Memanen Air di Udara, Cara Unik Atasi Kelangkaan Air
2018 / Maret / 28   23:57

Memanen Air di Udara, Cara Unik Atasi Kelangkaan Air

Ilmuwan Australia menciptakan teknologi baru untuk mengatasi krisis air di dunia dengan menggunakan gel silika.

Memanen Air di Udara, Cara Unik Atasi Kelangkaan AirRohana, salah satu pengumpul air di Tinambung, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. (Yusuf Wahil/AFP)

Teknologi baru dalam menangani krisis air ini diciptakan oleh seorang ilmuwan Australia dan menjadi finalis dalam kompetisi berskala internasional, XPRIZE.

Behdad Moghtaderi, ahli teknik kimia dari Universitas Newcastle, menjelaskan bahwa konsep dasarnya adalah menciptakan pengembunan dengan bantuan energi panas matahari dan setelah itu, proses pendinginan dilakukan untuk mendapatkan air layak minum.

"Langkah pertama adalah menyerap air di malam hari dengan menggunakan bahan pengering, kemudian menggunakan energi matahari di siang hari untuk menghasilkan udara panas dan lembap yang bisa didinginkan," kata Moghtaderi.

Baca Juga: Limbah Makanan Bisa Jadi Berasal Dari Apa yang Anda Makan

"Semakin panas suhu udaranya, akan semakin banyak air yang tertahan di udara, dan apabila kita mendinginkan udara panas itu, kita akan mendapatkan air," tambahnya.

Proses yang dilakukan peneliti ini berbeda dengan siklus pengembunan yang biasa terjadi.  "Kandungan air di atmosfer biasanya terbentuk karena siklus pendinginan, di mana ada proses pendinginan udara hingga suhu tertentu sampai terjadi pengembunan. Kami merekayasa proses tersebut," kata Moghtaderi, dilansir dari kompas.com, rabu (28/3/2018).

Bahan pengering yang digunakan tim Moghtaderi tersebut sama dengan pengering pada gel silika di kotak sepatu yang membuat sepatu tidak diserang jamur.

Baca juga: Es Laut Kutub Utara Berada di Rekor Terendah Kedua

Profesor Moghtaderi dan timnya mengatakan akan terus berusaha mewujudkan ide tersebut dan memastikan air minum bersih untuk semua, meskipun tidak menang di kompetisi tersebut.

Para ahli juga berkata bahwa teknologi tersebut ramah lingkungan dan dapat bekerja di mana saja, khususnya di negara berkembang, serta tidak tergantung dengan kondisi iklim.

 

"Tidak ada bahan yang mahal dan penelitian tersebut benar-benar hasil dari pengamatan bagaimana udara menahan air, perubahan suhu yang terjadi dan bagaimana menemukan metode berdasarkan data yang diketahui," kata Elham Doroodchi, salah satu anggota penelitian.

Sementara itu, salah satu anggota panitia kompetisi XPRIZE mengatakan, di atmosfer terdapat lebih dari 3.000 triliun cadangan air yang belum terserap, dan jumlah tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan air manusia di dunia selama satu tahun.

Perlu Anda ketahui, tim Hydro Harvest Operation pimpinan Moghtaderi merupakan satu-satunya wakil dari Australia yang mencapai babak final kompetisi XPRIZE yang akan diadakan di bulan Agustus 2018 nanti.

Mereka akan bersaing dengan tim dari India, Amerika Serikat dan Inggris. Para finalis diminta untuk membuat alat yang dapat memproses minimum 2.000 liter air dari atmosfer per hari dengan menggunakan konsep yang 100 persen ramah lingkungan dan biaya yang tidak lebih dari 2 sen dollar Australia (sekitar Rp 200) per liter.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com. Baca artikel sumber.

(Michael Hangga Wismabrata/ kompas.com)

KOMENTAR