Mengenali Depresi dari Cuitan Seseorang di Twitter
2018 / Januari / 24   10:09

Mengenali Depresi dari Cuitan Seseorang di Twitter

Pemilihan kata yang dipakai seseorang saat "berkicau" di Twitter, bisa menunjukkan apakah ia memiliki depresi atau pun gangguan stres pascatrauma (PTSD).

Mengenali Depresi dari Cuitan Seseorang di TwitterIlustrasi (Thinkstockphoto)

Banyak dari kita menganggap sudah memilih apa yang perlu dibagikan di media sosial dan mana yang disimpan untuk sendiri. Tapi, berdasarkan riset terbaru, bisa saja kita berbagi terlalu banyak. Termasuk hal mendalam tentang kesehatan mental kita.

Menurut hasil penelitian terbaru, dari pemilihan kata yang dipakai seseorang saat "berkicau" di Twitter, bisa menunjukkan apakah ia memiliki depresi atau pun gangguan stres pascatrauma (PTSD).

Orang-orang yang depresi ternyata lebih sering menggunakan kata-kata yang justru dikategorikan positif, seperti "bahagia", "pantai' dan "foto" atau kata-kata yang lebih negatif seperti "kematian", "tidak" dan "tidak pernah".

(Baca juga: 'Cyberbullying' pada Wanita Terjadi 6 Kali per Menit di Twitter)

Sebuah tim riset menganalisa data dari pengguna media sosial Twitter menggunakan pendekatan algoritma untuk melihat apakah postingan di Twitter bisa memprediksi tingkat depresi dan PTSD. Ditemukan bahwa 9 dari 10 prediksi algoritma tersebut adalah benar.

Tim peneliti menganalisa data Twitter dari 204 pengguna, 105 menderita depresi klinik dan 99 tanpa depresi. Ini untuk melihat apakah perbedaan bahasa yang dipakai saat menulis "cuitan" bisa membantu mendeteksi depresi.

Peneliti menggunakan dua model penelitian yang berbeda. Pertama, model penggolongan (memisahkan tweet sehat dan depresi atau membedakan pengguna sehat dan pengguna yang mengalami PTSD).

Kedua, mengidentifikasi indikator-indikator kondisi kesehatan mental yang dimunculkan setiap waktu.

Andrew Reece, peneliti postdoctoral dari Harvard University yang melakukan riset tersebut, menyampaikan bahwa dengan model yang terakhir, para peneliti mampu menggambar lini masa dari awal mula depresi, bagaimana depresi itu berjalan dan masa penyembuhan, hanya berdasarkan bahasa-bahasa yang digunakan orang-orang pada tweet mereka.

(Baca juga: Tanpa Kita Sadari, Kita Berubah Saat Merasa Diawasi)

Walau begitu, menurut dia metode penelitian ini memiliki kekurangan. Salah satunya adalah peneliti hanya bisa mengamati pengguna Twitter serta yang mau memberi tahu data sejarah kesehatan mental mereka.

Artinya, penelitian belum bisa digeneralisasikan kepada mereka yang kurang terbuka tentang informasi pribadinya.

Reece mengatakan, banyak orang melanjutkan ikut dalam penelitian saat mereka diminta informasi soal media sosial mereka. Ia kemudian memikirkan apakah model penelitian ini baik digunakan untuk depresi pada orang-orang ekstrovert atau pada orang yang menaruh kepercayaan.

Artikel ini pernah tayang di Kompas.com. Baca artikel sumber

(Nabilla Tashandra/Kompas.com)

KOMENTAR