Obat Bius Ketamin Bisa Mencegah Keinginan Bunuh Diri Pada Pengidap Depresi

Obat Bius Ketamin Bisa Mencegah Keinginan Bunuh Diri Pada Pengidap Depresi

Ketamin dianggap lebih efektif untuk mencegah pemikiran bunuh diri dibanding obat penenang tradisional. Penemuan ini diharapkan bisa membantu penderita depresi.

Obat Bius Ketamin Bisa Mencegah Keinginan Bunuh Diri Pada Pengidap DepresiIlustrasi bunuh diri. (Thinkstock)

Menurut penelitian terbaru, satu dosis ketamin bisa mencegah pemikiran bunuh diri pada penderita depresi berat. Ia dianggap lebih efektif dibanding obat penenang tradisional yang selama ini digunakan.

Beberapa studi sebelumnya memang menunjukkan bahwa obat anestesi efektif sebagai antidepresan. Namun, penelitian terbaru dari Columbia University Medical Center, lebih merujuk kepada pemikiran bunuh diri dan bagaimana pengaruh positif ketamin dalam kurun waktu 24 jam.

Meskipun terlalu dini untuk mengatakan bahwa ketamin sangat sempurna sebagai solusi pencegahan bunuh diri, namun ia benar-benar menjanjikan bagi penderita depresi yang belum sembuh dan masih bertahan dengan pengobatan lama.

“Studi ini menunjukkan bahwa ketamin bisa bertindak dengan cepat untuk mengurangi pemikiran bunuh diri pada pasien depresi,” kata Michael Grunebaum, psikiater sekaligus pemimpin penelitian ini.

“Penelitian lanjutan untuk mengevaluasi ketamin dan efek ‘anti bunuh diri’-nya dapat membuka jalan bagi pengembangan obat antidepresan baru yang bertindak lebih cepat. Ini bisa membantu orang-orang yang belum sembuh dengan pengobatan yang ada saat ini,” paparnya.

(Baca juga: 5 Faktor Umum Pemicu Bunuh Diri yang Berasal dari Kesehatan Mental)

Dikembangkan sebagai obat bius pertama, ketamin pernah digunakan untuk merawat para tentara di medan perang. Meskipun begitu, ia juga dikenal sebagai obat terlarang karena memberikan euforia dan halusinasi nyata. Pada beberapa kasus ekstrem, ketamin bahkan bisa menyebabkan koma hingga kematian.

Seiring berjalannya waktu, para dokter mulai mengeksplor bagaimana obat ini bisa mengatasi depresi jika digunakan dalam dosis rendah.

Sebuah studi di tahun lalu, menemukan fakta bahwa ketamin memperbaiki mood ¾ pasien.

Untuk penelitian baru ini, ketamin dengan dosis rendah dibandingkan dengan obat penenang midazolam, pada 80 partisipan yang memikirkan untuk bunuh diri.

Setelah 24 jam, ketamin ternyata signifikan untuk mengontrol pemikiran tersebut. Bahkan, efek positif mencegah bunuh dirinya masih ada hingga enam minggu setelah pemberian dosis pertama. Tentunya dengan bantuan perawatan psikiater di waktu yang bersamaan.

Melihat hal di atas, dapat disimpulkan bahwa ketamin memiliki beberapa manfaat: ia bekerja dengan cepat, efeknya berlangsung dalam waktu lama, dan aman digunakan jika sesuai dengan dosis yang dianjurkan.

“Antidepresan yang ada saat ini sebenarnya juga efektif untuk mencegah pemikiran bunuh diri, tapi efeknya baru terasa beberapa minggu kemudian. Sementara, pasien depresi yang memiliki pemikiran tersebut harus dicegah dengan cepat agar tidak membahayakan dirinya sendiri,” tambah Grunebaum. 

Lalu, apakah dokter sudah boleh memberi resep ketamin bagi mereka yang memiliki keinginan bunuh diri? Ini belum diputuskan. Sebab, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

(Baca juga: Penyakit Mental dan Industri Hiburan)

Pertama, ketamin diketahui bisa meningkatkan tekanan darah dan membuat seseorang merasa linglung. Oleh sebab itu, penggunaannya perlu dimonitor lagi.

Kedua, jika diaplikasikan sendiri, tanpa tambahan perawatan lainnya, efek antidepresan ketamin diperkirakan akan berlangsung sekitar seminggu. Ini akan menyulitkan perawatan rutin melalui jarum atau kateter.

Ketiga, penggunaan ketamin sebagai antidepresan belum secara resmi diizinkan oleh pemerintah. Masih menunggu persetujuan dari Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat.

Namun, bagaimana pun juga, penelitian yang dipublikasikan pada American Journal of Psychiatry ini menunjukkan bahwa ketamin akan membantu pengidap depresi yang belum sembuh dari pengobatan yang dilakukan selama ini.

(Gita Laras Widyaningrum/Sumber: sciencealert.com)

KOMENTAR