Patah Hati Memicu Kondisi Seperti Serangan Jantung
2017 / Desember / 15   11:25

Patah Hati Memicu Kondisi Seperti Serangan Jantung

Patah hati atau tekanan emosional yang parah dapat memicu kondisi serupa dengan serangan jantung. Ini akan menimbulkan kerusakan jangka panjang pada jantung.

Patah Hati Memicu Kondisi Seperti Serangan JantungIlustrasi (Thinkstock)

Tidak selamanya setiap hubungan percintaan akan berada dalam fase yang menyenangkan. Setiap kisah cinta bisa juga diwarnai fase patah hati.

Nah, kabar buruknya, patah hati atau tekanan emosional yang parah dapat memicu kondisi serupa dengan serangan jantung, yang menimbulkan kerusakan jangka panjang pada jantung.

Takotsubo cardiomyopathy atau sindrom patah hati ini umumnya dipicu oleh pengalaman traumatis antara lain putus dengan pasangan. Dalam kondisi yang parah, otot jantung menjadi lemah dan tidak lagi berfungsi dengan baik.

(Baca juga: Serangan Jantung Bisa Terjadi Saat Tidur, Kenali Gejalanya)

Bila penelitian sebelumnya menyatakan bahwa kerusakan yang terjadi hanya bersifat sementara, hal tersebut kini dibantah oleh para ilmuwan di University of Aberdeen. Mereka menemukan fakta bahwa efeknya dapat bersifat permanen, seperti serangan jantung.

Dalam studi yang didanai oleh British Heart Foundation (BHF), tim dokter memeriksa 37 pasien Takostubo selama sekitar 2 tahun dengan menggunakan pemindaian ultrasound dan MRI.

Temuan yang dipresentasikan di American Heart Association Scientific Sessions di California ini mengungkapkan bahwa para partisipan memiliki kerusakan yang tidak dapat diobati pada jaringan otot jantung, karena berkurangnya elastisitas. Kurangnya elastisitas ini membuat jantung tidak berdetak secara maksimal.

Studi lain yang dilakukan oleh Harvard Medical Schoolmenyebutkan, lebih dari 90 persen pasien kasusTakotsubo yang dilaporkan adalah wanita berusia antara 58 dan 75 tahun.

(Baca juga: Makanan yang Dapat Menurunkan Risiko Penyakit Jantung)

"Takotsubo adalah penyakit yang dapat menyerang orang sehat dengan efek merusak," jelas Profesor Jeremy Pearson, associate medical director di BHF.

"Kami pernah mengira dampak dari penyakit yang mengancam jiwa ini bersifat sementara, tapi sekarang kami melihat bahwa efeknya terus mempengaruhi orang selama sisa hidup mereka," tambahnya.

Pearson menambahkan bahwa saat ini tidak ada perawatan jangka panjang untuk pasien "patah hati" ini karena petugas medis sebelumnya mengira semua penderita akan sembuh total.

"Penelitian baru ini menunjukkan ada efek jangka panjang pada kesehatan jantung, dan menyarankan agar kita merawat pasien dengan cara yang serupa dengan orang yang berisiko mengalami gagal jantung," pungkasnya.

Artikel ini pernah tayang di Kompas.com. Baca artikel sumber.

(Ariska Puspita Anggraini/Kompas.com)

KOMENTAR