Kecanduan Mengedit Foto 'Selfie' Berkaitan dengan Krisis Kesehatan Mental
2018 / Januari / 22   10:45

Kecanduan Mengedit Foto 'Selfie' Berkaitan dengan Krisis Kesehatan Mental

Di balik kebiasaan "memoles" foto untuk media sosial yang terkadang hasilnya jauh dari realita, ternyata ada krisis kesehatan mental yang tersembunyi.

Kecanduan Mengedit Foto 'Selfie' Berkaitan dengan Krisis Kesehatan MentalIlustrasi. (Thinkstockphoto)

Tak puas dengan hasil foto yang ingin diunggah ke media sosial? Cukup mengeditnya dengan berbagai aplikasi di ponsel, penampilan wajah dapat "disulap" jadi lebih menarik. Dengan sekali klik, kulit muka akan terlihat lebih halus, bebas minyak, bahkan pipi pun jadi lebih tirus.

Di balik kebiasaan "memoles" foto untuk media sosial yang terkadang hasilnya jauh dari realita, ternyata ada krisis kesehatan mental yang tersembunyi. Setidaknya itu menurut hasil beberapa penelitian mengenai kecanduan orang modern dalam mengedit foto selfie.

Jutaan foto diunggah ke media sosial setiap harinya. Dengan adanya filter foto, ada semakin banyak orang yang membandingkan selfie mereka dengan orang lainnya. Padahal, apa yang dibandingkan belum tentu sesuatu yang nyata.

Tak hanya untuk memoles wajah, kini fitur edit foto juga mampu "menghilangkan" jerawat, memutihkan gigi, dan melangsingkan perut. Kemampuan itu terus dikembangkan, terutama oleh media sosial yang foto-sentris seperti Instagram atau Snapchat.

(Baca juga: Ternyata, Begini Tren Foto Liburan Ala Generasi Milenial)

Faktanya, ada banyak penipuan penampilan di media sosial yang pengaruhnya terbawa hingga ke kehidupan nyata.

Mengambil, melihat dan membagikan foto diri yang telah diedit membawa dampak terhadap bagaimana orang lain memandang diri kita.

Berdasarkan data Pew Research Center, total ada 166 juta pengguna harian Snapchat, 41 persen di antaranya adalah remaja berusia 13 hingga 17 di tahun 2015. Mereka suka menggunakan fasilitas filter pada Snapchat yang membuat mereka terlihat konyol dan bermain-main. Mulai dari filter mahkota bunga, telinga kelinci, hingga taburan hati.

Filter lainnya juga merefleksikan kecantikan dalam standar digital. Seperti pemutih kulit, pembentuk hidung, pewarna bibir, dan filter lainnya yang membuat kita seolah menggunakan make up.

Sementara Instagram memiliki 500 juta pengguna harian dan digunakan oleh sekitar 52 persen remaja berusia 13 hingga 17 tahun pada 2015.

Instagram memiliki lebih dari 20 jenis filter yang bisa digunakan untuk mengedit foto. Kita bisa mengedit foto kita menjadi hitam-putih dan mengatur tingkat keterangannya, hingga bisa membuat seolah kita berfoto dengan latar belakang emas. Semua itu hanya dengan mengotak-atik filter di media sosial ini.

Memanipulasi foto sudah menjadi bagian dalam hidup semua orang. Bahkan jika Snapchat dan Instagram menghapus fitur filter mereka, bisa jadi platform lain yang mengambil alih fitur tersebut.

Disadari atau tidak, unggahan di media sosial menjadi sarana kompetisi untuk terlihat lebih mewah, membandingkan liburan satu sama lain, memamerkan baju atau makanan, hingga menunjukkan pesona palsu foto mereka yang dipoles menggunakan filter.

Efek kegelisahan

Tidak semua orang mampu menyadari bahwa apa yang ditampilkan di media sosial hanyalah gambaran kecil dari realita. Akibatnya, kita akan hidup dalam kesempurnaan semu yang coba diraih. Kita juga akan merasa rendah diri dan tidak puas dengan kehidupan yang dimiliki karena selalu membandingkannya dengan orang lain yang kita lihat di media sosial.

Pada awal tahun, badan kesehatan masyarakat di Inggris merilis #StatusOfMind, laporan tentang dampak penggunaan media sosial terhadap kesehatan mental.

Survei dengan 14 pertanyaan ini dilakukan terhadap 1.500 anak muda berusia 14 hingga 24 tahun. Pertanyaan yang diajukan terkait dengan kondisi mental dan penggunaan YouTube, Snapchat, Facebook, Pinterest, dan Twitter.

Kecuali Youtube, semua platform media sosial tersebut terkait dengan efek kegelisahan dan depresi para penggunanya. Dua media sosial yang paling menonjolkan foto, yaitu Snapchat dan Instagram, dianggap memiliki skor paling rendah dalam hal "kesejahteraan mental". Hal ini terkait dengan "bullying" dan munculnya "fear or missing out" (FOMO).

(Baca juga: Lima Aturan Sehat Bermain Instagram)

FOMO adalah fobia yang menjangkit para pengguna media sosial, sehingga mereka takut ketinggalan tren atau berita. Mereka yang suka memantau tagar #thinstagram di Instagram juga mengalami kecemasan soal bentuk tubuh.

Hasil serupa juga ditemukan dari survei yang dilakukan oleh tim dari University of Pittsburgh tahun 2014 dengan responden 1.787 orang berusia 19 hingga 32 tahun.

Mereka yang menggunakan tujuh atau lebih media sosial beresiko mengalami kecemasan dan depresi tiga kali lipat, dibandingkan mereka yang hanya punya dua atau tiga media sosial.

Salah satu cara untuk mencegah efek negatif media sosial tersebut adalah membuat orang menyadari apakah sebuah foto sudah dimanipulasi atau tidak. Misalnya dengan membuat aplikasi dengan fitur khusus yang bisa mengenali mana foto yang diedit.

Di Prancis bahkan sudah dikeluarkan peraturan, semua iklan yang menggunakan foto hasil "editing" harus menyertakan peringatan agar tak ada yang "tertipu".

Artikel ini pernah tayang di Kompas.com. Baca artikel sumber.

(Nabilla Tashandra/Kompas.com)

KOMENTAR