Menengok Kehidupan Pengawet Satwa Liar Terakhir di India
2018 / April / 6   15:39

Menengok Kehidupan Pengawet Satwa Liar Terakhir di India

Perajin otodidak ini memelihara hewan liar dari seluruh penjuru negeri untuk dinikmati generasi mendatang—meskipun khawatir seni tersebut akan mati bersamanya.

Menengok Kehidupan Pengawet Satwa Liar Terakhir di IndiaMenjumpai Santosh Gaikwad, taksidermis hewan liar terakhir di India. (Karen Dias/National Geographic)

Di negara berpenduduk 1,3 miliar orang, sulit membayangkan hanya ada satu orang yang memiliki keahlian tertentu. Ialah Santosh Anant Gaikwad, yang mungkin kini menjadi pengawet satwa liar terakhir di India.

Gaikwad adalah seorang dokter hewan dan profesor anatomi di Bombay Veterinary College. Penduduk asli Mumbai berusia 44 tahun ini menjadi tertarik pada taksidermi—seni mengolah dan mengawetkan binatang—setelah ia mengunjungi museum utama kota (yang sebelumnya dikenal sebagai Prince of Wales Museum) pada tahun 2003.

Terinspirasi oleh kualitas nyata spesimen mamalia dan burung dari koleksi sejarah alam, Gaikwad merasa terdorong untuk mempelajari teknik itu sendiri—meskipun dia belum pernah mendengar istilah “taksidermi” sebelumnya.

Artikel terkait: Menengok "Kerajaan Perempuan" Terakhir di Tanah Himalaya

Gaikwad memutuskan untuk belajar secara otodidak, karena satu-satunya taksidermis yang dapat ditemukannya sudah lama pensiun atau bekerja hanya untuk mempertahankan spesimen yang ada. Sudah akrab dengan anatomi, ia membaca banyak buku dan berteman dengan para seniman untuk mempelajari teknik menyamak, melukis, dan mematung yang diperlukan untuk membuat model yang akurat, untuk ditutupi kulit binatang yang digunakan.

Dimulai dengan ayam dan merpati yang diangkut pulang dari rumah sakit hewan tempat ia bekerja, ia kemudian mempraktikannya ke ikan, kucing, dan anjing. Pada tahun 2008, seperti yang ditulisnya di majalah Open India, ia mulai mempraktikannya pada hewan liar: macan tutul, burung merak, hingga gajah.

Setelah keluar dari rumah sakit hewan untuk mendedikasikan dirinya dalam mengawetkan binatang, Gaikwad sekarang bekerja di Wildlife Taxidermy Centre yang ia dirikan di Sanjay Gandhi National Park. Dia menyimpan ratusan hewan liar dari spesimen yang dikirim kepadanya oleh departemen kehutanan, kebun binatang, dan pejabat museum dari seluruh negeri.

Artikel terkait: Memuliakan Bidadari dari Surga Terakhir di Bumi

Namun, tidak seperti di Amerika Serikat—tempat pengecer yang khusus menyediakan barang-barang seperti kaca mata, dan konferensi industri yang menarik ribuan orang—hampir tidak ada sumber daya taksidermi di India, kata Karen Dias, fotografer yang bekerja dengan Gaikwad dan menghasilkan video di atas.

“Dia ingin belajar lebih banyak dan menjadi lebih baik dalam hal itu,” ujar Dias. Namun, Dias menambahkan, Gaikwad tertatih-tatih karena kurangnya kesempatan untuk bekerja dengan rekan-rekan atau menghadiri simposium internasional.

Seni yang Hampir Mati

Muncul pada tahun 1700-an dan 1800-an, taksidermi sebagian berasal dari ide-ide studi ilmiah lebih lanjut, sebagian untuk menjadi hiasan rumah kelas menengah, dan sebagian untuk melestarikan spesimen hewan eksotis yang dikirim kembali ke kekaisaran Eropa dari koloni di seluruh dunia.

Sekarang, di dunia di mana kepunahan spesies lebih dekat dari sebelumnya, Gaikwad menggunakan taksidermi untuk melestarikan hewan guna memberikan pengetahuan bagi generasi mendatang.

Baca juga: 11 Hal yang Tidak Boleh Anda Unggah di Media Sosial

"Kami membakar atau mengubur jasad-jasad hewan itu," ungkap Gaikwad. “Dan keindahan alam itu hilang secara permanen. Ini adalah warisan kita. Taksidermi adalah anugerah Tuhan untuk saya,” imbuhnya.

Taksidermi bukan bagian dari silabus pendidikan di India. Meskipun Santosh sekarang melatih beberapa asisten di Wildlife Taxidermy Center, dia khawatir kerajinan tersebut akan mati bersamanya.

(Citra Anastasia. Sumber: Rachel Brown/National Geographic)

KOMENTAR