Mengapa Kasus Gizi buruk Pada Balita di NTT Sulit Diakhiri?
2018 / Maret / 22   19:14

Mengapa Kasus Gizi buruk Pada Balita di NTT Sulit Diakhiri?

Prevalensi gizi buruk dan gizi kurang di NTT tahun 2010 mencapai 29,4% yang terdiri dari gizi buruk 9% (53.580 balita) dan gizi kurang 20,4% (121.448 balita).

Mengapa Kasus Gizi buruk Pada Balita di NTT Sulit Diakhiri?Menimbang bayi di Posyandu untuk memantau berat bayi guna mencegah kurang gizi. Penimbangan bayi di Kupang, September 2016. (Reinier van Oorsouw/UNICEF/Flickr.com, CC BY-SA)

Dua pekan lalu, Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya mengklaim bahwa angka gizi buruk di provinsi ini menurun sekitar 8,02% dari 3.340 anak usia di bawah lima tahun (balita) penderita gizi buruk pada 2015 menjadi 3.072 penderita pada 2016. Selain harus diperiksa lagi akurasi klaim tersebut, apa sebenarnya penyebab utama gizi buruk di provinsi kawasan timur Indonesia itu?

Apa itu gizi buruk dan gizi kurang

Kurang gizi ditandai dengan badan yang kurus, karena berat badannya kurang untuk anak seusianya. Terlepas dari masalah genetik, tubuh anak kurang gizi juga lebih pendek dibanding anak lain seusianya. Jika masalah kekurangan gizi ini tidak segera diatasi, anak akan mengalami masalah gizi buruk.

Sedangkan anak bergizi buruk lebih mudah terlihat karena gizi buruk ini sangat mempengaruhi fisik. Gizi buruk terdiri dua jenis yaitu marasmus dan kwasiorkor. Penderita marasmus ditandai dengan tubuh yang sangat kurus, sehingga tulang-tulangnya sangat menonjol. Ibaratnya, hanya tinggal tulang berbalut kulit saja. Sedangkan penderita kwasiorkor memiliki perut yang buncit dan kaki yang membengkak. Biasanya hal ini disebabkan karena anak kekurangan protein.

Baca juga: Pernikahan Dini Picu Lahirnya Anak Bertubuh Kerdil, Benarkah?

Prevalensi tinggi di NTT

Prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada balita di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 2010 menempati urutan tertinggi kedua di bawah Nusa Tenggara Barat (NTB). Prevalensi gizi buruk dan gizi kurang di NTT pada tahun itu mencapai 29,4% yang terdiri dari gizi buruk 9% (atau 53.580 balita) dan gizi kurang 20,4% (atau 121.448 balita). Dengan kata lain, terdapat 175.028 kasus balita gizi buruk dan gizi kurang dari 595.331 balita yang ditimbang pada 2010 di NTT.

Empat tahun berikutnya, dari 361.696 anak yang ditimbang, 23.963 anak (6,6%) di antaranya kurang gizi dan 3.351 anak (0,9%) mengalami gizi buruk tanpa gejala klinis. Terjadi penurunan angka gizi buruk pada 2015, tapi pemerintah tidak boleh kendor bekerja menurunkan angka gizi bermasalah. Bisa saja masa masih ada kasus yang belum diketahui.

Riset kami di Kecamatan Kodi Utara, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, pada Maret-Mei 2014, menunjukkan faktor yang paling berisiko meningkatkan kejadian gizi kurang pada balita adalah pendapatan keluarga yang kurang dari Rp234.141 per bulan dan frekuensi sakit anak balita di atas 3 kali dalam 6 bulan.

Baca juga: Apa yang Harus Dikatakan Pada Orangtua yang Menolak Vaksin untuk Anaknya?

Data untuk mengetahui faktor risiko gizi buruk dan gizi kurang pada anak balita di NTT ini kami ambil dari 38 balita dengan gizi kurang sebagai kelompok kasus dan 76 balita sehat sebagai kontrol, yang dipilih dari 4.321 balita yang teregistrasi di Puskesmas Kori. Kami mengumpulkan data dengan wawancara langsung di rumah masing-masing responden.

