Grebeg Sudiro, Perpaduan Budaya Tionghoa-Jawa di Solo
2018 / Februari / 7   09:51

Grebeg Sudiro, Perpaduan Budaya Tionghoa-Jawa di Solo

Segala kemeriahan Grebeg Sudiro adalah lambang akulturasi tradisi Tionghoa dan Jawa, yang melebur dalam suasana hangat toleransi.

Grebeg Sudiro, Perpaduan Budaya Tionghoa-Jawa di SoloSejumlah barongsai ikut pada kirab Grebeg Sudiro di sekitar Pasar Gede, Kota Solo, Jawa Tengah, Minggu (30/1/2011). Warga Kelurahan Sudiroprajan yang merupakan kawasan pecinan di Solo menggelar tradisi grebeg sebagai bentuk akulturasi budaya untuk menyambut Tahun Baru Imlek 2562. Beragam kesenian dari budaya Tionghoa dan Jawa ditampilkan dalam grebeg. (Iwan Setiyawan/Kompas.com)

Gunungan dari kue keranjang diarak sepanjang Jalan Sudiroprajan. Kemeriahan semakin terasa ketika ada atraksi barongsai, reog ponorogo, kesenian Jawa lain, serta hiasan lampion. Pemandangan langka ini dapat disaksikan di Solo, Jawa Tengah ketika Grebeg Sudiro.

Perayaan ini umumnya diselenggarakan tujuh hari sebelum Tahun Baru China. Segala kemeriahan Grebeg Sudiro adalah lambang akulturasi tradisi Tionghoa dan Jawa, yang melebur dalam suasana hangat toleransi. Namun Grebeg Sudiro bukan cuma lambang, ada fungsi lain dari perayaan lintas etnis ini. 

"Tampilan apik yang bertempat di komplek Pasar Gedhe itu juga merupakan jembatan sejarah mengulik riwayat orang-orang China di Solo sudah ada jauh sebelum Keraton Kasunanan berdiri walau jumlahnya belum banyak," kata Dosen Prodi Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Heri Priyatmoko saat dihubungi KompasTravel.

Heri menjelaskan jika komunitas Tionghoa di Solo hadir untuk berdagang. Peradaban besar Bengawan Solo melibatkan jaringan anak sungai telah melahirkan ekosistem Pasar Gedhe yang mewadahi perdagangan lintas etnis.

(Baca juga: Kampung Kapitan Palembang, Jejak Pertama Keturunan Tionghoa)

Ini juga yang menjadi salah satu alasan mengapa ibu kota Keraton Mataram dari Kartasura dipindahkan ke Desa Sala ialah adanya keramaian aktivitas niaga yang tidak jauh dari lokasi ibu kota yang baru. Pihak istana berharap dapat memungut pajak untuk biaya operasional kerajaan. (Soedarmono 2004).

Situasi ini mendorong pertumbuhan komunitas Tionghoa di Solo yang tergerak mengadu nasib dan bermukim di kota. Dalam perkembangannya, mereka bertempat tinggal di wilayah Kasunanan, yaitu Ketandan depan Pasar Gedhe, Balong, Mijen, Kepanjen, Samaan, Sudiroprajan, dan Limolasan," kata Heri.

Akan tetapi ada yang membedakan antara komunitas Tionghoa yang tinggal di Balong dan daerah lain. Dekade pertama abad ke-20, komunitas Tionghoa yang tinggal di Balong merupakan golongan ekonomi menengah ke bawah.

Dijelaskan pada periode tersebut sebagian besar wilayah Balong masih berupa tanah lapang yang kumuh. Di lapangan itu telah dihuni para buruh, baik Tionghoa maupun orang Jawa yang mendirikan rumah bilik.

"Dunia industri di Solo pengujung abad ke 21 mulai berkembang sebagai imbas dari kebijakan masuknya modal asing dan modernisasi yang dilakukan pemerintah kolonial.

Tanah lapang yang kumuh serta dipenuhi rumpun bambu berfungsi untuk tempat pembuangan tulang dari rumah jagal di Jagalan. Di Balong diangkat seorang pemimpin dengan jabatan Kapiten China yang bertanggung jawab kepada raja maupun Belanda.

Heri menjelaskan dalam penelusuran ilmiah Riyadi (2011) daerah Balong semakin menonjolkan keunikan, lantaran di kawasan Pecinan orang Jawa diberikan izin leluasa di daerah tersebut. Lantas terjadi interaksi harmonis berujung kawin campur. Terciptalah akulturasi dari perkawinan campur tersebut.

Camilan dari bahan kacang dan gula jawa, ampyang menjadi lambang akulturasi yang banyak dikaitkan sebagai lambang masyarakat Balong.

"Dari sekian pemukiman etnis Tionghoa di Solo, hanya komunitas Tionghoa Balong yang mampu berakulturasi dengan budaya Jawa sehingga komunitas ini ikut memperkaya komposisi komunitas masyarakat di Solo," kata Heri.

(Baca juga: Aneka Kuliner Perayaan Imlek)

Beda dengan komunitas Tionghoa lainnya di Solo yang kental dengan nuansa bisnis, komunitas Tionghoa di Balong terkenal karena campuran budaya dengan pembauran yang baik. Tahun 1998, Balong menjadi lokasi komunitas China yang luput dari aksi kekerasan pada Mei 1998.  

Stigma negatif kerusuhan rasial pada 1743, 1911, 1965, 1980, dan 1998 di Solo perlahan dikikis dengan jalur kultural. Grebeg Sudiro menurut Heri adalah bukti tingginya kesadaran masyarakat Solo untuk bahu membahu, menghilangkan stigma negatif.

"Grebeg Sudiro bagaikan panggung untuk menguatkan ikatan persaudaraan masyarakat kota yang majemuk, strategi kebudayaan yang jitu. Barangkali perlu ditiru oleh kota-kota lain demi merayakan pembauran dan menguatkan tali hubungan lintas etnis yang harmonis," kata Heri.

Artikel ini pernah tayang di Kompas.com. Baca artikel sumber

(Silvita Agmasari/Kompas.com)

KOMENTAR