Cherophobia, Rasa Takut Akan Kebahagiaan
2018 / April / 17   15:23

Cherophobia, Rasa Takut Akan Kebahagiaan

Pengidap cherophobia yakin, sesuatu yang buruk akan segera terjadi apabila mereka terlalu bahagia.

Cherophobia, Rasa Takut Akan KebahagiaanBeberapa ahli kejiwaan mengklasifikasikan cheropobia sebagai bentuk kecemasan. (Thinkstock)

Anda tahu perasaan khawatir yang muncul saat kehidupan berjalan terlalu baik? Karena semuanya terlalu bagus untuk jadi kenyataan, Anda merasa ada sesuatu yang janggal?

Beberapa orang tidak bisa menghalau perasaan cemas tersebut. Ketika keberuntungan datang terus menerus, pikiran buruk muncul di kepala mereka.

Orang-orang yang memiliki keengganan untuk berbahagia, mengidap suatu kondisi yang dinamakan “cherophobia”. Istilah tersebut berasal dari bahasa Yunani “chairo” yang artinya “bersuka cita”. Jadi, secara umum, cherophobia berarti ketakutan untuk bersuka cita atau merasa bahagia.

(Baca juga: Hikikomori, Penyakit Mental yang Membuat Warga Jepang Mengurung Diri)

Bukan berarti mereka tidak mau mengikuti aktivitas yang menyenangkan. Namun, pengidap cherophobia merasa, apabila mereka terlalu bahagia, sesuatu yang buruk akan segera terjadi.

Menurut Healthline, beberapa ahli kejiwaan mengklasifikasikan cheropobia sebagai bentuk kecemasan.

Seseorang yang memiliki cherophobia tidak sedih dan mengurung diri setiap saat. Mereka hanya menghindari aktivitas dan acara yang bisa membawa kebahagiaan. Berikut beberapa gejala cherophobia:

  • Merasa cemas saat diundang ke acara perkumpulan
  • Melewatkan kesempatan-kesempatan positif karena takut sesuatu yang buruk akan terjadi
  • Menolak bergabung dengan aktivitas yang “menyenangkan”
  • Memiliki pemikiran bahwa kebahagiaan akan membawa kesialan
  • Merasa jadi orang jahat apabila terlalu bahagia
  • Menganggap bahagia adalah upaya yang menghabiskan waktu dan sia-sia.

Dalam sebuah wawancara di The Metro, blogger Stephanie Yeboah mendeskripsikan bagaimana rasanya hidup dengan cherophobia.

“Pada akhirnya, itu seperti rasa putus asa, yang mengarahkan ke kecemasan dan kewaspadaan untuk melakukan sesuatu yang bisa memunculkan kebahagiaan,” paparnya.

“Rasa takut akan kebahagiaan bukan berarti selalu hidup dalam kesedihan. Dalam kasus saya, cherophobia disebabkan oleh kejadian traumatis. Bahkan untuk hal sederhana seperti menyelesaikan suatu tugas sulit atau memenangkan klien membuat saya gelisah,” tambah Yeboah.

Mengatasi cherophobia terkadang disamakan dengan depresi, tapi menurut Yeboah, itu tidak benar-benar membantu.

“Tidak banyak hal yang bisa saya lakukan untuk menangani cherophobia karena belum ada perawatan spesifiknya. Jadi, saya hanya mencoba menerima dan tidak memikirkannya sesering mungkin,” kata Yeboah.

(Baca juga: Tujuh Cara Mengatasi Stres Menurut Psikolog)

Carrie Barron, M.D, psikiater, mengatakan, untuk menyembuhkan cherophobia bisa dimulai dengan menggali masa lalu. Dengan begitu, kita bisa belajar memiliki toleransi untuk hal-hal yang membuang waktu, bersenang-senang, dan merasakan kebahagiaan tanpa perlu takut akan konsekuensi negatif setelahnya.

Perawatan seperti terapi perilaku kognitif berguna untuk memahami penyebab cherophobia. Juga menghancurkan hubungan negatif antara kesenangan dan rasa sakit yang dimiliki seseorang.

Pada dasarnya, menangani cherophobia adalah mengubah cara pikir. Ketakutan akan kebahagiaan ini seperti mekanisme pertahanan yang terbangun akibat konflik di masa lalu atau trauma.

Mungkin perlu beberapa waktu untuk menyembuhkan cherophobia, namun dengan perawatan, Anda akan mampu melewatinya, mulai hidup tanpa kecemasan, dan menikmati kebahagiaan.

(Sumber: Science Alert)

KOMENTAR