Perubahan Iklim Bisa Racuni Makanan yang Kita Konsumsi
2018 / Februari / 5   14:00

Perubahan Iklim Bisa Racuni Makanan yang Kita Konsumsi

Bakteri yang terkait dengan perubahan iklim bisa masuk ke dalam makanan dan minuman yang kita konsumsi. Akibatnya, diare, keracunan hingga membahayakan nyawa.

Perubahan Iklim Bisa Racuni Makanan yang Kita KonsumsiKonsumsi tiram mentah semakin berisiko terserang bakteri Vibrio akibat dari lautan yang memanas. (Richard Nowitz / National Geographic Creative)

Berdasarkan laporan dari Nutrition Action Healthletter, dua patogen yang tersimpan dalam makanan – Vibrio dan Cryptosporidium – menjadi lebuh umum akibat perubahan iklim.

Vibrio merupakan bakteri yang bisa menginfeksi kerang di pesisir pantai. Menurut Centers for Disease Control and Prevention, bakteri ini menyebabkan vibriosis, bentuk keracunan makanan yang menimbulkan 80 ribu penyakit dan 100 kematian setiap tahunnya. Beberapa jenis vibrio juga bertanggung jawab untuk penyakit kolera. Selain itu, bakteri ini menyebabkan infeksi kulit.

(Baca juga: Perubahan Iklim Menginfeksi Kerang, Berdampak pada Kesehatan Manusia)

Biasanya, Vibrio menjadi lebih umum di musim panas, sekitar bulan Mei hingga Oktober. Para ahli kesehatan pun menyarankan kita untuk menghindari makan kerang pada waktu tersebut.

Curah hujan deras membantu penyebaran parasit

Para ilmuwan juga khawatir bagaimana cuaca mempengaruhi organisme air lainnya, Cryptosporidium. Hujan deras yang terjadi akibat perubahan iklim bisa mengeluarkan parasit mikroskopis dari tanah terkontaminasi, lalu membawanya ke dalam persediaan air yang kita minum.

Parasit ini bisa menyebabkan diare yang parah, bahkan fatal, bagi orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah.

(Baca juga: Enam Patogen Ini Bertanggung Jawab Atas Kasus Diare di Dunia)

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ada beberapa patogen lain yang menyebar akibat perubahan iklim. Sebuah studi dari European Centre for Disease Prevention and Control pada 2012 menunjukkan bahwa salmonella, campylobacter, dan E. coli, tumbuh subur dalam suhu yang lebih hangat.

Bagaimana pun juga, masih ada harapan. European Centre for Disease Prevention mengatakan, adanya upaya dari masyarakat bisa mengurangi tingkat infeksi patogen ini. Artinya, manusia mungkin dapat melawan dampak perubahan iklim di arena ini dengan sukses.

(Gita Laras Widyaningrum/Sumber: nypost.com)

KOMENTAR