"Siddhayatra" Sriwijaya

''Siddhayatra'' Sriwijaya

Tepat seratus tahun lalu, Sriwijaya dikira nama seorang raja. Kini?

Oleh Reynold Sumayku
Foto oleh Reynold Sumayku

Lelaki itu muncul begitu saja. Berdiri di sebelah kiri saya lalu mengiringi berjalan perlahan. Rambut, kumis, dan kemeja lengan panjang yang dikenakannya semua berwarna putih. Celananya berwarna abu-abu. Ia menegur, “Anda datang dari mana?”

Handuk berwarna merah muda tergantung di leher dan dadanya. Lelaki yang sekurangnya berumur 60-an tahun ini terkesan lelah. Saya menjawab, “Indonesia.” Ada kilat cahaya di matanya. Seakan-akan ia telah menduga. “Wihara ini dahulu dibangun oleh seorang raja dari Sumatra yang sekarang bagian dari Indonesia,” katanya cepat-cepat, sebelum berlalu untuk mendampingi satu keluarga pelancong lokal. Ia rupanya seorang pemandu wisata.

Saya sedang berada di Nalanda, suatu desa di Negara Bagian Bihar, India. Tepatnya di dalam salah satu bangunan dalam kompleks berdinding bata merah yang sebagian besar bagiannya telah berusia lebih dari satu milenium.

Kompleks ini, Nalanda Mahawihara, dikenal sebagai sisa-sisa dari pusat pendidikan ajaran Buddha yang paling terkenal sejak abad kelima hingga ke-12. Selain wihara tempat saya berdiri, yang ditandai dengan nama Monastery 1, terdapat sembilan bangunan bekas wihara lain. Semua wihara bentuknya seperti bujursangkar kalau dilihat dari atas.

Pada keempat sisi setiap wihara terdapat jajaran kamar untuk para biksu. Lantainya dua tingkat. Pelataran utama terdapat di tengah lantai bawah, tempat berdirinya beberapa bangunan lain—di antaranya untuk pemujaan.

Pelataran bagian tengah ini tidak sama antara satu wihara dengan lainnya. Khusus di Monastery 1 terdapat sumur di satu sudut. Ada juga dua ruangan menyerupai gua, diperkirakan gudang ransum untuk para biksu. Dekat salah satu dinding berdiri struktur persegi yang merupakan caitya (tempat pemujaan) utama. Di balik bentukan itu terdapat panggung kecil persegi dari batu. Di atasnya diletakkan batu-batu, untuk tempat duduk dan berdiskusi antara guru dan murid-murid—suatu kelas terbuka.

Monastery 1 di Nalanda Mahawihara ini merupakan salah satu saksi tertua tentang hubungan resmi antara suatu negeri dalam wilayah Indonesia sekarang dengan negeri lain di seberang lautan. Adalah Balaputradewa—dengan titel maharaja (raja di antara raja-raja)—yang terkait erat dengan pembangunan Monastery 1. Ia raja dari Swarnadwipa, sebutan orang India untuk Sumatra di masa sejarah klasik. Namanya terukir bersamaan dengan pembangunan Monastery 1 ini menjelang per­te­ngahan abad kesembilan.

“Atas permintaan Maharaja Balaputradewa yang termasyhur, raja Swarnadwipa melalui utus­annya, saya membangun wihara ini.” Itu bunyi kalimat pertama bagian inti isi pra­sasti berbahan pelat tembaga ini. Prasasti Nalanda, para ahli menyebutnya, ditemukan di reruntuhan tangga masuk Monastery 1 pada penggalian tahun 1921.

Bagian atas prasasti dihiasi semacam cap resmi dengan ukiran indah. Secara keseluruhan, prasasti ini memang menyerupai piagam. Cendekiawan India bernama Hirananda Sastri yang pertama kali menerbitkan isinya pada 1924. Menurut Sastri, penerbit prasasti Nalanda adalah Raja Devapala dari Kerajaan Pala di Benggala yang waktu itu menguasai wilayah luas di India. Devapala sendiri berkuasa pada 810-850.


Kirimkan tanggapan Anda mengenai feature "''Siddhayatra'' Sriwijaya" melalui halaman Surat Pembaca. Surat yang terpilih akan dimuat di Majalah National Geographic Indonesia edisi mendatang. Satu surat terbaik pilihan editor akan mendapatkan merchandise dari NG Indonesia setiap bulannya.

Terkait



 

Komentar


Majalah

Edisi April 2014

Langganan →

Indeks Feature →

Polling

Loader