Kala Rosetta Terjebak Badai Komet
2018 / Januari / 30   11:05

Kala Rosetta Terjebak Badai Komet

Ketika Rosetta terjebak badai komet, ia justru bisa menggunakan kesempatan itu untuk mempelajari butiran debu komet.

Kala Rosetta Terjebak Badai KometBadai komet yang dialami Rosetta selama mengorbit komet 67P/Churyumov-Gerasimenko. (Rosetta / ESA)

Ketika Rosetta terjebak badai komet, ia justru bisa menggunakan kesempatan itu untuk mempelajari butiran debu komet. 

Apakah kamu tinggal di wilayah yang mengalami badai salju atau badai debu? Bagi sebagian orang, cuaca ekstrim seperti badai salju yang terjadi tiba-tiba bisa memberi dampak yang sangat besar dalam kehidupan sehari-hari. Salju dan angin kencang bisa menyebabkan listrik terputus , transportasi berhenti beroperasi, bahkan komunikasi juga bisa terputus selama beberapa hari.

Wahana Rosetta milik ESA yang sedang mendampingi komet 67P/Churyumov–Gerasimenko dari tahun 2014 sampai 2016 juga mengalami kejadian serupa yang mirip cuaca ekstrim di Bumi.

Baca juga: Saat Lubang Hitam Tertidur di Jantung Gugus Bola

Foto yang ada di laman ini jadi buktinya. Rosetta berhasil mengabadikan peristiwa yang mirip badai salju dalam perjalanannya bersama komet 67P. Lebih tepatnya, foto ini diabadikan Rosetta saat berada 79 km dari komet 67P/Churyumov-Gerasimenko pada tanggal 21 Januari 2016.

Tapi yang ada di foto itu bukan badai salju. Yang dilihat Rosetta adalah butiran debu yang melintas di depan kameranya.

Badai debu yang dialami Rosetta ini terjadi ketika komet 67P sedang dalam perjalanan mendekati Matahari. Seperti julukannya yakni “bola salju berdebu”, komet yang terbentuk dari es dan debu akan mengalami pemanasan saat mendekati Matahari. Akibatnya es di permukaan komet akan menguap dan membawa serta butiran-butiran debu.

Baca juga: NASA Rilis Gambar Paling Tajam dari Galaksi Cartwheel

Meskipun berbahaya, debu komet itu justru menarik bagi para ilmuwan di Bumi. Selama bertugas, Rosetta sudah mempelajari puluhan ribu butiran debu komet dan mengirim informasi penting yang membantu para ilmuwan untuk memahami komposisi, massa, momentum dan kecepatan butiran debu. Dengan mempelajari butiran-butiran debu komet itu para astronom bisa memahami penyusun komet dan juga Tata Surya.

Artikel ini telah tayang di Langitselatan.com. Baca artikel sumber.

(Avivah Yamani/langitselatan.com/)

KOMENTAR