Di Jepang, Para Perempuan Rela Membayar Sejumlah Uang Agar Bisa Meluapkan Tangisan
2018 / Januari / 22   16:00

Di Jepang, Para Perempuan Rela Membayar Sejumlah Uang Agar Bisa Meluapkan Tangisan

Menangis memiliki manfaat untuk kesehatan mental. Para perempuan Jepang pun rela membayar jasa perusahaan yang membantu mereka menumpahkan emosi dan air mata.

Di Jepang, Para Perempuan Rela Membayar Sejumlah Uang Agar Bisa Meluapkan TangisanIlustrasi (Plasticboystudio/Thinkstock)

Meskipun ada beberapa binatang yang bisa meneteskan air mata, tetapi pada manusia, tangisan emosional dianggap sebagai salah satu aktivitas yang unik. Terlepas dari alasan di baliknya, mengekspresikan emosi dengan cara menangis, baik untuk kesehatan.

Di Jepang, pengusaha Hiroki Terai menjadikan hal tersebut sebagai peluang bisnis. Ia adalah pendiri perusahaan yang menyediakan jasa ‘menangis’. Bersama timnya, Terai mengajak orang lain untuk meluapkan tangisannya dan menyediakan pria tampan untuk menghapus air mata mereka.

Dikenal dengan rui-katsu atau ‘pencari air mata’, bisnis ini populer di kalangan perempuan yang ingin meredakan tingkat stresnya. Dalam film pendek Crying with the Handsome Man, Darryl Thoms, pembuat film ini, mengeksplor keunikan dan mencari tahu mengapa Terai yakin bisnisnya ini bisa mendekatkan banyak orang.

Suatu hari, Thoms membaca sebuah artikel tentang perusahaan yang mengirim pria-pria tampan untuk menghapus air mata perempuan Jepang. Mereka dikenal dengan Ikemeso Takkyubin atau Pengantar Tangisan.

Setelah mencari informasi, Thoms menemui pemilik perusahaan tersebut, yakni Hiroki Terai. Terai memberikan izin kepada Thoms untuk merekam salah satu sesi terapi menangisnya, yang dipimpin oleh pria tampan bernama Ryeui-san.

“Ryeui merupakan seorang penyanyi dan pemain samisen (alat musik tradisional Jepang) yang sangat tampan. Ia juga telah mempelajari efek penyembuhan dari menangis,” papar Thoms.

Budaya menangis

Bagi mereka yang tinggal di negara Barat, praktek menangis ini terlihat tidak biasa – bahkan dianggap aneh. Namun, bagi beberapa budaya, menunjukkan kesedihan atau marah adalah sesuatu hal yang tabu. Menangis dianggap sebagai tindakan yang tidak dewasa. Oleh sebab itu, emosi harus ditekan, bahkan dilenyapkan.

Faktanya, menurut poling yang dilakukan oleh International Study on Adult Crying, orang-orang Jepang adalah yang paling jarang menangis dibandingkan penduduk dari 37 negara lain.  

(Baca juga: Mengapa Wanita Lebih Sering Menangis daripada Pria?)

Ketika ditanya apa alasannya mendirikan bisnis jasa tersebut, Terai mengatakan, ia melihat adanya kebutuhan konseling pasangan Jepang yang baru saja mengalami perceraian. Salah satu cara mengatasi kesedihannya adalah dengan air mata.

Terai menemukan fakta bahwa dalam kasus perceraian, perempuan lah yang memutuskan untuk berpisah. Kebanyakan pria Jepang bekerja lebih dari 14 jam sehari, juga pada akhir pekan. Masa ‘berkabung’ mereka dihabiskan dengan bermain golf atau tidur sepanjang hari untuk memulihkan fisik sebelum menyambut minggu kerja  selanjutnya. Oleh sebab itu, ‘jasa menangis’ ini tadinya ditujukan untuk perempuan bercerai yang sedang terluka.

“Ada kegembiraan yang muncul setelah meluapkan tangisan. Sebagai penulis, Terai sudah melakukan riset mengenai manfaat menangis. Ia lalu mengembangkan teknik agar orang-orang bisa mengekspresikan tangisannya. Terai akhirnya mendirikan bisnisnya pada 2015,” jelas Thoms.

Kekuatan daya tarik

Lalu, mengapa memilih pria tampan? “Terai mengatakan, banyak orang berperilaku berbeda di sekitar orang-orang yang mereka minati. Dan pengalaman emosional akan semakin meningkat di tengah seseorang yang kita anggap menarik,” cerita Thoms.

“Pelebaran pupil dan denyut jantung yang lebih cepat merupakan tanda kelegaan dari pengalaman menangis,” tambahnya.

Menurut Thoms, tanda kelegaan tersebut benar-benar terpancar dari wajah para perempuan Jepang setelah menyelesaikan sesi menangis mereka. “Rasa senangnya sangat terasa. Mereka semua tersenyum, terlihat antusias, dan tampak santai – bahkan cukup cerewet setelahnya,” kata Thoms.

(Baca juga: Dengan Menemukan Ikigai, Hidup Jadi Lebih Bermakna?)

Ryeui-san juga menyebutkan bagaimana ia bisa merasakan perubahan pada orang ia bantu menangis. Menurut Ryeui-san, perasaan mereka menjadi lebih baik. Persis seperti perasaan penonton setelah mendengarkan pertunjukkan live music.

Melihat manfaat positifnya, Terai pun melakukan terapi menangis seminggu sekali. Ia percaya, meluapkan tangisan bisa membantu lebih rileks dan menyiapkan diri menyambut hari-hari selanjutnya.

“Pada masyarakat Jepang, di mana kebanyakan orang – terutama wanita dengan pekerjaan yang penuh tekanan – tidak memiliki pasangan untuk pulang dan menjadi tempat meredakan stres, membuat kebutuhan mereka tidak terpenuhi. Bisnis Ikemeso Takyyubin yang didirikan Terai ini berusaha untuk mengisi kekosongan tersebut,” papar Thoms. 

(Gita Laras Widyaningrum/ Sumber: Austa Somvichian-Clausen/National Geographic)

KOMENTAR