Belajar dari Nelayan Wakatobi: Pengetahuan Ekologi Bisa Selamatkan Dugong
2018 / Januari / 11   09:41

Belajar dari Nelayan Wakatobi: Pengetahuan Ekologi Bisa Selamatkan Dugong

Untuk memantau dugong, peneliti biasanya menggunakan survei udara atau pesawat tak berawak. Namun, teknik ini mahal. Maka, peran nelayan lokal sangat penting.

Belajar dari Nelayan Wakatobi: Pengetahuan Ekologi Bisa Selamatkan DugongDugong (Jin Kemoole/flickr.com)

Dari pengetahuan tentang tempat hewan hidup hingga jenis tumbuh-tumbuhan yang menyediakan manfaat medis, berbagai masyarakat di seluruh dunia memiliki tingkat pengetahuan ahli mengenai lingkungan hidup lokal mereka.

Secara umum, penyelidikan ilmiah memberikan informasi yang presisi dan terukur, dihimpun dalam waktu pendek. Tapi “pengetahuan ekologi lokal ” ini terbentuk dari pengamatan-pengamatan yang dihimpun dalam waktu yang sangat lama, yang sering kali diwariskan dari generasi ke generasi. Pengetahuan semacam itu bisa berupa hal-hal sederhana, seperti mengetahui tempat-tempat terbaik untuk menangkap ikan, bisa juga meliputi peristiwa-peristiwa yang langka atau ekstrem, seperti banjir atau periode cuaca buruk.

Bagi masyarakat pantai yang bergantung pada sumber daya lautan, akumulasi pengetahuan ekologi ini adalah kunci untuk mengumpulkan makanan dan menyambung penghidupan. Tapi pengetahuan ekologi masyarakat tidak mesti, dan memang tidak, berdiri terpisah dari sains. Pengetahuan itu sudah berulang kali “diuji” para ilmuwan, dan kini semakin diakui sebagai aset berharga dalam pengelolaan lingkungan dan biologi konservasi.

(Baca juga: Nahas, 3 Ekor Lumba-lumba Ditangkap dan Disatukan dengan Puluhan Ekor Hiu)

Pada tahun-tahun belakangan, pengetahuan lebih luas tentang nilai tersebut menyebabkan pengetahuan lokal dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan sumber daya alam. Pengetahuan lokal itu telah digunakan untuk membantu merancang kawasan lindung maritim, misalnya di Myanmar dan Filipina.

Dengan memadukan keduanya, pengetahuan lokal bisa menjadi alat yang berguna di kawasan yang miskin data. Terutama dalam hal pemantauan spesies langka atau terancam punah.

Menyelamatkan dugong

Dugong adalah mamalia besar laut yang nyaris hanya makan rumput laut – rumpur laut itu sendiri adalah spesias tumbuhan yang terancam punah. Saat ini dugong dicatat sebagai “rawan punah” dalam daftar merah International Union for the Conservation of Nature. Ancaman-ancaman utama bagi populasi dugong meliputi hilangnya habitat, pembangunan kawasan pantai, polusi, aktivitas pengangkapan ikan, ditabrak kapal dan perburuan atau penangkapan yang tidak bertanggung jawab.

Dugong diperkirakan hanya ada dalam kelompok-kelompok kecil terfragmentasi di luar populasi primernya di Australia. Walau dugong masih bisa ditemukan di perairan pantai lebih dari 40 negara di seluruh Indo-Pasifik Barat, informasi ilmiah yang akurat sangat jarang dan sering cuma bersifat anekdot. Guna mendukung sebagaimana semestinya perlindungan terhadap hewan rawan punah ini, kita perlu mengetahui di mana mereka berada.

Untuk memantau populasi dugong, para peneliti biasanya menggunakan survei udara atau pesawat tak berawak. Tapi teknik ini mahal, dan sering dihambat oleh kondisi-kondisi sulit seperti air yang tertutup awan dan silau sinar matahari. Lagi pula, teknik-teknik itu hanya memberikan rekaman singkat apa yang mungkin terjadi di tempat tertentu pada satu waktu.

Di sinilah pengetahuan ekologi lokal bisa sangat bermanfaat. Jika ada, pengetahuan itu berpotensi menyediakan detail tentang keberadaan dan jumlah dugong yang terlihat.

Upaya-upaya Indonesia

Di Indonesia, dugong dilindungi tapi terdapat informasi yang tidak bisa diakses tentang jumlah populasi atau jangkauan geografis mereka. Walau pemerintah tampak berkomitmen untuk melestarikan spesies ini, ada pula semakin banyak bukti tentang penyusutan pesat padang rumput laut di Indonesia karena berbagai macam ancaman termasuk penangkapan ikan secara berlebihan.

Tapi nelayan bukanlah musuh dugong, bahkan mereka bisa menjadi penyelamat dugong. Penelitian kami yang diterbitkan baru-baru ini memanfaatkan pengetahuan para nelayan untuk mengonfirmasi daya tahan dugong di Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Para nelayan, yang menjelajahi perairan itu setiap hari, mampu menyampaikan waktu, masa, dan lokasi yang tepat banyak penampakan dugong, bahkan sampai pada 1942. Para nelayan itu memiliki pengetahuan yang jauh melampaui catatan riset resmi yang mana pun dan mampu mendeskripsikan kecenderungan historis dan perubahan populasi sebelumnya yang tidak tercatat.

(Baca juga: Lima Tips Snorkeling Ramah Lingkungan untuk Wisatawan)

Ini bukan kali yang pertama pengetahuan ekologi yang dimiliki masyarakat lokal semacam itu digunakan untuk melestarikan spesies, juga tidak akan menjadi yang terakhir. Contoh-contoh lainnya meliputi pelestarian populasi paus Baleen yang terancam punah di Kepulauan Falkland (Samudra Atlantik Selatan), dan ikat air tawar langka di Sungai Mekong.

Menggunakan sains dan pengetahuan ekologi masyarakat lokal juga membuat kita bisa melakukan lebih banyak dari sekadar menyelamatkan satu spesies dalam satu waktu. Lautan adalah sebuah ekosistem, dan tiap tumbuhan, hewan atau makhluk-makhluk lain saling mengandalkan.

The ConversationPelestarian dugong dan rumput laut, misalnya, berjalan beriringan. Untuk mendapatkan informasi lebih baik tentang persebaran populasi dugong, kita juga harus tahu persebaran dan status rumput laut. Dan dengan mengintegrasikan jenis-jenis informasi ini, kita bisa mulai menyelamatkan lautan.

Leanne Cullen-Unsworth, Research Fellow, Cardiff University; Benjamin L. Jones, Research Associate at the Sustainable Places Research Institute, Cardiff University, dan Richard K.F. Unsworth, Research Officer, Swansea University

Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca artikel sumber.

(Leanne Cullen-Unsworth, Benjamin L. Jones, Richard K.F. Unsworth/theconversation.com)

KOMENTAR