DUKA SANG INDUK
Kawanan mamut mendekati sungai yang deras. Seekor anak mamut berjalan di dekat kaki induknya yang besar, sesekali menggesekkan belalai ke bulu kaki induknya yang panjang dan berkilau. Langit biru cerah dan angin kering berdesir melintasi rerumputan yang bergoyang laksana ombak laut di stepa selebar 18.000 km yang membentang di busur utara dunia Zaman Es. Musim dingin yang panjang telah berakhir; kicauan burung dan bau lempung basah memenuhi udara.
Mungkin kehangatan mentari membuat sang induk lengah dan untuk sesaat dia kehilangan jejak anaknya. Si bayi mamut mengeluyur ke sungai. Bayi betina itu terpeleset di tepi sungai yang licin dan meluncur ke dalam campuran lumpur, pasir, dan salju yang baru mencair. Si mamut kecil berjuang untuk melepaskan diri, tetapi setiap gerakan yang dibuat justru semakin menenggelamkannya. Lumpur memasuki mulut, belalai, dan matanya; Si kecil yang bingung itu megap-megap, tapi bukannya mendapat udara, malah lumpur yang memenuhi mulutnya. Anak mamut ini terbatuk-batuk, tersedak, dan dilanda kepanikan, lalu dia memekik nyaring ketakutan, sehingga induknya datang berlari. Karena mencoba mengisap udara sekuat tenaga, si bayi mamut menghirup lumpur jauh ke dalam trakea, menyumbat paru-parunya. Ketika induknya sampai ke tepi sungai, si bayi sudah setengah tenggelam dalam lumpur sedingin es dan meronta dengan sia-sia, mengalami gegar jiwa yang cepat. Sang induk menjerit dan berlari bolak-balik di tepi sungai yang lembek, sehingga seluruh kawanan berdatangan. Bledug itu menyaksikan anaknya tenggelam.
Malam turun. Kawanan itu melanjutkan perjalanan, tapi sang induk tinggal. Sinar bulan keemasan memetakan bayangan berpunuknya di lumpur yang berkilau. Bulan tenggelam, dan bintang berkelap-kelip di langit nan dingin. Menjelang fajar, untuk terakhir kalinya dia menatap tempat bumi menelan bayinya, lalu berpaling dan mengikuti kawanan mamut ke utara, menuju padang rumput musim panas.
SELENGKAPNYA »