Dari analisis uji hubungan menunjukkan bahwa balita dari keluarga dengan pendapatan kurang dari Rp234.141 berisiko 15 kali mengalami gizi kurang karena pendapatan keluarga berhubungan erat dengan pola konsumsi dan asupan gizi anak. Sedangkan, balita yang dalam 6 bulan menderita sakit lebih dari 3 kali meningkatkan risiko 35 kali lebih besar mengalami gizi kurang. Frekuensi sakit berhubungan dengan infeksi penyakit. Infeksi penyakit dan kejadian gizi buruk atau kurang merupakan hubungan yang timbal balik.

Kami berharap hasil riset ini dapat dipergunakan oleh penentu kebijakan di NTT untuk memerangi gizi buruk yang seolah-olah tiada jalan keluarnya. Sebelum tim kami, belum pernah ada riset di kecamatan tersebut untuk mengetahui faktor risiko gizi kurang pada anak balita.

Gizi buruk dan kematian balita

Jumlah anak balita yang mengalami kurang gizi di negara berkembang pada 2009 dilaporkan mencapai 129 juta atau sekitar 1 dari 4 balita. Dari jumlah itu, 10% mengalami gizi buruk. Adapun balita yang meninggal akibat gizi kurang dan buruk di negara berkembang pada 2013 dilaporkan sebanyak 2.835.000 atau 45% dari total jumlah kematian balita.

Baca juga: Dampak Kurang Tidur pada Anak, Perkembangan Emosi Salah Satunya

UNICEF melaporkan bahwa prevalensi balita yang mengalami wasting,(gizi kurang karena berat badan anak tidak sesuai dengan tinggi badannya) di Indonesia pada 2009 menduduki peringkat kelima (14% atau 2.841.000 balita) di dunia setelah India, Nigeria, Pakistan, dan Bangladesh.

Selain menyebabkan kematian, gizi buruk dan kurang gizi juga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan. Setiap anak yang mengalami gizi buruk dilaporkan mempunyai risiko kehilangan IQ sebesar 10-13 poin.

Menurunkan prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada balita sangat penting karena gizi sangat mempengaruhi pertumbuhan anak, yang dikenal golden periode alias 1000 Hari Pertama Kehidupan. Pada masa ini asupan gizi benar-benar harus dicukupi untuk tumbuh kembang anak yang optimal agar tidak terjadi lost generation. Apalagi pengurunan kemiskinan, hidup sehat, dan penyedia air bersih adalah tiga dari 17 tujuan pembangunan berkelanjutan yang harus dicapai pada 2030.

Faktor-faktor penyebab

Kejadian gizi buruk di Kabupaten Sumba Barat Daya, berdasarkan laporan Dinas Kesehatan 2010, menduduki peringkat ketiga (1,3%) dan menempati peringkat ke-9 (4,9%) kabupaten dengan gizi kurang tertinggi di NTT. Kecamatan Kodi Utara di Sumba Barat Daya merupakan salah satu kecamatan dengan kejadian gizi buruk dan gizi kurang tertinggi pada 2013. Kejadiannya mencapai 0,60% dari 4.321 balita yang datang ke posyandu.

Dari studi literatur diketahui banyak faktor yang dilaporkan berhubungan dengan gizi buruk dan gizi kurang, antara lain sosial ekonomi, faktor pada ibu dan faktor lingkungan. Dalam riset kami, ada 13 faktor risiko (variabel independen) yang diteliti, tapi di sini kami sajikan lima variabel yang terpenting saja:

  1. Pendapatan keluarga;
  2. Frekuensi sakit anak;
  3. Pendidikan ibu;
  4. Frekuensi penimbangan anak di posyandu;
  5. Sumber air minum.

Keluarga berpendapatan di bawah Rp234.141 per bulan berisiko lebih tinggi (15 kali) anaknya mengalami gizi kurang ketimbang anak dari keluarga berpendapat di atas angka tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Anwar di Lombok Timur pada 2005 juga menemukan ada pengaruh antara pendapatan keluarga dengan gizi buruk dan kurang. Dengan kata lain minimnya pendapatan yang membuat miskin menjadi penyebab gizi buruk.

