Hanya satu hari dalam setahun mereka berpaling ke masa lalu. Itu di bulan April, ketika Festival Qingming berlangsung. Qingming berarti “hari yang sangat cerah” dan selama lebih dari satu milenium festival ini telah dirayakan dalam beragam bentuk di berbagai daerah di China. Pemujaan terhadap leluhur bahkan dimulai di masa yang lebih awal lagi. Lebih dari 5.000 tahun yang lalu, kebudayaan China bagian utara telah menghargai arwah melalui upacara yang sangat tertata rapi. Gaung dari tradisi tersebut masih bertahan hingga hari ini, dan sepanjang tahun pertama tinggal di desa ini, ketika liburan tiba, saya menemani para tetangga dalam perjalanan ritual mereka menuju pemakaman.
Hanya kaum lelaki yang diperbolehkan berpartisipasi. Semuanya dinamakan Wei, dan sekitar selusin anggota dari klan besar ini berangkat sebelum fajar, mendaki jalan terjal menuju gunung di belakang desa. Mereka mengenakan pakaian kerja biasa dan memanggul tas anyaman pipih serta sekop di bahu. Mereka tidak saling mengobrol maupun berhenti untuk istirahat. Mereka bergerak dengan ketegasan serombongan pekerja—dengan alat yang siap digunakan, berjalan melintasi pepohonan aprikot yang kuntumnya berkilau seperti bintang terkena sinar matahari fajar. Setelah 20 menit kami sampai di pemakaman desa. Pemakaman itu terletak tinggi di gunung, tempat di mana gundukan-gundukan tanah telah diatur dalam barisan rapi. Setiap baris mewakili sebuah generasi dan para lelaki mulai bekerja di baris terdepan, memelihara kuburan mulai dari yang paling akhir meninggal—ayah dan ibu, paman, dan bibi. Mereka menyiangi tanah dan menimbun tanah baru di atasnya. Mereka meninggalkan kado khusus seperti botol-botol minuman alkohol atau beberapa bungkus rokok. Dan mereka membakar uang kertas untuk digunakan di kehidupan setelah mati. Uang kertas tersebut memiliki tanda air bertuliskan “PT Bank Surga.”
Setiap penduduk memberikan perhatian khusus terhadap kerabat dekatnya, dimulai dari barisan ayah ke kakek dan kakek buyut. Hampir tidak ada kuburan yang memiliki penanda, dan ketika para lelaki bergerak ke barisan belakang, mereka semakin tidak yakin mengenai identitas leluhurnya. Pada akhirnya, pekerjaan tersebut menjadi pekerjaan bersama. Setiap orang menimbun tiap gundukan dan tidak ada seorang pun yang tahu kuburan siapakah itu. Kuburan terakhir berdiri sendirian, perwakilan tunggal dari generasi keempat. “Lao zu,” kata seorang penduduk. “Sang leluhur.” Tidak ada nama lain untuk sang anggota klan asli, yang rinciannya telah hilang selama bertahun-tahun.
Ketika mereka selesai bekerja, sinar pagi telah berpijar di belakang puncak sisi timur. Seorang pria bernama Wei Minghe menjelaskan bahwa setiap gundukan melambangkan sebuah rumah bagi para arwah, dan tradisi setempat mengharuskan mereka untuk menyelesaikan ritual Qingming sebelum fajar. “Jika kamu menimbun makam sebelum matahari terbit, artinya di alam baka para arwah mendapat atap genteng,” ujarnya. “Jika kamu tidak melakukannya tepat waktu, para arwah mendapat atap jerami.”