Demam Antariksa, Demam yang Hanya Dialami oleh Astronaut
2018 / Januari / 9   11:31

Demam Antariksa, Demam yang Hanya Dialami oleh Astronaut

Para peneliti menemukan kondisi tersebut setelah merekam suhu tubuh 11 astronaut sebelum, selama, dan sesudah menjalani misi di International Space Station (ISS

Demam Antariksa, Demam yang Hanya Dialami oleh AstronautTiga orang astronaut tengah menyantap sayur selada, sayur pertama yang berhasil ditanam di stasiun antariksa ISS. (NASA Livestream)

Sebuah studi baru membeberkan kondisi aneh yang menyerang astronaut ketika menjalani misi ruang angkasa selama 2,5 bulan atau lebih.

Disebut demam antariksa, para peneliti menulis bahwa keadaan tak berbobot di lingkungan bergravitasi rendah menyebabkan suhu tubuh meningkat satu derajat celcius.

Para peneliti menemukan kondisi tersebut setelah merekam suhu tubuh 11 astronaut sebelum, selama, dan sesudah menjalani misi di International Space Station (ISS).

Baca juga: Mengapa Minum Alkohol Dapat Picu Kanker? Berikut Penjelasannya

Dipaparkan dalam publikasi di jurnal Scientific Report; mereka mendeteksi bahwa ketika berolahraga di ISS, suhu tubuh astronaut sering kali melebihi 40 derajat celcius. Padahal, suhu tubuh normal manusia adalah 37 derajat celcius dan kenaikan satu derajat saja berpotensi mengancam nyawa.

Deviasi suhu juga terdeteksi ketika astronaut beristirahat, yakni 38 derajat celcius.

Menurut para peneliti, demam antariksa disebabkan oleh kondisi tanpa gravitasi di luar angkasa yang membuat astronaut sulit berkeringat, dan keringat sulit menguap.

Hanns-Christian Gunga, pakar pengobatan ruang angkasa di klinik Charite yang memimpin studi berkata bahwa dalam kondisi tak berbobot, tubuh kita kesulitan memindahan kelebihan panas tubuh ke lingkungan.

Dari penemuan ini, para peneliti menulis bahwa demam antariksa, berpotensi memiliki dampak terhadap misi panjang, terutama dari kondisi kesehatan, kesejahteraan, dan dukungan astronaut.

Baca juga: Mencium Wangi Baju Pasangan Bisa Mengurangi Stres

Fenomena ini, imbuh para peneliti, akan berdampak pada masyarakat masa depan yang menjelajah ruang angkasa dan kemampuan manusia untuk beradaptasi dengan perubahan iklim.

Artikel ini sudah pernah tayang pada Kompas.com. Baca artikel sumber.

(Shierine Wangsa Wibawa/Kompas.com)

KOMENTAR