Hanya Ada Perempuan dan Anak-anak di Desa Adat Korban Perang Ini
2018 / Maret / 26   15:53

Hanya Ada Perempuan dan Anak-anak di Desa Adat Korban Perang Ini

Perang saudara di Kolombia menewaskan semua laki-laki di La Puria, sebuah desa adat yang masih berjuang menghadapi konsekuensi konflik.

Hanya Ada Perempuan dan Anak-anak di Desa Adat Korban Perang IniTidak ada laki-laki dewasa di La Puria. (Ivan Valencia)

Di pegunungan di barat laut Kolombia, tiga jam perjalanan dari kota terdekat, terdapat sebuah desa bernama La Puria yang menjadi rumah bagi masyarakat adat Embera Katio. Dalam bahasa mereka, ebera berarti manusia, penduduk asli, atau laki-laki.

Namun, tidak ada laki-laki dewasa di sana.

Perang saudara di Kolombia yang berlangsung selama beberapa dasawarsa telah menghancurkan La Puria secara perlahan. Beberapa pria di sana direkrut oleh Revolutionary Armed Forces of Colombia (FARC) atau National Liberation Army (ELN), dua kelompok gerilya kiri yang terbesar di negara tersebut.

(Baca juga: Menelisik Kehidupan Para Gadis Afghanistan Bergender Laki-Laki)

Sisanya menjadi korban konflik – mengingat kedua kelompok: gerilyawan dan pasukan keamanan menggunakan taktik kekerasan – termasuk penculikan, memasang ranjau darat dan perdagangan obat bius.

Menurut Ivan Valencia, jurnalis foto Kolombia yang menghabiskan waktu berbulan-bulan di La Puria untuk mendokumentasikan kehidupan di sana, saat ini, hanya ada para wanita, anak-anak dan ibu-ibu remaja yang masih tersisa di La Puria.

Membawa parang dan keranjang, ...Membawa parang dan keranjang, perempuan muda Embera Katio memimpin kelompok dalam berburu makanan. (Ivan Valencia)

Para perempuan muda memimpin kelompok untuk mencari dan mengumpulkan makanan di hutan – memegang parang sambil menggendong bayi mereka di punggung. Ketua adatnya pun merupakan perempuan berusia 26 tahun, seorang ibu dari empat anak.

Suara bermain anak-anak terdengar di setiap rumah yang dibangun ibu mereka sendiri. Anak-anak ini kebanyakan lahir dari rahim remaja yang diperkosa oleh para tentara dari kelompok gerilya lokal.

Anak-anak di desa La Puria. Anak-anak di desa La Puria. (Ivan Valencia)

Di usianya yang masih sangat muda, anak-anak di La Puria sudah terpapar situasi perang. Tahun lalu, selama kegiatan terapi seni di sekolah desa, hampir semua anak-anak menggunakan pensil warnanya untuk menggambar dan mewarnai orang-orang yang membawa senjata api.

Warna terang

Untuk pertama kalinya sejak 1960, konflik akhirnya selesai. Meskipun pada 2016, referendum sipil menolak perjanjian damai antara FARC dan pemerintah Kolombia, namun perjanjian ini direvisi dan diratifikasi kembali beberapa bulan kemudian. Jalan menuju perdamaian memang belum pasti, tapi setidaknya gencatan senjata masih dilakukan.  

Sayangnya, setelah perang terhenti, masyarakat La Puria tetap ditinggalkan oleh negara. Tanpa bantuan pemerintah di bidang kesehatan dan pelayanan umum, gizi buruk serta sanitasi yang layak, menambah tantangan yang harus mereka hadapi pascakonflik Kolombia.

“Saya merasa konsekuensi perang masih berlanjut,” ujar Ivan.

Para perempuan di La Puria ...Para perempuan di La Puria senang mengenakan pakaian berwarna cerah dan penuh motif. (Ivan Valencia)

Meskipun begitu, Ivan melihat sedikit cahaya di sana. Ia terkesima dengan semangat hidup orang-orang La Puria.

“Setelah berjalan jauh dari hutan, saya ingat mencapai tempat di mana terdapat banyak warna – banyak penduduk La Puria yang mengenakan pakaian berwarna terang. Sangat indah melihat warna itu di tengah-tengah tempat kelabu dan penuh kesedihan,” kenang Ivan.  

(Baca juga: Kisah Desa Patemon yang Selamat Dari Krisis Air Berkat Sumur Resapan)

Bagi Ivan yang tidak memahami bahasa Embera, begitu pun penduduk yang tidak mengerti bahasa Spanyol, bahasa visual menjadi satu-satunya penghubung mereka.

“Kami berkomunikasi melalui kamera,” pungkasnya.

(Rachel Brown/National Geographic)

KOMENTAR