Waduk Dadakan di Gunung Kidul Terkuras Habis, Ini Penjelasannya
2018 / Januari / 23   21:46

Waduk Dadakan di Gunung Kidul Terkuras Habis, Ini Penjelasannya

Air yang awalnya hampir memenuhi cekungan berdiameter sekitar 300 meter dengan kedalaman sekitar 60 meter itu habis tak tersisa hanya dalam beberapa jam.

Waduk Dadakan di Gunung Kidul Terkuras Habis, Ini PenjelasannyaAir Luweng Blimbing wilayah Dusun Serpeng Wetan, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, Gunungkidul, Yogyakarta, habis dalam waktu dua jam. (Markus Yuwono/Kompas.com)

Kejadian Siklon Tropis Cempaka pada Selasa (27/11/2017) meninggalkan dampak di sejumlah wilayah.

Salah satunya di wilayah Gunungkidul, Yogyakarta, yang tiba-tiba terbentuk danau yang kemudian dijadikan tempat wisata oleh warga.

Namun, pada Selasa (22/1/2018), danau dadakan yang ada di Luweng Blimbing atau goa vertikal di wilayah Dusun Serpeng Wetan, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, Gunungkidul, Yogyakarta, ini mendadak surut. Airnya habis tak tersisa.

Seperti diberitakan Kompas.com, seorang warga mengatakan air yang awalnya hampir memenuhi cekungan habis. "Sejak siang sekitar pukul 14.00 WIB (air berkurang) dan habis sekitar pukul 16.00 WIB," kata Suharto saat ditemui di lokasi, Senin (22/1/2018).

Baca juga: Taman Tersembunyi di Karst Cibinong

Lubang berdiameter sekitar 300 meter dengan kedalaman sekitar 60 meter itu kering. Warga mendengar suara air yang masuk ke dalam tanah. "Suaranya itu seperti gempa bumi, airnya masuk ke dalam lubang di dasar luweng. Lalu airnya habis," ucap Wartinah.

Terkait hal ini, ahli geologi Rovicky Dwi Putrohari menjelaskan bahwa genangan dan meresapnya air ke dalam tanah terjadi karena adanya sungai bawah tanah. Kejadian ini sangat normal.

"Itu karena air ( hujan) yang masuk (ke luweng) teralirkan kembali melalui sungai-sungai bawah tanah yang mengalirkan air. Artinya, proses pengisiannya cepat, tetapi proses pengurasannya juga sangat cepat," kata Rovicky saat dihubungi Kompas.com, Selasa (23/1/2018).

Baca juga: Meretas Jalur Menuju Pucuk Beriun

Dia menambahkan, jika nanti terjadi hujan lebat, sangat mungkin luweng-luweng yang kini kering akan terisi air lagi. Kemudian tak lama dari itu, akan surut dengan cepat kembali.

"Memang mekanismenya seperti itu. Saat terjadi hujan deras, luweng akan menampung air sehingga sistem sungai dan sistem hidrologi di daerah kars memungkinkan luweng-luweng terisi air. Proses pengisian dan pengurasannya sangat cepat karena melalui sungai bawah tanah," ujarnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com. Baca artikel sumber.

(Gloria Setyvani Putri/Kompas.com)

KOMENTAR