Seratus Tahun yang Lalu, Musik Jazz Hadir di Eropa
2018 / Februari / 13   09:47

Seratus Tahun yang Lalu, Musik Jazz Hadir di Eropa

Seratus tahun lalu, tentara Afrika-Amerika tampil di Nantes, Prancis, untuk pertama kalinya dan membuat penduduk Prancis tergila-gila dengan musik jazz.

Seratus Tahun yang Lalu, Musik Jazz Hadir di Eropa"Harlem Hellfighters Band" mendarat di Prancis pada 1918. Mereka membawa keceriaan jazz di tengah perang. (AFP)

Seratus tahun yang lalu, pada Perang Dunia I, sekelompok tentara Amerika menyerbu Eropa. Bukan untuk menembakkan peluru, melainkan  mengayunkan irama saksofon, drum, dan terompet.

Kedatangan tentara Amerika itu memang untuk melawan Jerman agar perang segera berakhir. Namun, selain itu, hadirnya mereka juga menandakan penaklukan budaya yang  manis.

Seratus tahun yang lalu, infanteri ke-369 yang merupakan campuran tentara berkulit hitam dan putih – dikenal dengan sebutan “Harlem Hellfighters”  menampilkan konser jazz pertama di tanah Eropa. Lebih tepatnya di kota Nantes, yang terletak di barat laut Prancis.

(Baca juga: Kiprah Orang Indonesia Gugur sebagai Tentara Jerman)

“Saat band ini selesai tampil, ruangan penuh dengan riuh tawa. Wajah penonton dihiasi senyuman. Itulah yang dibutuhkan Prancis di saat-saat krisis,” tulis salah satu anggota band, Noble Sissle, dalam memoarnya.

Pada Senin (12/2/2018), kota Nantes menyelenggarakan konser, konferensi, dan pameran untuk menandai seratus tahun pertunjukan legendaries tersebut.

Di antara tamu kehormatan, pada malam pembukaan, akan hadir tiga cucu Letnan James Reese Europe yang menjadi pemimpin orkestra jazz seratus tahun lalu. Pria keturunan Afrika-Amerika ini dikenal sebagai ‘raja jazz’.

Kegilaan pada jazz

Setelan penampilan pertama di Teater Graslin, Nantes, Eropa tidak pernah sama lagi. Menurut laporan berita lokal pada masa itu, musik jazz membuat dunia Prancis “terbalik”.

“Virus jazz telah menggigit mereka,” tulis Sissle, “dan itu tampaknya telah menyerang spot penting mereka.”

Infanteri ke-369 merupakan salah satu dari empat kelompok tentara Afrika-Amerika yang dikirm untuk berperang di bawah komando Prancis.

Matthieu Jouan, kepala peringatan 100 Tahun Jazz di Nantes, mengatakan, James Reese Europe merupakan perwira berdarah Afrika-Amerika pertama yang  memimpin pasukan pada masa perang.

(Baca juga: Einstein dan Biola Kesayangannya, "Lina")

Ia juga membuat band dengan anggota-anggota terbaik pada masanya. Ketika sedang tidak bertempur, mereka tampil untuk menghibur para pasukan dan penduduk lokal.

“Orang –orang menjadi gila di mana pun mereka melakukan tur,” kata Jouan.

Menciptakan musik terbaik

Letnan James menciptakan salah satu lagu terbaiknya One Patrol in No Man’s Land, saat terbaring di rumah sakit.

Dia kembali dari perang sebagai pahlawan, hanya untuk mati beberapa bulan kemudian pada Mei 1919. James meninggal di usia ke-39 setelah lehernya ditusuk oleh salah satu anggota band. Jouan mengatakan, judul utama pada media Amerika bertuliskan: “Raja jazz telah mati”.

Meskipun begitu, kematian James tidak menghentikan perkembangan musik jazz di Eropa. Setelahnya, muncul tiga bintang musik hebat seperti Duke Ellington, Louis Armstrong, dan Sidney Bechet.

Era jazz pun dimulai. 

(Gita Laras Widyaningrum/Sumber: AFP)

KOMENTAR