Kisah Mangrove Jakarta dan Burungnya yang Nyaris Tinggal Cerita
2017 / Desember / 14   01:08

Kisah Mangrove Jakarta dan Burungnya yang Nyaris Tinggal Cerita

Kerusakan mangrove Muara Angke, Jakarta, berdampak pada burung bangau bluwok (Mycteria cinereal) dan bubut jawa (Centropus nigrorufus).

Kisah Mangrove Jakarta dan Burungnya yang Nyaris Tinggal CeritaMangrove berperan sebagai penyangga kehidupan untuk air, tanah dan udara. Di samping itu juga berfungsi sebagai penyerap karbon, tempat hidup ikan dan burung. (Aulia Erlangga/National Geographic Indonesia)

Dari total luas 16,5 juta hektar mangrove dunia, 23 persennya ada di Indonesia, dengan luas sebesar 3,48 juta hektar yang tersebar di 257 kabupaten/kota.

Sayangnya, sebab kondisi mangrove mengkhawatirkan. Dari jumlah tersebut, hanya 1,67 hektare dalam kondisi baik. Sisanya, 1,81 hektare mangrove dalam kondisi rusak.

Hal ini berakibat pada berbagai biota yang mengantungkan hidupnya pada hutan payau, yakni 257 spesies fauna di darat dan laut, serta 157 jenis flora.

Salah satu flora yang ikut merugi akibat rusaknya mangrove adalah burung, hewan yang juga sangat Beragam di Indonesia.

Keragaman jenis burung Indonesia menduduki urutan keempat dunia setelah Peru, Brazil, dan Kolombia, dengan 1769 jenis.

Kepala Komunikasi dan Pengembangan Kelembagaan Burung Indonesia, Ria Saryanthi mengatakan, terdapat 259 jenis burung migran yang hidup di area mangrove.

“Dari 259 jenis burung, rata-rata burung perancah yang tergantung pada huntan mangrove. Kalau mangrove rusak, mereka bisa kehilangan tempat makannya, tempat bernaung, dan berkembang biak,” kata Ria di Jakarta, Selasa (12/12/2017).

Ria mencontohkan, kerusakan mangrove Muara Angke, Jakarta, berdampak pada burung bangau bluwok (Mycteria cinereal) dan bubut jawa (Centropus nigrorufus).

International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan bangau bluwok sebagai spesies yang terancam punah.

Bangau bluwok juga tak boleh diperdagangkan secara internasional. Di Indonesia, keberadaan Bangau bluwok termasuk hewan yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Lalu, bubut Jawa yang bertubuh kecil juga termasuk dalam kondisi rentan oleh IUCN. Hewan ini termasuk endemik di Indonesia, jika habitatnya semakin rusak bukan tak mungkin Bubut Jawa akan punah.

Kemudian, mangrove di Pulau Dua, Jakarta berperan terhadap bangau bluwok, Cikalang Christmas (Fregratta andrewsi), dan kacamata jawa(Zosterops flavus). Cikalang christmas ditetapkan sebagai burung yang terancam punah. Kacamata jawa populasinya termasuk rentan.

Deretan nama burung yang terancam semakin bertambah bila menengok ke Muara Gembong, Jakarta.

Selain bangau bluwok, kacamata jawa, dan bubut jawa, bangau tongtong (Leptoptilos javanicus), serta gelatik jawa (Lonchura oryzivora) juga terancam jika habitatnya tak kunjung membaik. Dua hewan itu ditetapkan sebagai kelompok rentan oleh IUCN.

“Kalau tidak ada lagi tempatnya untuk mereka, saya pikir mereka akan kehilangan tempat singgah dan tidak bertahan dalam waktu panjang,” kata Ria.

Bagi kita yang tinggal di perkotaan, menurut Ria, cara termudah untuk ikut melindungi burung-burung itu adalah dengan menggunakan plastik secara bijak dan mengurangi penggunaannya.

“Sampah laut membuat burung kesulitan mencari makan. Lebih mudah kalau airnya jernih. Ada penelitian yang mengungkap ditemukan plastik di perut burung,” kata Ria.

Artikel ini sudah pernah tayang di Kompas.com. Baca artikel sumber.

(Lutfy Mairizal Putra/Kompas.com)

KOMENTAR