Tumpahan Minyak Tewaskan Lebih dari 2400 Hewan dan Ancam Kehidupan Penduduk Lokal
2018 / April / 2   16:57

Tumpahan Minyak Tewaskan Lebih dari 2400 Hewan dan Ancam Kehidupan Penduduk Lokal

Tumpahan minyak di Kolombia memberikan dampak buruk pada lingkungan sekitar. Ribuan hewan mati, tumbuhan rusak, dan penduduk lokal mengalami gangguan kesehatan.

Tumpahan Minyak Tewaskan Lebih dari 2400 Hewan dan Ancam Kehidupan Penduduk LokalIlustrasi tumpahan minyak. (Ufokim/Thinkstock)

Pada awal Maret lalu, sumur minyak di Kolombia Utara meledak. Memuntahkan banyak minyak ke sungai Magdalena, jalur utama air yang mengalir sekitar 950 mil ke arah utara melalui bagian barat negara tersebut.

Sampai bulan selanjutnya, beberapa laporan menyatakan bahwa peristiwa tersebut membunuh lebih dari 2400 hewan, termasuk ternak, ikan, burung dan reptil. Lebih dari 1000 spesies tumbuhan hampir rusak.

Para warga yang tinggal di wilayah tersebut juga terpaksa harus diungsikan. Mereka mengalami muntah-muntah, pusing dan sakit kepala akibat tumpahan minyak.

“Saya tidak memiliki apa pun untuk dimakan. Kami sudah tinggal di pinggir sungai sepanjang hidup, tapi kontaminasi minyak ini sudah membahayakan Magdalena,” ujar salah satu penduduk.

(Baca juga: 3 Fakta Penting Seputar Isu Cacing di Sarden Kalengan yang Wajib Anda Ketahui)

Para konservasionis mengatakan, bencana lingkungan ini adalah yang terburuk yang pernah dihadapi Kolombia. Ecopetrol, perusahaan minyak milik negara yang bertanggung jawab atas insiden ini, mengatakan ada 550 barel minyak yang tumpah. Namun, pihak lain melaporkan bahwa ada 24 ribu barel yang tumpah.

Ecopetrol mengatakan 1250 hewan telah berhasil diselamatkan dan tumpahan minyak sudah ditangani. Namun, pihak lokal menyatakan, minyak masih terus mengalir.

Sejauh ini, minyak merembes sekitar 15 mil dan mencemari sungai Lizama dan Sogamoso. Investigasi mengenai penyebab kebocoran minyak masih berlangsung, hanya beberapa detail yang baru diketahui.

Tumpahan minyak memiliki efek jangka panjang, dan negara akan menghadapi masalah lingkungan. Minggu lalu, sebuah laporan mengungkapkan bahwa sungai Cauca, Kolombia, yang terletak di selatan lokasi pencemaran, tidak aman untuk manusia. Berdasarkan keterangan dari koran lokal El Pais, logam berat karsinogenik ditemukan pada ikan-ikan yang biasa dimakan manusia.  

Tumpahan minyak di Kolombia ini mencerminkan beberapa peristiwa yang pernah terjadi di Peru pada 2016. Dari laporan diketahui bahwa 450 penduduk lokal mencari bantuan medis untuk gangguan kesehatan yang berkaitan dengan kontaminasi minyak.

“Saat tumpahan terjadi, kontak dengan minyak memiliki efek samping yang menyeramkan,” kata Rebecca Wolff, jurnalis National Geographic yang meliput peristiwa tersebut.

Tidak hanya mempengaruhi flora dan fauna pada lingkungan, tumpahan minyak juga merusak lahan pertanian. Karena terkontaminasi, lahan pun tidak bisa dipanen. Warga juga harus menghindari makan ikan karena sudah tercemar.

Selain itu, orang-orang yang menderita kontaminasi minyak akan mengalami gangguan pernapasan, ruam kulit, kelelahan, dan penyakit yang tidak bisa didiagnosis selama berbulan-bulan atau tahunan. Masalah ini juga bisa membunuh anak-anak.

(Baca juga: Dari Kelebihan Hingga Kekurangan, Ini Alasan Mengapa Krisis Air Terjadi)

Wolff menambahkan, butuh waktu beberapa hari bagi pemerintah lokal untuk membenahi tumpahan minyak. Jadi, para penduduk dibiarkan untuk membersihkan sendiri lingkungannya tanpa proteksi yang cukup.

“Ada bahaya yang menghantui terus-menerus apabila minyak mencemari ikan dan semua yang ada dalam air. Jika Anda merusak air tempat kehidupan penduduk lokal bergantung, maka mata pencaharian mereka bisa hilang,” papar Wolff.

Ia mengatakan, perawatan medis jangka panjang dan dukungan keuangan sangat penting untuk membantu masyarakat menanggapi jenis bencana ini. Terutama dari pemerintah.

“Warga dunia perlu memberikan perhatian lebih dan respons yang lebih baik. Tumpahan minyak terjadi hampir di seluruh dunia, dan saya pikir, kita belum memberikan dukungan yang cukup kepada para korban,” pungkas Wolff.

(Elaina Zachos/National Geographic)

KOMENTAR