Balita yang dalam 6 bulan menderita sakit lebih dari 3 kali meningkatkan risiko 35 kali mengalami gizi kurang dibandingkan dengan balita yang dalam 6 bulan mengalami sakit kurang dari 3 kali. Temuan hampir sama dengan hasil riset Diah (2011) dari Universitas Udayana di Kecamatan Kelapa Lima Kota Kupang yang menyatakan kejadian gizi buruk dan kurang akan berisiko pada anak yang sering mengalami sakit daripada anak yang jarang sakit.

Baca juga: Lalapan dan Salad Rentan Tercemar Telur Cacing

Pengetahuan ibu tentang gizi yang rendah meningkatkan risiko sembilan kali lebih besar terhadap gizi buruk dan kurang. Riset serupa yang dilakukan oleh Istiono (2009) di Kulonprogo Yogyakarta menyatakan tingkat pengetahuan ibu sangat mempengaruhi sikap dan perilaku dalam memilih makanan untuk dikonsumsi, yang kemudian akan berpengaruh pula terhadap keadaan gizi anak balita.

Anak balita yang jarang datang ke posyandu meningkatkan risiko terjadinya gizi buruk dan kurang. Balita yang tidak dibawa oleh ibunya untuk ditimbang badannya di posyandu satu kali setiap bulan meningkatkan risiko 9 kali lebih besar mengalami gizi buruk atau kurang dibandingkan balita yang rutin ditimbang berat badannya setiap bulan di posyandu.

Riset Kusriadi (2010) di Nusa Tenggara Barat juga menemukan bahwa pemantauan pertumbuhan anak balita melalui penimbangan dan pemanfaatan posyandu yang baik berisiko lebih kecil mengalami gizi kurang dibandingkan yang jarang melakukan penimbangan dan pemanfaatan posyandu.

Faktor yang juga meningkatkan risiko kejadian gizi buruk dan kurang adalah sumber air minum. Sumber air minum yang diambil dari sungai atau kali yang tidak tertutup, sehingga mudah untuk terpapar kotoran dan bakteri, meningkatkan risiko terhadap gizi buruk dan gizi kurang 7 kali lebih besar mengalami gizi kurang dibandingkan dengan mengkonsumsi air dari sumber yang terlindung.

Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Basuki (2003) di Bandar Lampung yang menunjukan penggunaan air minum yang bersih berpengaruh secara langsung terhadap kesehatan balita. Terjadi penurunan kejadian balita yang terkena diare sebesar 6% dan berpengaruh tidak langsung terhadap status gizi anak.

Lalu bagaimana mengakhiri gizi buruk?

Menyelesaikan masalah gizi buruk perlu melibatkan banyak pihak. Orang tua, keluarga, masyarakat, petugas medis, NGO, dan pemerintah perlu bekerja sama memerangi gizi buruk. Gizi buruk dan gizi kurang ini disebabkan oleh multifaktor, sehingga penyelesaiannya pun melibatkan banyak pihak di wilayah yang rentan gizi kurang.

Baca juga: Saat Ibu Depresi, Bayi pun Ikut Merasakannya

Upaya untuk menurunkan kejadian gizi buruk dan gizi kurang bisa dilaksanakan sesuai dengan faktor risiko di atas, yaitu meningkatkan pendapatan keluarga, mengurangi frekuensi sakit anak, menambah pengetahuan ibu tentang gizi, meningkatkan frekuensi kehadiran anak balita di posyandu dan pengadaan air minum bersih.

The ConversationAngka penderita gizi buruk yang tertera dalam Riset Kesehatan Dasar dan riset lainnya bukan hanya deretan angka statistik, tapi anak-anak belia dan lemah yang membutuhkan kehadiran negara untuk mengakhiri penderitaan mereka.

Kadek Dwi Ariesthi, Lecture in public health, STIKES Citra Husada Mandiri Kupang

Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca artikel sumber.

(Kadek Dwi Ariesthi/Sumber: theconversation.com/id)

KOMENTAR