Peneliti Prediksi 7 Benua Akan Menyatu Kembali dalam 250 Juta Tahun

Peneliti Prediksi 7 Benua Akan Menyatu Kembali dalam 250 Juta Tahun

Para ilmuwan mengungkap bahwa dalam 250 juta tahun, masing-masing benua kita sekali lagi akan bergeser menjadi benua super tunggal yang dikelilingi oleh lautan.

Peneliti Prediksi 7 Benua Akan Menyatu Kembali dalam 250 Juta TahunBatas-batas negara dan garis-garis pantai saat ini tumpang tindih pada Pangaea 250 juta tahun silam. Beberapa wilayah dunia modern tidak terlihat; kerak benua mereka terbentuk belakangan. (JEROME N. COOKSON, STAF NGM. SUMBER: RON BLAKEY, COLORADO PLATEU GEOSYSTEMS)

Apa yang Anda pikirkan saat mendengar kata benua? Pikiran Anda mungkin akan langsung tertuju pada 7 benua yang sudah pernah dipelajari di sekolah. Namun, tahukah Anda bahwa jutaan tahun lalu Bumi tidak terbagi menjadi benua-benua yang ada seperti sekarang? Pada masa itu hanya ada satu benua super besar bernama Pangea.

Kini, sebuah penelitian baru di Geophysical Research Letters yang diterbitkan Rabu, (11/4/2018) mengungkap adanya kemungkinan benua super besar ini terbentuk lagi di masa depan. Dengan menggunakan pemodelan statistik, para ilmuwan mengungkap bahwa dalam 250 juta tahun, masing-masing benua kita sekali lagi akan bergeser menjadi benua super tunggal yang dikelilingi oleh lautan.

Seperti yang kita tahu, posisi benua Bumi bergantung pada pergerakan, tenggelamnya, serta bergesernya lempeng tektonik. Selain itu, ukuran dan bentuk cekungan lautan juga mempengaruhi posisi benua.

Artikel terkait: Inilah Pangea, Rupa Benua Pertama Kita

Melalui studi baru itu, para peneliti menunjukkan bahwa pergerakan lempeng tektonik juga menentukan siklus pasang surut super (super tidal) yang mengendalikan kekuatan gelombang laut. Siklus panjang ini pada gilirannya, menciptakan perubahan dalam energi pasang surut (energi tidal) yang menurut para peneliti terkait dengan pembentukan benua super setiap 400 hingga 600 juta tahun.

"Simulasi kami menunjukkan bahwa saat ini gelombang itu sangat besar," kata Mattias Green, Oceanografer Universitas Bangor, Inggris dikutip dari Inverse, Rabu (11/04/2018).

"Jika gelombang melemah hingga 200 juta tahun yang lalu, lalu menjadi sangat energik selama dua juta tahun terakhir, kira-kira apa yang akan terjadi jika kita proyeksikan jutaan tahun di masa depan? Itu benar-benar adalah pertanyaan yang memotivasi kami," tambahnya.

Tertarik dengan hal tersebut, Green dan timnya menciptakan model yang menyimulasikan gerakan lempeng tektonik dan perubahan resonansi cekungan laut. Hal ini mereka lakukan untuk menjawab pertanyaan itu.

Dari analisis mereka kemudian menyimpulkan bahwa lautan akan melalui beberapa siklus pasang surut sebelum benua super berikutnya benar-benar terbentuk. Dan saat ini kita sedang berada pada tahap awal dari energi pasang surut maksimum dan gelombang laut diperkirakan akan bertahan selama 20 juta tahun lagi.

Baca juga: Hati-hati, Empat Teknik Mengolah Makanan Ini Bisa Membuat Kita Keracunan

Akhirnya, lempeng Amerika Utara dan Eurasia akan menjauh, Samudara Atlantik akan berubah perlahan dan melebar. Jika pemodelan ini benar, maka dalam 50 juta tahun Asia akan terpecah, menyebabkan terbentuknya samudra baru. Ditambah lagi, dalam 100 juta tahun, Australia akan bergerak ke utara menuju ke bagian bawah Asia.

Ketika benua-benua bergabung menjadi satu, energi pasang surut akan menurun dan akhirnya lautan luas yang tenang akan mengelilingi benua super. Meski benua super baru akan terjadi dalam waktu jutaan tahun lagi. Informasi ini akan digunakan oleh para ilmuwan untuk mempelajari hubungan antara pasang surut dan kehidupan laut yang berkelanjutan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com. Baca artikel sumber.

(Monika Novena/Kompas.com)

KOMENTAR