Perjalanan Cinta Kecoak, dari Antena Turun ke Otak
2018 / Februari / 13   21:40

Perjalanan Cinta Kecoak, dari Antena Turun ke Otak

Lewat penelitian terbaru, ilmuwan dari Universitas Hokkaido dan Konstanz mengungkap proses kimia dan saraf di balik pencarian jodoh kecoa.

Perjalanan Cinta Kecoak, dari Antena Turun ke OtakKecoak madagaskar. (Ilustrasi/Thinkstock)

Tak seperti manusia yang menilai jodoh dengan mata, kecoa mencari pasangan dengan antena.

Antena memungkinkan kecoa jantan untuk mendeteksi feromon yang dikeluarkan betina di tengah lingkungan yang kaya bau.

Lewat penelitian terbaru, ilmuwan dari Universitas Hokkaido dan Konstanz mengungkap proses kimia dan saraf di balik pencarian jodoh kecoa.

Baca juga: Cara Alami Membasmi Kecoak di Rumah

Menggunakan mikroelektroda, tim ilmuwan meneliti aktivitas saraf di antena kecoa jantan yang berkaitan dengan penangkapan feromon dari betina.

Ilmuwan meneliti 12 ujung saraf yang berkaitan dengan feromon. Teknisnya, bagian saraf itu diatur untuk menangkap sinyal hanya dari bagian tertentu pada antena kecoa.

Satu neuron berukuran besar menanggapi rangsangan semua bagian. Tiga neuron lainnya dengan luas reseptor yang sedang, dijajal menerima sinyal dari sepertiga bagian.

Sementara itu, delapan neuron lain merepons stimulus hanya pada bagian kecil dari antena saja.

Baca juga: Rahasia Kecoak Bisa Hidup Tanpa Kepala

Berdasarkan penelitian, ilmuwan mengetahui bahwa dari antena, sinyal feromon dibawa kecoa ke bagian saraf pusat yang disebut makroglomerolus.

Diberitakan Physorg, Jumat (9/1/2017), pada bagian makroglomerolus, ilmuwan bisa membedakan asal rangsangan menurut bagian antena yang menerimanya.

Dari bagian itu, sinyal feromon dibawa ke bagian yang disebut mushroom body. Di sana, kecoa akan menganalisis lokasi asal bau tersebut.

Berdasarkan proses itu, kecoa bisa menggerakkan antena seusia prediksi lokasi asal dan menemukan betina yang akan dikawininya.

Baca juga: Kecoak Madagaskar Bisa Menumbuhkan Testis Besar Saat Dibutuhkan

“Peta persebaran bau spasial penting. Pasalnya, kecoa yang berkeliaran di lingkungan yang penuh tantangan punya kesempatan lebih sedikit untuk berinteraksi dengan filamen bau,” kata Hiroshi Nishino, Asisten Profesor dalam penelitian ini.

Artikel ini telah terbit di Kompas.com dengan judul Kisah Kecoa Temukan Jodoh dari Antena ke Otak.

(Shela Kusumaningtyas/Kompas.com)

KOMENTAR