Mamalia dan Burung Lebih Mungkin Selamat dari Perubahan Iklim Dibanding Hewan Lainnya
2018 / Februari / 6   14:36

Mamalia dan Burung Lebih Mungkin Selamat dari Perubahan Iklim Dibanding Hewan Lainnya

Ketika Bumi yang nyaman perlahan menjadi dingin sekitar 40 tahun yang lalu, burung dan mamalia berhasil bergerak dan beradaptasi di habitat baru mereka.

Mamalia dan Burung Lebih Mungkin Selamat dari Perubahan Iklim Dibanding Hewan LainnyaBenua Afrika menjadi satu-satunya tempat dimana keanekaragaman mamalia besar menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah. (Shutterstock)

Burung dan mamalia memiliki kesempatan yang lebih baik untuk bertahan hidup dari perubahan iklim dibanding reptil dan amfibi.

Studi terbaru menganalisis sekitar 11 ribu spesies untuk mengetahui bagaimana mereka bisa bertahan selama 270 juta tahun saat cuaca berfluktuasi antara panas dan dingin. Penelitian ini menemukan fakta bahwa hewan berdarah panas memiliki mekanisme pertahanan yang lebih baik dibanding amfibi dan reptil.

“Kami melihat bahwa mamalia dan burung lebih mampu untuk memperluas habitat mereka. Artinya, mereka bisa beradaptasi dengan mudah,” kata Jonathan Rolland, pemimpin penelitian dari University of British Columbia.

(Baca juga: Studi: Hutan Berkarbon Tinggi Lebih Mendukung Kehidupan Mamalia yang Terancam Punah)

Rolland menambahkan, adaptasi memiliki pengaruh yang kuat terhadap tingkat kepunahan dan kelangsungan planet Bumi di masa depan.

Tim peneliti mengatakan, sekitar 66 juta tahun yang lalu, asteroid besar menghantam semenanjung Yucatan. Puing-puing di atmosfer membuat suhu di Bumi lebih dingin. Tabrakan itu memusnahkan disnosaurus, mulai dari triceratops hingga T-Rex.

Hewan  berdarah panas, pada akhinya bisa selamat dan bertahan hidup karena mereka tidak lagi menjadi mangsa dinosaurus.

Saat ini, kepunahan massal lain yang disebabkan oleh pemanasan global sedang mengancam bumi. Ini pertama kalinya sejak dinosaurus punah, dan yang keenam dalam sejarah Bumi. Faktanya, spesies menjadi lebih cepat punah 100 kali lipat dibanding pada masa sebelum revolusi industri.

Rolland dan rekan-rekannya meneliti data genetik dan catatan fosil untuk merekonstruksi lokasi di mana hewan-hewan berkembang selama 270 juta tahun terakhir. Dan pada suhu berapa mereka bisa tetap hidup.

Ketika Bumi yang nyaman perlahan menjadi dingin sekitar 40 tahun yang lalu, burung dan mamalia berhasil bergerak dan beradaptasi di habitat baru mereka. Namun, hal itu tidak terjadi pada hewan berdarah dingin. Mungkin ini juga yang menjadi alasan mengapa hanya ada sedikit amfibi dan reptil yang bisa dilihat di tempat beriklim sedang dan Antartika. Meskipun tekanan lingkungan bisa membuat mereka beradaptasi juga, tetapi itu akan memakan waktu yang lama.

(Baca juga: Es Kutub Utara Mencair, Mamalia Hadapi Tantangan Baru)

Hewan berdarah panas masuk ke dalam kelompok yang disebut endoterm. Mereka bisa mengatur suhu tubuh, menjaga agar bagian bawah tubuh dan embrio tetap hangat, serta meningkatkan peluang bertahan hidup. Kelompok yang meliputi mamalia dan burung ini bisa hibernasi atau bermigrasi dengan cara yang lebih mudah dibanding eksoterm.

Eksoterm merupaka kelompok di mana hewan berdarah dingin berada. Suhu tubuh mereka dipengaruhi oleh lingkungan.

Penemuan yang dipublikasikan pada jurnal Nature Ecology and Evolution ini sangat penting. Sebab, pengetahuan mengenai kepunahan di masa lalu dan evolusi spesies bisa membantu kita mengetahui bagaimana perubahan iklim akibat ulah manusia mempengaruhi keanekaragaman hayati yang ada di Bumi. 

(sumber: techtimes.com)

KOMENTAR