Petani Jepang Gunakan Robot Serigala untuk Menakuti Babi Hutan

Petani Jepang Gunakan Robot Serigala untuk Menakuti Babi Hutan

Populasi babi hutan liar di Jepang meningkat dan sering merusak tanaman. Para petani Jepang pun meletakkan robot serigala di sawah untuk menakuti mereka.

Petani Jepang Gunakan Robot Serigala untuk Menakuti Babi HutanRobot serigala ini menjadi harapan petani Jepang untuk mengusir babi hutan dari sawah mereka. (AFP/Getty Images)

Jepang menemukan solusi dari berkembangnya jumlah babi hutan yang sering merusak tanaman para petani. Cara yang dilakukan sangat kreatif: yakni, menakuti babi hutan dengan robot serigala.

Robot serigala yang memiliki taring, bulu, dan mata merah ini diimplementasikan untuk membantu petani melindungi sawah mereka dari babi-babi hutan.

Sering disebut dengan Super Monster Wolf, penemuan ini beroperasi menggunakan baterai yang di-charge dengan tenaga surya.

Robot serigala ini bisa ...Robot serigala ini bisa mengeluarkan lolongan yang menakutkan. (AFP/Getty Images)

Robot tersebut telah diuji pada musim panas lalu dan produknya sudah tersedia di seluruh Jepang. Ia memiliki tinggi 20 inci dan mampu melolong apabila hewan lain mendekatinya.

Jenis lolongannya pun bermacam-macam. Ini bertujuan untuk membuat babi hutan kebingungan dan akhirnya menjauhi sawah petani.

(Baca juga: Mengukur Radiasi Bencana Nuklir Fukushima Setelah Tujuh Tahun)

Robot serigala ini dijual dengan harga 5000 dollar AS atau sekitar Rp69 juta.

Merugikan pertanian

Masalah yang disebabkan oleh babi hutan terus meningkat dan ini memberikan dampak negatif pada wilayah utara Jepang.

Koran The Asahi Shimbun mengatakan bahwa hewan tersebut bergerak ke utara karena pemanasan global telah mengurangi hujan salju. Memudahkan mereka untuk bertahan di musim dingin.

Babi hutan memakan padi dan kentang milik petani. Pemerintah Jepang mengatakan, aksi hewan liar itu menyebabkan kerugian lebih dari 46 juta dollar AS di bidang pertanian pada 2015.

Jumlah babi hutan yang lebih tinggi di wilayah utara Jepang juga disebabkan oleh pembagian demografi yang tidak merata. Penduduk muda lebih banyak tinggal di daerah perkotaan di selatan Jepang.

(Baca juga: Teknologi-teknologi Canggih untuk Melawan Kejahatan Satwa Liar)

Selain itu, banyak warga yang meninggalkan wilayah utara setelah gempa dan tsunami terjadi pada 2011.

Pada saat itu, para petani meninggalkan sawah mereka. Ketika kembali beberapa tahun kemudian, mereka menemukan lebih banyak babi hutan dibanding sebelumnya. Penurunan aktivitas manusia membuat hewan tersebut mengambil alih wilayah saat para petani tidak ada.

“Tidak jelas siapa yang menguasai kota, manusia atau babi hutan. Jika kita tidak menyingkirkan mereka, situasinya akan semakin parah dan tidak bisa ditinggali lagu,” kata Tamotsu Baba, walikota Namie.

(Maggie O'Neill/Daily Mail)

KOMENTAR