Upaya Riza Marlon Kenalkan Satwa Liar Khas Wallacea
2018 / Maret / 15   17:00

Upaya Riza Marlon Kenalkan Satwa Liar Khas Wallacea

Selama tujuh tahun, Riza Marlon menjelajahi 22 lokasi di kawasan Wallacea untuk mengabadikan potret satwa langka khas Indonesia.

Upaya Riza Marlon Kenalkan Satwa Liar Khas WallaceaPeluncuran buku Wallace's Living Legacy di Perpustakaan Nasional Indonesia pada Rabu (14/3/2018) (Gita Laras Widyaningrum)

Riza Marlon, fotografer alam liar, meluncurkan buku ketiganya berjudul Wallace’s Living Legacy, pada Rabu (14/3/2018). Kali ini, ia mengabadikan potret satwa liar yang berada di Wallacea – kawasan istimewa meliputi Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara.

Riza memilih Wallacea karena menurutnya kawasan tersebut memiliki satwa endemik paling banyak.

“Binatang-binatang yang ada di sana tidak dapat ditemukan di tempat lain di dunia. Satwa langka di kawasan Wallace itu ‘Indonesia banget’. Kekayaan ini harus kita jaga,” paparnya.

Buku Wallace’s Living Legacy sendiri memuat lebih dari 200 foto satwa. Riza mengawali buku ini dengan bab perkenalan tentang Alfred Russel Wallace, penjelajah asal Inggris yang terkenal dengan garis Wallace yang membagi persebaran flora dan fauna di Indonesia.

Selanjutnya, kita bisa mengenal beragam satwa menurut kelas atau genusnya seperti burung, serangga, laba-laba, reptile dan amfibi, mamalia, hingga macaca dan tarsius. Setiap foto akan dilengkapi denga teks ilmiah populer yang informatif. Data kamera juga disajikan sebagai referensi dan sarana belajar bagi para penggemar fotografi.

Minim buku satwa lokal

Saat menyusun buku Wallace’s Living Legacy ini, Riza mengunjungi 22 lokasi di kawasan Wallacea. Selama tujuh tahun, Riza harus berulang kali ke sana.

Bagaimana tidak? Untuk memotret satwa di satu lokasi, ia perlu mengunjunginya hingga empat kali demi mendapatkan foto yang bagus. Meskipun perlu waktu, tenaga dan biaya yang cukup banyak, namun Riza rela melakukannya agar warga Indonesia bisa mengenal satwa-satwa khas negara ini.

Sarjana Biologi ini mengatakan, produksi buku dan film mengenai satwa kebanyakan dilakukan oleh orang asing. Indonesia memang memiliki banyak peneliti, namun tidak ada yang secara khusus memotret satwa liar. Riza pun memilih mengisi “kekosongan” tersebut.

“Kita terus menerus bilang Indonesia kaya. Namun, tidak ada yang merangkum kekayaan alam itu jadi suatu buku yang bisa menjadi warisan bagi generasi selanjutnya,” katanya.

Riza berharap, buku Wallace’s Living Legacy bisa membuka mata dan hati masyarakat untuk memahami kekayaan Indonesia. Juga menginspirasi peminat fotografi untuk terpanggil mendokumentasikan satwa liar.

“Saya ingin mengenalkan satwa Indonesia melalui buku ini. Orang-orang perlu kenal dulu dengan binatang-binatang di Indonesia, baru selanjutnya mereka bisa cinta dan peduli untuk melestarikannya. Ini bagian dari konservasi,” tambah Riza.

(Gita Laras Widyaningrum)

KOMENTAR