zaman Es.”

Para pegawai yang berterima kasih menamainya Lyuba, sama dengan istri Khudi.

Halaman 4 dari 10
1-2-3-4-5-6-7-8-9-10
email a friend icon printer friendly icon    |   
- ADVERTISEMENT -


blog
Sentra Blog
Baca laporan dan tips kami, lalu tuangkan pendapat Anda melalui forum komentar.
blog
Newsletter NGI
Dapatkan kabar terbaru dari kami, langsung ke email Anda.
blog
Widget
Personalisasikan situs Anda dan dapatkan akses lebih mudah ke jejaring website NGI.