Tanya saja Wali Kota Massimo Cacciari, seorang profesor filosofi yang murung dan temperamental, fasih berbahasa Jerman, Latin, Yunani Kuno. Dialah penerjemah Antigone karya Sophocles. Dialah orang yang mengangkat kecerdasan politik hingga nyaris ke stratosfer. Kalau ditanya tentang acqua alta dan Venesia yang tenggelam, jawabnya, “Beli sepatu bot.” Biar mereka bersepatu bot.
Bot memang bisa menahan air, tetapi tak berdaya menghadapi banjir yang lebih mengkhawatirkan daripada meluapnya laguna: banjir wisatawan. Jumlah penduduk Venesia pada 2007: 60.000 jiwa. Jumlah pengunjung 2007: 21 juta jiwa.
Pada Mei 2008 misalnya, saat libur akhir pekan, 80.000 wisatawan membanjiri kota itu laksana kawanan belalang yang menyerbu ladang di Mesir. Lapangan-lapangan umum di Mestre—bagian kota yang berada di daratan, tempat orang memarkir kendaraan lalu naik bus atau kereta api ke pusat bersejarah tersebut—penuh dan tutup. Orang yang sampai ke Venesia memenuhi jalanan laksana kawanan ikan, memamah pizza dan gelato, meninggalkan kertas dan botol plastik.
La Serenissima (“yang terdamai”), demikian julukan Venesia, sangat tak sesuai dengan namanya. Pengunjung dari berbagai penjuru dunia melangkah masuk Venesia, bak pembaptisan yang berukir indah, tangan memegang buku panduan, sementara khayalan bersesakan di dalam tas bersama sikat gigi dan sepatu lapangan. Byurr! Tersingkirlah orang Venesia. Pariwisata bukanlah satu-satunya penyebab meningkatnya eksodus, tetapi ada satu pertanyaan yang menghantui laksana kabut: siapakah yang akan menjadi orang Venesia terakhir?
“Venesia kota yang memesona," ujar direktur sebuah yayasan budaya. Dari jendelanya kita bisa melihat Basin San Marco—armada kapal cepat, gondola, serta bus-air yang disebut vaporetto lalu-lalang tanpa henti—hingga ke Piazza San Marco, pusat wisata Venesia. “Sungguh, kota ini teater raksasa. Jika punya uang, orang dapat menyewa apartemen di palazzo abad ke-17 lengkap dengan pelayan, lalu berpura-pura menjadi bangsawan.”
Silakan duduk. Dalam drama ini, Venesia memainkan dua peran. Ada Venesia yang dihuni penduduk dan Venesia yang dikunjungi wisatawan. Pencahayaan, panggung, serta kostumnya adalah kegetiran yang demikian indah, tetapi alur ceritanya membingungkan, akhir ceritanya tidak pasti. Satu hal yang pasti: semua orang tergila-gila pada tokoh utama.
***