Saat Dijemput Ajal, Orang-orang Justru Ingin Ditinggalkan Sendirian
2018 / Februari / 12   15:18

Saat Dijemput Ajal, Orang-orang Justru Ingin Ditinggalkan Sendirian

Menurut penelitian, mereka yang sedang sekarat lebih suka ditinggalkan sendiri. Berharap orang terkasih pergi agar tidak melihatnya menghembuskan napas terakhir

Saat Dijemput Ajal, Orang-orang Justru Ingin Ditinggalkan SendirianIlustrasi pasien kanker. (Thinkstock)

Sebuah hasil penelitian menunjukkan bahwa orang-orang ingin ditinggalkan sendiri saat sekarat.

Berdasarkan keterangan Glenys Caswell, pemimpin senior di University of Nottingham, orang-orang memiliki kontrol saat akan meninggal dunia. Beberapa orang menunggu untuk menghembuskan napas terakhirnya sampai orang yang mereka cintai tidak berada di ruangan yang sama.

Meskipun ini tampak tidak wajar, namun Caswell, yang memiliki ketertarikan pada penelitian tentang kematian, mengatakan bahwa beberapa orang tidak suka ditanya mengenai keadaan mereka yang semakin memburuk. Begitu pun saat meninggal, mereka tidak ingin orang-orang meributkannya.

(Baca juga: Menakjubkan, Ternyata Manusia Masih Miliki Kesadaran Saat Dinyatakan Meninggal)

Penelitian sebelumnya dari New York University Langone School of Medicine yang dipublikasikan pada Oktober lalu, menyatakan, orang-orang yang sekarat tahu bahwa mereka akan mati. Kesadaran ini tetap ada meskipun tubuh sudah berhenti menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

Seberapa burukkah mati sendirian?

Rasanya tidak pantas jika seseorang harus mati sendiri. Namun, pada kenyataannya, beberapa orang meninggal saat mereka sedang sendirian. Apakah hal itu benar-benar buruk?

Saat seseorang sekarat di rumah atau rumah sakit, biasanya perawat akan memanggil keluarganya untuk berkumpul. Mereka akan menjaga di samping anggota keluarga yang sakit tersebut. Namun, hal ini sebenarnya sulit dilakukan – karena kehidupan terus berjalan – dan bisa melelahkan secara emosional.

Terkadang, mereka yang sekarat, meninggal saat anggota keluarganya pergi untuk menelepon atau mengambil minum. Ini membuat keluarga merasa bersalah karena tidak berada di sebelahnya di saat-saat terakhir.

Ada banyak penelitian, dari berbagai negara, yang menentukan bagaimana ‘kematian yang baik’. Ada satu kesamaan: yakni keyakinan bahwa setiap orang tidak seharusnya meninggal sendirian.

Banyak referensi budaya yang menyatakan bahwa mati sendiri adalah hal yang buruk. Misalnya, kematian Ebenezer Scrooge di buku A Christmas Carol, yang dianggap menyedihkan, sepi, dan harus dihindari. Sementara, kematian selebritis Victoria Wood dan David Bowie dianggap ‘baik’ dan ‘damai’ karena mereka dikelilingi keluarganya saat menghembuskan napas terakhir.

Orang biasa yang mati sendiri menjadi berita ketika tubuhnya baru ditemukan setelah sekian lama. Ketika itu terjadi, kematiannya dideskripsikan dengan istilah negatif oleh masyarakat. Seperti, ‘mengejutkan’, ‘kesepian’, ‘tragis’, dan ‘menyedihkan’.

Beberapa orang lebih suka mati sendiri

Hasil penelitian Caswell menunjukkan bahwa beberapa orang mati setelah anggota keluarganya meninggalkan mereka. Para perawat yakin, beberapa orang mungkin memang ingin sendirian saat sekarat.

Dalam studi yang sama, Caswell bertanya kepada beberapa orang yang hidup sendiri untuk mengetahui pandangan mereka tentang kematian tanpa ditemani keluarga. “Saya tertarik untuk mempelajari bahwa mati sendirian tidak dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Bagi orang-orang berusia lanjut, itu malah menjadi pilihan mereka,” kata Caswell.

(Baca juga: Apa Bedanya Meninggal dengan Mata Tertutup dan Terbuka?)

Bagi para partisipan penelitian, kematian bukanlah hal terburuk. Terperangkap di dalam panti jompo, dianggap lebih buruk dari meninggal sendirian.

“Sudah saatnya kita mulai membicarakan hal ini dan menerima bahwa setiap orang menginginkan hal berbeda untuk kematiannya,” papar Caswell.

Ia menambahkan, perlu juga adanya diskusi dan keterbukaan bagi anggota keluarga yang ditinggalkan. Hal ini dilakukan agar mereka tidak merasa bersalah karena telah melewatkan kematian orang terkasih. 

(Sumber: Dailymail)

KOMENTAR