Menjaga Hayat Ebeg Cilacap
Januari 2016

Menjaga Hayat Ebeg Cilacap

Sempat jaya, lalu surut, kuda lumping Banyumasan kembali bangkit setelah tenggelam dalam geliat zaman.

Menjaga Hayat Ebeg Cilacap

Oleh Agus Prijono

Cetar! Cetar! Laksana petir di siang bolong, lengkingan cemeti itu menembus jantung telinga. Siang itu, berdiri tegap di tengah lapangan, Kasirin menyentakkan ujung cemetinya. Suaranya menembus udara hangat. Mata Kasirin menatap barisan para pemain ebeg. Para penari telah bersimpuh di tanah sambil menunggang kuda lumping. Mereka menanti pergelaran dibuka. Hentakan kendang, dentuman drum, dengung gong, saron, kempul, dan lengkingan trompet bertalu-talu. Sinden mendendangkan tembang Jawa seiring ...

Silakan login untuk melihat feature ekstra ini selengkapnya.

KOMENTAR