Benarkah Orang Baik Rentan Depresi?
2018 / Januari / 5   10:28

Benarkah Orang Baik Rentan Depresi?

Menurut sebuah penelitian, orang-orang yang baik hati cenderung lebih sering menunjukkan gejala depresi dibanding mereka yang egois.

Benarkah Orang Baik Rentan Depresi?Berpelukan bisa mengurangi stres dan depresi, hingga meningkatkan suasana hati jadi lebih baik. (Huffington Post)

Bersikap baik pada orang lain adalah hal yang harus kita lakukan agar tidak menimbulkan permusuhan. Namun, riset baru menunjukan bahwa beberapa sikap baik bisa berdampak buruk pada diri sendiri.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Human Behavior, orang-orang yang baik- mereka yang peka terhadap ketidakadilan atau ketidaksetaraan sosial - lebih cenderung menunjukkan gejala depresi daripada orang-orang yang cenderung egois.

Riset yang dipimpin oleh Dr. Masahiko Haruno tersebut meneliti kaitan pola pikir orang-orang yang dianggap pro-sosial - mereka yang rela berkorban demi keadilan dan kesetaraan - dengan gejala klinis depresi jangka panjang.

(Baca juga: Voluntourism, Berwisata Sambil Beramal)

Percobaan dilakukan dengan meneliti kepribadian 350 orang untuk menentukan apakah mereka masuk kategori 'pro-sosial' atau 'individualis'. Peneliti juga mengukur keinginan orang untuk saling berbagai kepada mereka yang kurang beruntung dari segi keuangan.

Mereka memeriksa otak peserta riset yang telah dikelompokan dalam kategori 'pro-sosial dan 'individualis; menggunakan magnetic resonance imaging (MRI). Hal ini dilakukan untuk melihat area otak mana yang aktif selama situasi tertentu.

Hasilnya, terdapat perbedaan pada gambaran otak pada dua tipe ini. Saat memberikan uang kepada mereka yang kurang beruntung, orang-orang pro-sosial menunjukan aktivitas tinggi di amigdala (wilayah evolusioner otak yang terkait dengan perasaan otomatis, termasuk stres).

Sementara itu, aktivitas amigdala pada tipe individualis meningkatkan hanya jika orang lain menerima lebih banyak uang. Pada bagian hippocamus - daerah otak lainnya yang terlibat dengan respon stres - juga memiliki perbedaan.

Para peneliti kemudian menindaklanjuti temuan ini dengan kuesioner depresi umum yang disebut Inventaris Depresi Beck untuk melihat apakah pola aktivitas otak ini terkait dengan gejala depresi dalam dua minggu sebelumnya.

Hasilnya, pola prososial yang meningkatkan aktivasi otak ini dikaitkan dengan kecenderungan depresi. Hal yang sama juga terjadi pada peserta riset setelah peneliti mengulang kembali riset ini setahun kemudian.

Menurut para peneliti, orang yang masuk dalam kategori 'baik' lebih rentan terhadap depresi karena mereka lebih cenderung mengalami empati, rasa bersalah, dan stres yang ekstrem.

Kepekaan emosional ini juga dihubungkan ke daerah terdalam dan paling otomatis di otak - tempat yang mudah memicu depresi.

(Baca juga: Kepedulian Anak Indonesia terhadap Lingkungan Tinggi)

Sebaliknya, Mauricio Delgado, seorang neuroscientist di Rutgers University mengatakan bahwa ada banyak bagian otak lainnya yang terlibat dalam depresi.

"Meskipun rata-rata mereka yang pro-sosial mungkin memiliki amigdala dan hippocampus yang sensitif, ada banyak daerah otak orde tinggi lainnya yang terlibat dalam depresi, termasuk korteks prefrontal, daerah otak terkait dengan pengaturan perasaan otomatis ini," ucapnya.

Dengan melatih proses otak tingkat tinggi (seperti korteks prefrontal) melalui terapi bicara, mereka yang pro-sosial dapat belajar mengendalikan dan melawan emosi utama.

Semakin mereka dapat menggunakan korteks pra-frontal untuk mengurangi tekanan berbasis amigdala, semakin kecil kemungkinannya untuk jatuh dalam depresi.

Walau begitu, janganlah khawatir berbuat baik dan peduli pada sesama. 

Artikel ini pernah tayang di Kompas.com. Baca artikel sumber.

(Ariska Puspita Anggraini/Kompas.com)

KOMENTAR