Badak Berambut Wol dari Zaman Es Direkonstruksi Kembali
2018 / Januari / 26   18:00

Badak Berambut Wol dari Zaman Es Direkonstruksi Kembali

Para peneliti merekonstruksi Sasha, badak berambut wol dari Zaman Es yang sudah punah, menggunakan sisa-sisa tubuhnya yang ditemukan pada 2015.

Badak Berambut Wol dari Zaman Es Direkonstruksi KembaliSekelompok ilmuwan dari Paleontological Institute at the Russian Academy of Sciences dan Sakha Academy of Sciences, di Rusia, mengambil sekelumit sisa tubuh Sasha untuk ‘menghidupkannya kembali’. (Anastasia Loginova/Siberian Times)

Badak berambut wol ini diberi nama Sasha – sesuai dengan pemburu yang menemukannya.

Para ilmuwan Rusia belum yakin apakah hewan berusia 10 ribu tahun ini perempuan atau laki-laki. Namun, mereka mengatakan, nama Sasha cukup universal untuk mewakili keduanya.

Ditemukannya tubuh Sasha yang utuh cukup mengejutkan bagi para peneliti. Tidak seperti mamut berambut yang juga hidup pada Zaman Es, sisa-sisa badak berambut wol ini sangat langka untuk ditemukan. Posisi mereka di garis waktu evolusioner kurang jelas. Dan gaya hidup – apa yang dimakan dan bagaimana mereka bertahan juga masih samar.

Merekonstruksi Sasha

Desember lalu, sekelompok ilmuwan dari Paleontological Institute at the Russian Academy of Sciences dan Sakha Academy of Sciences, di Rusia, mengambil sekelumit sisa tubuh Sasha untuk ‘menghidupkannya kembali’.

(Baca juga: Tak Lama Lagi, Mamut Akan "Bangkit" dari Kepunahan)

Sisa tubuhnya yang berwarna abu-abu ketika ditemukan, sudah dibersihkan. Para ilmuwan terkejut mengetahui warna asli badak muda ini ternyata seperti stroberi terang.

Analisis dari gigi Sasha menunjukkan bahwa ia mati ketika berusia tujuh bulan.

Sisa tubuh Sasha yang ditemukan ...Sisa tubuh Sasha yang ditemukan pada 2015. (Sakha Academy of Sciences/Siberian Times)

Ini juga menjadi hal yang mengejutkan bagi para ilmuwan. Menurut mereka, Sasha terlalu besar untuk ukuran badak berusia tujuh bulan. Ia memiliki panjang hampir lima kaki dan tingginya sekitar dua setengah kaki. Badak modern di Afrika biasanya tidak mencapai ukuran tersebut hingga berusia 18 bulan.

Olga Potapova merupakan peneliti di The Mammoth Site of Hot Springs South Dakota, sebuah organisasi penelitian dan pelestarian. Bidang kerjanya berfokus pada mamalia besar yang sudah punah dari Zaman Es. Saat ini, ia sedang meneliti Sasha. Meskipun begitu, Potapova mengatakan, ia belum bisa memberikan banyak informasi tentang badak berbulu wol itu.

Apa yang bisa ia diskusikan adalah betapa pentingnya penemuan ini bagi pemahaman ilmuwan tentang periode waktu hidup spesies Coelodonta antiquitatis tersebut. Potongan tubuh – seperti tulang gigi -- dari badak berambut wol lain sebenarnya sudah ditemukan. Namun, hanya bagian tubuh bayi badak Sasha yang paling lengkap.

“Penemuan ini memungkinkan para ilmuwan untuk menyoroti berbagai sisi biologis dan morfologis badak berambut wol,” kata Potapova. Artinya, mereka bisa mempelajari bagaimna ia berkembang – apa yang dimakan dan yang membedakannya dengan badak saat ini.  

Petunjuk dari Zaman Es

Sisa-sisa tubuh Sasha pertama kali ditemukan pada 2015 di lapisan permafrost tepian sungai Siberia. Sesuai namanya, permafrost merupakan daratan yang sudah membeku lebih dari dua tahun berturut-turut. Namun, di Siberia, itu bisa diartikan sebagai tanah yang membeku selama ribuan tahun.

(Baca juga: Peneliti Buktikan Makhluk Mitologi Unicorn Nyata)

Wilayah tersebut diketahui hanya ditinggali oleh badak berambut wol. Salah satu misteri mengenai spesies tersebut adalah mengapa mereka tidak menyebrangi jembatan Bering – yang dahulu menghubungkan timur laut Rusia dan Alaska.

Mamut berambut, bison, rusa kutub dan spesies lain diketahui menyebrangi jembatan tersebut pada Zaman Pleistosen.

Akhir yang misterius

Para peneliti memiliki sedikit teori mengapa badak berambut wol ini punah. Namun, tanpa penjelasan yang kuat.

Sebuah studi yang dipublikasikan pada Agustus tahun lalu menyatakan bahwa mereka punah akibat kelainan genetik. Dari sisa fosil yang ditemukan, terdapat rusuk leher serviks, sebuah kondisi yang berkaitan dengan cacat lahir. Studi ini juga mengungkapkan bahwa perkawinan sedarah menjadi penyebab kepunahan.

(Baca juga: Diduga Punah 100 Tahun, Jenis Marsupial Ini Ternyata Masih Hidup)

Sementara itu, Potapova memiliki dua teori yang menjelaskan mengapa spesies badak berambut wol mati.

Pertama, perubahan iklim memengaruhi habitat para herbivora, yang akhirnya menyebabkan kepunahan karnivora besar seperti singa gua. Teori kedua, badak berambut wol punah karena dibunuh oleh manusia.

Fosil Sasha tidak bisa member tahu ilmuwan mengapa spesiesnya punah. Namun, Potapova mengatakan, temuan itu tetap penting karena menambah potongan puzzle tentang badak berambut wol. 

(Gita Laras Widyaningrum. Sumber: Sarah Gibbens/National Geographic)

KOMENTAR