Rusia yang baru semakin memudar saat kendaraan meninggalkan Moskwa. Kemacetan, polusi, mal-mal yang menjamur, dan papan-papan reklame yang menjadi buah dari tahun-tahun ekonomi pasar berganti dengan kawasan pinggiran nan kelabu serta pabrik-pabrik karatan peninggalan Uni Soviet. Lalu, pemandangan itu pun berganti menjadi hutan pinus dan pohon perak yang menjulang diselingi padang rumput serta desa-desa berumah kayu yang tak lekang oleh zaman. Sesekali, menara berwarna cerah-ceria menukas cakrawala. Kubahnya yang keemasan berkilau di bawah siraman cahaya mentari musim semi. Kami kembali ke glubinka, Rusia “pedalaman” yang dicintai para Slavofilia (pengagum budaya slavia), kaum buangan, dan pelukis. Kami langsung menuju ke ulu hatinya.
SELENGKAPNYA »