Rekonstruksi Wajah Nenek Moyang Inggris yang Berkulit Gelap dan Bermata Biru
2018 / Februari / 8   13:35

Rekonstruksi Wajah Nenek Moyang Inggris yang Berkulit Gelap dan Bermata Biru

Kerangka “Manusia Keju” yang berusia 10 ribu tahun berhasil direkonstruksi. Hasilnya menunjukkan bahwa nenek moyang Inggris memiliki kulit gelap dan mata biru.

Rekonstruksi Wajah Nenek Moyang Inggris yang Berkulit Gelap dan Bermata BiruDengan mengurutkan DNA kuno, para ilmuwan berhasil mengetahui warna kulit, mata, dan model rambut "Manusia Keju". (Tom Barnes)

Sebuah rekonstruksi wajah dari kerangka berusia sepuluh ribu tahun yang disebut “Manusia Keju” (Cheedar Man) menampilkan pria dengan mata biru terang, rambut keriting, dan kulit yang gelap.

“Ini mungkin mengejutkan bagi masyarakat. Namun, tidak untuk para ahli genetika DNA manusia purba,” kata Mark Thomas, ilmuwan dari University College London. Sebab, analisis terbaru pada DNA pria purba ini, membuktikan bahwa ia mirip dengan individu berkulit gelap pada era Mesolitik yang ditemukan di Spanyol, Hungaria, dan Luxemborg.

Penemuan baru ini menempatkan “Manusia Keju” dalam kelompok pemburu-pengumpul yang diduga bermigrasi ke Eropa pada akhir zaman es, 11 ribu tahun lalu.

(Baca juga: Jejak Kejayaan Romawi Ditemukan di Inggris)

“Manusia Keju” mendapatkan namanya bukan karena kesukaannya pada makanan tersebut, tapi karena ditemukan di Cheddar Gorge, Somerset, Inggris.

Rekonstruksi wajah

Thomas merupakan anggota tim peneliti yang bekerja dengan London’s Natural History Museum untuk merekonstruksi wajah “Manusia Keju”. Mereka memulai rekonstruksi tersebut dengan mengukur tengkoraknya.

“Ia memiliki tengkorak yang tebal dan berat. Namun, rahangnya sangat ringan,” ujar Thomas.

Para peneliti lalu mengurutkan keseluruhan genom “Manusia Keju”. Ia merupakan orang Inggris tertua yang gen-nya pernah dipetakan oleh para ilmuwan. Dari hasil pengurutan tersebut, para ilmuwan mempelajari warna kulit, mata dan jenis rambutnya.

Terakhir, untuk membuat “Manusia Keju” tampak lebih hidup, Adrie dan Alfons Kennis yang sering melakukan pemodelan, menggunakan mesin 3D untuk menambahkan ‘daging segar’ pada kerangka yang telah direkonstruksi.

Menciptakan warna dari gen kuno

Thomas mengatakan, mereka sangat berterima kasih kepada teknologi pengurutan yang bisa menyaring data dalam jumlah besar. Cara tersebut mempermudah tim peneliti untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai “Manusia Keju”.

Miguel Vilar, manajer sains untuk proyek genom National Geographic menjelaskan, gen yang menentukan warna kulit manusia purba itu dipetakan pada berbagai kromosom. Para ilmuwan harus melihat miliaran titik data. Namun, adanya teknik pengurutan DNA membuat kromosom yang tercecer itu lebih mudah dibaca.

“Pigmentasi pada mata hanya ditentukan oleh gen spesifik dan varian tertentu. Namun, pada kulit, ada banyak jenisnya,” kata Thomas.

Mengapa orang Inggris saat ini berkulit putih?

Bagaimana dan sejak kapan warga Inggris memiliki warna kulit yang terang masih belum jelas.

“Kami pikir, mungkin itu karena kulit berwarna terang mendapat radiasi sinar ultraviolet lebih banyak yang membantu memecah vitamin D,” kata Vilar. Di wilayah beriklim sedang, di mana manusia purba jarang terpapar sinar Matahari, mereka membutuhkan lebih banyak radiasi agar mendapatkan vitamin D yang bagus untuk kesehatan tulang.

“Menurut saya, itu teori yang paling kuat untuk pigmentasi kulit. Namun, itu tidak menjelaskan mengenai pigmentasi mata. Ada proses lain yang terus berlanjut, Bisa jadi karena seleksi seksual, atau hal lain yang belum kita mengerti,” tambah Thomas.

(Baca juga: Ini Hasil Rekonstruksi Model 3D Tengkorak dari Kapal Henry VIII)

Teori lain yang berasal dari studi 2014 menyatakan bahwa saat manusia mulai mengolah makanannya sendiri, menu yang dikonsumsi jadi kurang beragam. Itulah sebabnya mereka perlu mendapatkan vitamin D dari sinar Matahari.

Berbeda dengan saat ini di mana orang-orang bisa mendapatkan vitamin D dari makanan mereka. Tidak dari sinar Matahari saja.

Thomas mengatakan, menentukan warna kulit kerangka tersebut hanya sebagian kecil dari proyek yang sedang dijalani. Para peneliti lebih ingin melihat perubahan pola makan mereka dan patogen yang mempengaruhi populasi manusia selama sepuluh ribu tahun terakhir.

“Jika berhasil mengukur perubahan genetik dari waktu ke waktu, maka kita bisa mengetahui bagaimana evolusi terjadi,” pungkasnya. 

(Gita Laras Widyaningrum. Sumber: Sarah Gibbens/National Geographic)

KOMENTAR