Tabir Surya Ramah Lingkungan Dibuat dari Bakteri
2018 / Februari / 8   14:32

Tabir Surya Ramah Lingkungan Dibuat dari Bakteri

Bahan kimia pada tabir surya selama ini dikaitkan dengan berbagai ancaman terhadap lingkungan. Alternatif yang lebih ramah lingkungan pun akhirnya dikembangkan.

Tabir Surya Ramah Lingkungan Dibuat dari BakteriTabir surya. (Thinkstock, ilustrasi)

Para ilmuwan telah menciptakan bakteri yang mampu menghasilkan bahan utama tabir surya ramah lingkungan.

Untuk Anda ketahui, bahan kimia yang ada pada tabir surya, selama ini dikaitkan dengan berbagai ancaman terhadap lingkungan. Terutama pemutihan karang.

Alternatif yang lebih ramah lingkungan telah dikembangkan. Namun, bahan utama untuk memproduksinya – shinorine – sulit untuk didapat. Kita harus memanen alga dari alam liar untuk memperolehnya.

(Baca juga: Pemutihan Terumbu Karang Terekam dalam Video)

Saat ini, dengan menyisipkan gen yang bertanggung jawab untuk memproduksi shinorine menjadi bakteri, para peneliti berhasil mengubah bakteri seperti ‘pabrik kecil’ yang bisa menghasilkan ramuan dalam jumlah banyak.

Pada awalnya, produksi shinorine dari modifikasi bakteri tiga kali lebih rendah dibanding yang terlihat pada alga liar. Namun, ketika para peneliti menambahkan urutan DNA yang disebut ‘promotor’ kepada gen tersebut, mereka bisa meningkatkan produksinya menjadi sepuluh kali lipat.

Penelitian ini dipimpin oleh dr. Guang Yang dari University of Florida, dan hasilnya dipublikasikan pada jurnal ACS Synthetic Biology.

Persediaan terbatas

Shinorine masuk ke dalam kelompok senyawa mycosporine-like amino acids (MAAs), yang bertindak sebagai pelindung alami dari radiasi sinar ultraviolet.

Namun, saat ini, shinorine yang digunakan secara komersial diisolasi dari ganggang merah yang dipanen dari laut. Hasilnya juga bervariasi, tergantung musim dan wilayah geografis.

“Saat ini ada masalah dengan persediaan MAAs sebagai bahan utama tabir surya. Oleh sebab itu, perlu pendekatan rekayasa genetik,” kata profesor Antony Young, fotobiologis di King’s College London yang tidak terlibat dalam penelitian dr. Guang Yang.

Meskipun begitu, ia telah melakukan studi lain untuk menyelidiki potensi MAAs sebagai pengganti tabir surya tradisional dan sintetis.

“Tim kami akan terus mempelajari hal ini karena melihat ada potensi. Terutama mengingat kekhawatiran yang terus meningkat mengenai ancaman tabir surya sintetis pada ekosistem laut,” tambahnya.

Bahaya tabir surya pada lingkungan

Tabir surya penting untuk melindungi kulit dari sinar ultraviolet yang bisa menyebabkan kanker. Namun, ia juga diketahui memiliki dampak negatif pada lingkungan. Bahan pembuatannya berasal dari molekul organik sintetis – mirip dengan yang digunakan untuk membuat plastik.

Seperti plastik, bahan ini pun memerlukan waktu yang lama untuk terurai.

(Baca juga: Laut Tidak Sanggup Lagi Menanggung Dampak Pemanasan Global)

Keseluruhan dampaknya masih perlu diteliti, tetapi para peneliti mengatakan, bahwa molekul organik sintetis bisa menyebabkan perubahan hormon pada ikan. Bahkan, mengubah karateristik seks mereka.

Bahan tabir surya itu juga bisa membahayakan terumbu karang. Oleh karena itu, pemerintah Hawaii sedang berupaya untuk melarang penggunaan tabir surya di pantai-pantai tertentu.

The European Chemicals Agency mencatat, delapan dari 16 bahan kimia yang digunakan pada tabir surya di Eropa, berpotensi mengancam kesehatan kita dan lingkungan. 

(Gita Laras Widyaningrum/Sumber: The Independent)

KOMENTAR