Hematidrosis, Penyakit Langka yang Membuat Seseorang Mengeluarkan Keringat Darah
2018 / Februari / 13   16:19

Hematidrosis, Penyakit Langka yang Membuat Seseorang Mengeluarkan Keringat Darah

Hematidrosis biasanya terjadi ketika seseorang mengalami rasa takut atau stres yang ekstrem.

Hematidrosis, Penyakit Langka yang Membuat Seseorang Mengeluarkan Keringat DarahGeeta, wanita asal India, yang mengidap hematidrosis. (Newsflare/Indiaphotoagency)

Seorang wanita di India secara kejam disebut sebagai penyihir oleh suaminya sendiri. Geeta, wanita asal Bihar, India, memiliki penyakit langka yang membuatnya mengeluarkan keringat darah. Ia mengatakan, kondisinya semakin parah setiap hari. Ini membuat suaminya meninggalkan Geeta tahun lalu.

Tidak hanya mata, penyakit ini juga menyerang bagian tubuh lainnya. Dr. Vinayak Kumar Singh, yang merawat Geeta di rumah sakit Sadar, mengatakan bahwa jumlah sel darah dan penggumpalannya berfungsi secara normal.

Geeta diketahui mengidap hematidrosis. Kondisi ini tidak membuat pengidapnya kesakitan dan datangnya pun secara tiba-tiba.

(Baca juga: Mengenal Porfiria, Penyakit yang Membuat Seseorang Takut Sinar Matahari Bak Vampir)

Hematidrosis

Dilansir dari Healthline, hematidrosis merupakan kondisi langka di mana seseorang mengeluarkan keringat darah. Penyakit ini juga dikenal dengan sebutan hematohidrosis dan hemidrosis.

Karena sangat langka, banyak orang yang tidak mengetahui hematidrosis. Meskipun begitu, penyakit ini sungguh nyata. Keringat darah bisa muncul di permukaan tubuh. Terutama pada area wajah dan kening.

Penyebab hematidrosis

Tidak banyak informasi yang tersedia mengenai hematidrosis. Karena kondisinya yang sangat langka, penyakit ini jadi sulit dipahami.

Namun, bagaimana pun juga, hematidrosis biasanya terjadi ketika seseorang mengalami rasa takut atau stres yang ekstrem. Seseorang yang akan menghadapi kematian, mungkin mengalami stres ini. Saat menghadapi tekanan, tubuh memiliki respons fight or flight (bertarung atau melarikan diri).

Itu merupakan respons alami tubuh ketika bertemu dengan ancaman. Membantu kita untuk bertahan saat situasi berbahaya.

Tubuh akan mengeluarkan zat kimia, seperti adrenalin dan kortisol, yang mempersiapkan kita untuk melawan atau melarikan diri dari bahaya. Kita menjadi lebih waspada dan energi pun meningkat. Respons tubuh ini bersifat sementara dan biasanya tidak menyebabkan masalah kesehatan.

(Baca juga: Konsumsi 5 Makanan Ini Saat Stres Melanda)

Namun, pada beberapa kasus langka, respons fight or flight ini, bisa memicu pecahnya kapiler dalam tubuh. Kapiler merupakan pembuluh darah kecil yang terletak di seluruh jaringan. Ia membawa nutrisi penting untuk beberapa bagian tubuh.

Kapiler juga terletak di sekitar kelenjar keringat. Pada kasus stres berat, pembuluh darah mungil ini bisa pecah dan menyebabkan darah keluar dari tubuh melalui kelenjar keringat.

Penyebab lain

Kapiler yang pecah memang bisa menyebabkan hematidrosis, namun ada juga teori lain tentang darah yang keluar melalui keringat. Di antaranya, karena ‘menstruasi perwakilan’. Ini merupakan kondisi di mana darah keluar dari tubuh melalui lokasi lain – selain rahim – saat menstruasi.

Selain itu, ada juga teori purpura psikogenik, yakni pendarahan spontan dan memar tanpa luka atau penyebab lain yang diketahui.

Cara menangani hematidrosis

Hematidrosis tampaknya tidak mengancam nyawa. Untuk menghentikan pendarahan pada permukaan kulit, cara yang bisa dilakukan adalah mengetahui penyebab stres yang memicu kelainan tersebut.

Dokter akan melakukan berbagai macam tes diagnosis. Ini membantu mereka untuk:

  • mengecek jumlah darah
  • memeriksa jumlah trombosit
  • mencegah pendarahan lebih lanjut

(Baca juga: Mengapa Golongan Darah AB Sangat Jarang? Ternyata Ini Sebabnya)

Beberapa dokter juga akan melakukan tes laboratorium untuk mengecek fungsi ginjal dan hati. Mereka mungkin meminta sampel urine dan tinja untuk memeriksa apakah ada kelainan. USG perut atau endoskopi saluran pencernaan juga membantu mengetahui kondisi lainnya.

Jika hasil tes laboratorium tidak menunjukkan adanya kelainan, dan apabila Anda sedang mengalami stres, dokter akan merekomendasikan untuk mengatasi rasa takut dan stres itu. Misalnya, dengan memberikan obat antidepresi atau terapi psikologis. 

(Gita Laras Widyaningrum/Sumber: Healthline, Dailymail)

KOMENTAR