Gelombang Panas Laut yang Mematikan Akan Sering Terjadi di Masa Mendatang
2018 / Januari / 18   17:00

Gelombang Panas Laut yang Mematikan Akan Sering Terjadi di Masa Mendatang

Periode suhu tinggi di lautan yang bisa menghancurkan satwa laut, akan lebih sering terjadi di masa mendatang. Perubahan iklimlah penyebabnya.

Gelombang Panas Laut yang Mematikan Akan Sering Terjadi di Masa MendatangSeorang penyelam berenang di Chac Mool cenote di Meksiko. (shane Gross)

Menurut sebuah studi terbaru, gelombang panas yang melanda seperempat samudra di dunia pada 2016, disebabkan oleh perubahan iklim.

Memiliki nama pendek ‘gumpalan’, serangan air hangat tersebut dikaitkan dengan kematian satwa dan rusaknya ekosistem laut.

Secara alami, air laut melewati fase suhu yang lebih tinggi – dikenal dengan sebutan El Nino – yang menyebabkan air di Samudra Pasifik lebih hangat. Perubahan iklim juga dianggap berkontribusi pada fluktuasi suhu tersebut. Lebih tepatnya, perubahan iklim yang disebabkan ulah manusia.

(Baca juga: Laut Tidak Sanggup Lagi Menanggung Dampak Pemanasan Global)

Pada 2016, sekelompok peneliti berfokus pada pemanasan yang terjadi di sekitar Australia Utara dan Samudra Pasifik bagian utara antara Alaska dan Rusia.

Suhu ekstrem yang terjadi Teluk Alaska menyebabkan kematian ribuan burung laut dan paus. Sementara pemanasan di Australia menghasilkan pemutihan karang yang massal.

Studi terbaru yang dipublikasikan pada Bulletin of the American Meteorological Society, berdasarkan studi yang dipimpin oleh dr. Eric Oliver dari University of Tasmania, juga menyelidiki penyebab gelombang panas yang terjadi di timur laut Australia.

(Baca juga: Pemutihan Terumbu Karang Terekam dalam Video)

“Kami yakin 99% bahwa perubahan iklim akibat ulah manusia menjadi penyebab munculnya gelombang panas di lautan hingga beberapa kali. Ada kemungkinan ini akan terjadi lebih sering di masa depan,” kata dr. Oliver.

Pada analisis terbaru, dr. Oliver dan rekannya, menyimpulkan, gelombang panas bawah laut terjadi sebanyak 53 kali di wilayah tersebut. Gelombang panas yang muncul di Samudra Pasifik bagian utara dan Australia pada 2016, merupakan yang paling intens dan terpanjang dalam sejarah.

Penelitian ini menambah kumpulan karya ilmiah yang berusaha memahami sejauh mana bencana alam dan cuaca ekstrem dapat dikaitkan dengan perubahan iklim. 

(Sumber: The Independent)

KOMENTAR