Edisi: Mei 2009Bayi Es
gallery

Mamut beku yang kondisinya nyaris sempurna kembali muncul ke permukaan setelah 40.000 tahun, memberi petunjuk tentang spesies raksasa yang punah.

Oleh Tom Mueller
Foto oleh Francis Latreille

DUKA SANG INDUK
Kawanan mamut mendekati sungai yang deras. Seekor anak mamut berjalan di dekat kaki induknya yang besar, sesekali menggesekkan belalai ke bulu kaki induknya yang panjang dan berkilau. Langit biru cerah dan angin kering berdesir melintasi rerumputan yang bergoyang laksana ombak laut di stepa selebar 18.000 km yang membentang di busur utara dunia Zaman Es. Musim dingin yang panjang telah berakhir; kicauan burung dan bau lempung basah memenuhi udara.

Mungkin kehangatan mentari membuat sang induk lengah dan untuk sesaat dia kehilangan jejak anaknya. Si bayi mamut mengeluyur ke sungai. Bayi betina itu terpeleset di tepi sungai yang licin dan meluncur ke dalam campuran lumpur, pasir, dan salju yang baru mencair. Si mamut kecil berjuang untuk melepaskan diri, tetapi setiap gerakan yang dibuat justru semakin menenggelamkannya. Lumpur memasuki mulut, belalai, dan matanya; Si kecil yang bingung itu megap-megap, tapi bukannya mendapat udara, malah lumpur yang memenuhi mulutnya. Anak mamut ini terbatuk-batuk, tersedak, dan dilanda kepanikan, lalu dia memekik nyaring ketakutan, sehingga induknya datang berlari. Karena mencoba mengisap udara sekuat tenaga, si bayi mamut menghirup lumpur jauh ke dalam trakea, menyumbat paru-parunya. Ketika induknya sampai ke tepi sungai, si bayi sudah setengah tenggelam dalam lumpur sedingin es dan meronta dengan sia-sia, mengalami gegar jiwa yang cepat. Sang induk menjerit dan berlari bolak-balik di tepi sungai yang lembek, sehingga seluruh kawanan berdatangan. Bledug itu menyaksikan anaknya tenggelam.

Malam turun. Kawanan itu melanjutkan perjalanan, tapi sang induk tinggal. Sinar bulan keemasan memetakan bayangan berpunuknya di lumpur yang berkilau. Bulan tenggelam, dan bintang berkelap-kelip di langit nan dingin. Menjelang fajar, untuk terakhir kalinya dia menatap tempat bumi menelan bayinya, lalu berpaling dan mengikuti kawanan mamut ke utara, menuju padang rumput musim panas.


SELENGKAPNYA »
email a friend icon printer friendly icon    |   
- ADVERTISEMENT -


blog
Sentra Blog
Baca laporan dan tips kami, lalu tuangkan pendapat Anda melalui forum komentar.
blog
Newsletter NGI
Dapatkan kabar terbaru dari kami, langsung ke email Anda.
blog
Widget
Personalisasikan situs Anda dan dapatkan akses lebih mudah ke jejaring website NGI.