Melawan Pemburu Liar dengan Kerah Pelacak Gajah
2018 / Februari / 8   15:57

Melawan Pemburu Liar dengan Kerah Pelacak Gajah

Para konservasionis di Gabon, Afrika, sudah mulai memasang alat pelacak pada gajah. Ini dilakukan untuk menghentikan perburuan dan perdagangan liar gading gajah

Melawan Pemburu Liar dengan Kerah Pelacak GajahDiperlukan lima hingga tujuh orang untuk memasang kerah pelacak pada gajah. (ANPN/AFP)

Pernah mencoba memasang pelacak pada hewan dengan berat lima ton?

Para konservasionis di Gabon, Afrika, sudah mulai memasang alat pelacak pada gajah. Ini dilakukan untuk menghentikan perburuan dan perdagangan liar gading gajah.

Namun, itu bukanlah cara yang mudah.

Setiap ingin memasang pelacak tersebut, diperlukan lima hingga tujuh orang. Termasuk dokter hewan, pengintai dan pemburu binatang untuk memandu kelompok menelusuri hutan lebat demi menemukan binatang pemalu ini.

“Mereka harus memasang satu atau dua GPS pelacak per hari. Ini sangat berbahaya bagi orang-orang yang sering dikejar gajah,” kata Jean-Baptiste Squarcini, Sekretaris Jendral Taman Nasional Gabon (ANPN).

(Baca juga: Kisah Gajah Sumatra, yang Lahir dan yang Dibunuh)

Saat gajah sudah ditemukan, dokter hewan akan menghampirinya dan menembakkan anak panah yang mengandung etorinin. Itu merupakan opioid (pereda rasa sakit) yang lebih kuat seribu kali lipat dibanding morfin.

“Dosis yang terlalu tinggi akan membunuh gajah. Terlalu rendah juga membuat mereka kabur. Anda harus memberikannya dengan tepat,” saran Squarcini.        

Seperti hangover

Setelah gajah tertidur, tim lalu melakukan cek kesehatan dan mengambil sambil memasang kerah pelacak.

Prosesnya memakan waktu sekitar sepuluh menit. Setelah selesai, tim pemasang pelacak pun berlindung – kadang memanjat pohon – sebelum gajah terbangun dari obat penawar.

“Saat hewan besar itu terbangun, ia sedikit linglung. Seperti bangun dengan hangover,” kata Squarcini sambil bercanda.

Para dokter hewan di Afrika Selatan sudah membantu memasang kerah pelacak dengan GPS itu pada 20 gajah, Desember lalu, di taman nasional Mwagna dan Ivindo, timur laut Gabon.

Tetangganya, taman nasional Minkebe, pun akan mengikuti kampanye kerah pelacak ini mulai Februari.

Selama 45 hari, tim ANPN yang dipimpin oleh konservasionis Afrika Selatan, Peter Morkel, akan menjelajahi hutan seluas 20 kilometer dalam sehari.

Zona berbahaya

Nantinya, perjalanan gajah yang sudah dipasang pelacak – termasuk Junior, Boniface, Syndie, Kate, dan Zara – akan muncul pada peta di pusat operasi ANPN, di ibu kota Gabon, Libreville.

Layar besar di sana akan menampilkan gambar satelit yang berasal dari kerah pelacak GPS. Itu bisa menunjukkan saat gajah berada dalam bahaya, terlalu dekat dengan daerah pemukiman, atau ketika tidak bisa bergerak.

“Itu memungkinkan kami melihat ke mana para gajah akan bergerak. Terutama ketika mereka berada di zona bahaya – tempat kami sering menemukan bangkai gajah. Setidaknya, kami tahu di sana ada pemburu liar,” jelas Parfait Ndong Ondo, salah satu petugas di pusat operasi ANPN.

(Baca juga: Konflik Manusia dan Gajah yang Tak Kunjung Usai)

Salah satu gajah, Patrice, sedang diawasi ketat karena ia telah menyimpang dari taman nasional Ivindo. Ia bergerak menuju jalur kereta api.

“Patrice mungkin bisa merusak hasil panen atau tersesat di wilayah yang banyak pemburunya. Kami tahu harus turut campur tangan,” kata Squarcini. Penjaga lapangan lalu dikirim untuk menemukan Patrice dan mengembalikannya ke tempat yang aman.

15 ribu gajah mati di tangan pemburu

Hutan hujan tropis yang lebat di taman nasional Minkebe, Gabon utara, sedang berperang dengan pemburu. Dibatasi oleh Kamerun dan Kongo, wilayah seukuran Begia ini menjadi target para geng Afrika yang ingin menghasilkan uang dengan cepat dari emas putih.

Gabon membanggakan 45 ribu gajah yang mereka miliki pada satu dekade yang lalu. Menjadi wilayah dengan populasi gajah terbesar di Afrika tengah. Namun sayangnya, menurut Squarcini, ada 15 ribu gajah yang mati di tangan pemburu liar.

Berdasarkan data dari Great Elepant Census 2016, jumlah gajah savana diperkirakan sekitar 352 ribu. Menurun dari 1,3 juta pada 1979. 

(Gita Laras Widyaningrum/Sumber: AFP)

KOMENTAR